"Ini aku beliin oleh-oleh" Sarma membuka tas ranselnya saat kembali tiba di rumah. pelarian tiga hari nya usai sudah, rasa pegal dan sakit dipunggung membuat jalannya kaku, rasanya lelah harus menggendong tas seberat delapan kilo. Sarma harus menahan semua sambil kembali ke rutinitas yang memuakan baik di rumah maupun di kantor.
"Iya tarok disana saja" Janu menunjuk ke ranjang di kamar.
"Aku mandi dulu" Sarma memberi tahu sambil berlalu di depan Janu yang sibuk mencuci piring
Sarma dan Janu memang sudah bertukar peran, semenjak Janu sudah tidak bekerja sejak jadi korban PHK saat Covid-19 melanda, Sarma menjadi satu-satunya pencari nafkah. Mereka berdua memang belum punya anak, namun sebagai perempuan kadang Sarma merasa keberatan, kesusahan dan ego pun muncul bahwa "Sang pencari nafkah" ini tidak sekedar seorang "istri".
Janu yang pemarah sedikit demi sedikit menurunkan ego, sebagai seorang yang pembersih dia memang banyak menghandle pekerjaan beres-beres rumah dan halaman, menyapu, mencuci pakaian hingga belanja ke pasar kadang ia lakukan, Sarma? Sarma hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak dikuasai Janu yakni memasak dan menyetrika pakaian.
Sarma yang semula mau bersusah payah memasak di pagi hari atau membelikan makan siang untuk Janu saat jam istirahat, kini tak lagi ia lakukan. Janu yang dulu mungkin marah dan menuntut banyak waktu Sarma kini tak lagi begitu.
Sarma tahu ini kurang baik, tapi semakin hari ia merasa Janu sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berubah, Janu tak mau mencari pekerjaan, dia merasa tidak cocok menjadi pegawai namun saat Sarma membantu Janu membangun usaha dan gagal justru Sarma yang disalahkan, ingat beberapa tahun yang lalu Sarma harus membayar hutang ke bank, hutang itu untuk membantu Janu membuka toko kelontong, namun hutang belum lunas toko sudah tutup karena banyak merugi.
Sarma duduk di depan meja rias sehabis mandi, dia merasa akhir-akhir ini keinginan untuk berpisah kian besar. sepanjang pernikahan Sarma mencoba menerima semua perlakuan buruk Janu, Sarma merasa tidak bebas di rumahnya sendiri, semua keputusan di tangan Janu, Sarma sebenarnya sudah menyerahkan semuanya ke Janu, karena kalau terjadi sesuatu yang buruk dan itu karena pihan Sarma, Janu akan sangat marah dan menuduh Sarma habis-habisan. Jangankan keputusan Sarma, yang bukan pun akan tetap jadi salah Sarma.
"Kita pinjamin saja, gak papa asal dia mau bayar" ucap Janu kala itu, saat Sarma cerita soal Jeni temannya yang harus membayar hutang ke kantor karena uang kegiatan yang sedang dipegangnya hilang. Kehilangan uang itu membuat Jeni stres, jumlahnya cukup besar 20 juta, Tadinya Jeni hanya bercerita karena kantor minta diganti segera namun tidak ada pinjaman secepat pinjaman PNS ke bank dengan agunan SK.
Sebenarnya Sarma ingin membantu sejak Jeni bercerita, namun dia ragu dengan sikap Janu nanti, uang segitu cukup besar buat mereka namun Jeni merupakan teman kerja Sarma sampai sepuluh tahun terakhir ini.
"Yakin yang? tanya Sarma kala itu
"Iya, tanya dulu sama dia sanggup bayar berapa tahun?, kalau bisa jangan lama-lama" Sarma yang tidak begitu paham perhitungan mencoba menjembatani komunikasi Janu yang terlihat serius membantu.
Dengan perhitungan yang matang, Janu, Sarma dan Jeni menyepakati untuk meminjam uang ke bank, saat itu pinjaman 20 juta diangsur Jeni selama setahun, dengan tatapan dan perkataan meyakinkan Jeni berhasil membawa 20 juta dn berjnji mengangsurnya selama setahun, seperti angsuran yang harus dibayar Sarma langsung dipotong dari gajinya tiap bulan.
"Anjing, kamu sama teman mu sama aja" pekik Janu subuh itu, sudah tujuh bulan angsuran pinjaman Jeni, dari bulan ke tiga Jeni sudah sering telat membayar dan harus ditagih terlebih dahulu
Sarma hanya bisa menahan air mata, "Suruh cepat dia bayar, tiap bulan telat terus, ngomongnya bagus mau bayar on time" Sarma kesal
"Kan sayang sendiri yang mau minjemin kemarim!" Janu melotot kejam, dia marah sudah sejak kemarin sore hingga subuh. keuangan kami memang jadi terbatas semenjak harus dipotong bank lagi, padahal hutang bank baru saja lunas sebulan sebelum Jeni kehilangan uang.
"Salah kamu kenapa bercerita waktu itu" pekik Janu lagi
"Lah, aku kan cuma cerita, aku gak minta buat nolongin dia"
"Kan kamu bilang kasian" elak Janu.
Sarma tak habis pikir dengan perkataan Janu, saat itu dia hanya diam, dia berjanji, mulai hari tu dia tidak akan bercerita lagi mengenai teman apalagi pekerjaannya.