Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #1

Bertahan Hidup

Aroma jagung bakar bercampur sosis panggang menguap di antara angin malam. Langit tidak baik-baik saja, mendung menggelayut manja. Dingin bahkan lebih kental dari hari-hari sebelumnya. Anehnya ada euforia yang disandarkan pada waktu malam. Kusaksikan sekelompok manusia beramai-ramai merayakan perpisahan dengan angka tahun mundur. Dilanjut pesta penyambutan awal kalender masehi. Kembang api memuntahkan cahaya warna-warni yang berpendar di langit. Wajah mereka begitu riang. Sorak sorai bergabung dengan denyut jantung hari yang enggan berdetak. Nada-nada lagu barat diputar sebagai hiburan. Adapun yang melompat penuh kemenangan di balik dendang lagu lokal. Di dalam rimbunnya hutan pikiran manusia, aku justru merasa sepi dan sangat tersesat.

Di kampung tidak ada penyambutan tahun baru semeriah hari itu. Daging-daging di pinang untuk ditelan sebagai objek perekat perkawanan. Kelakar diterbangkan pada benderangnya api unggun. Pada malam ini kutatap seolah tiada beban hidup di benak keturunan Adam. Letihnya mendulang rupiah ikut hangus menjadi arang. Status-status di aplikasi WhatsApp saling bertabrakan. Ada yang ucap selamat, ada yang tampilkan ancaman di hari kiamat—dilarang mengikuti atau meniru kebiasaan kaum, maka ia serupa dengannya. Sayangnya beriringan dengan ledakan kembang api, membuat gendang telinga tuli dari dosa-dosa. Tiada lagi yang menyaring perbedaan, semuanya seolah sama atas nama toleransi. Ada nilai yang hilang dari peradaban di muka bumi.

Pada titik ini, ada kaum-kaum pengelana yang menjadi perhatian. Mereka sosok yang membangun tenda keuntungan di dekat kerumunan. Menjajakan dagangan berupa cemilan, makanan siap saji bahkan sekadar air mineral. Ada kesempatan menebalkan kantong rupiah untuk tipiskan tagihan di awal tahun. Alun-alun Hasibuan riuh dengan sorak-sorai penyambutan. Entah apa yang sesungguhnya mereka sambut. Pentas musik semakin mengguncang tubuh manusia, sementara lokasi bazar jajanan lokal dikerumuni anak-anak muda. Aku sempat menerawang dari mana rupiah yang mereka hamburkan? Bukankah mengusung rupiah terbilang susah? Faktanya ada penjual cilok yang mengaku belum balik modal. Terus dia rapalkan doa semoga malam ini dagangan ludes. Karena merasa bukan bagian dari kehidupanku—bersenang-senang, maka aku merapatkan barisan pada pedagang kaki lima. Kukorek pengalaman mereka bercengkrama dengan kehidupan di tanah orang. Sekalipun hanya seorang pedagang cilok, pria bertopi lusuh dengan celana jeans bolong pada lututnya itu merupakan perantau dari Pekalongan. Uang hasil jualannya dikumpulkan kemudian dikirim ke kampung.

Kawan-kawanku dari warnet dan peserta Diklat Pelayaran sedang gugurkan bosan di dekat panggung. Ikut serta bergaya tak kalungi beban supaya stres berkurang.

“Kenapa tidak jualan di kota kelahiran saja, Pak?” tanyaku dengan polos.

Sebelum memberi ucapan dia mengulum senyum. Gigi-gigi kuningnya dibantu malam supaya tidak kelihatan. Aroma napasnya berbau rokok. Hidungku peka karena aku kurang suka dengan zat tersebut. Suara seraknya kalah dengan euforia anak- anak muda. Ada potret kemalangan dari tubuhnya yang hitam dibakar terik Bekasi.

Lelaki tua itu memandangku dengan senyum lebar. Seolah sedang menelisik masa mudaku yang belum berpengalaman. Jujur aku memang sedang belajar banyak hal perihal hidup menjadi dewasa. Seiring berjalannya waktu, aku bukannya menjadi pandai memaknai hidup, tetapi menjadi bodoh karena merasa tidak tahu apa-apa. Pelajaran yang kudapatkan dari SMK, rasanya tidak bisa kujadikan bekal selain ilmu agama yang menuntutku supaya menjadi manusia bermoral dan tahu diri dengan lingkungan. Hmm, lantas bagaimana dengan temanku yang sedang melompat kegirangan di depan panggung? Apakah mereka kehilangan moral? Bukan, maksudku mungkinkah moral mereka tertinggal di kos-kosan? Seperti yang sudah-sudah sepanjang akhir pekan ketika malam mulai lelap, sebagian dari mereka akan berkawan dengan cairan melenakan kesadaran. Sebelum berangkat ke lokasi, aku sempat menyaksikan ada dari mereka yang membawa minuman oplosan di dalam botol mineral bekas. Jika dilarang dan jelas merugikan mengapa masih banyak yang tertarik? Lucunya, mengapa diedarkan. Aku benar-benar tidak paham dengan kehidupan di masa-masa kritis ini.

Lalu ada pria tua mengorbankan orang-orang yang dikasihi di kampung demi mendulang rupiah? Bukankah sederhana saja, jika dia jualan di kota tempatnya bernaung maka akan diperdekatkan jaraknya. Maka tatapannya yang sendu ketika menatap laju kendaraan lalu lalang mencari tempat parkir, tentu tidak akan dilingkupi dengan kerinduan paling menyiksa. Aku sedang membaca sorot matanya yang berlinang ketika menyaksikan sepasang pemuda dan pemudi bergandengan berjalan menuju pusat keramaian. Barangkali dia sedang bergumam, semoga kelak anak-anaknya yang ada di kampung tidak terjebak pada dunia gemerlap yang unfaedah! Hmm, bukankah ini sekadar hiburan? Kenapa aku berpikir terlampau panjang? Rasanya akan lebih baik jika dulu aku masih duduk di bangku sekolah, mengenyam pendidikan dengan setekun-tekunnya, belajar menemukan ide-ide baru dan melakukan berbagai percobaan seperti masa kecil Jeff Bezos. Sekolah yang kunaungi rasanya tidak melatihku menjadi pemikir hebat supaya di masa depan bisa memimpin hidupku sendiri, sebaliknya aku digodok habis-habisan supaya bisa menjadi karyawan yang kelak patuh pada atasan. Terbukti ketika lulus, temanku diarahkan untuk bekerja, bukan menjadi pencipta pekerjaan itu sendiri. Mungkin aku terlalu hilang asa, jadi banyak pikiran negatif yang nyangkut di benakku malam ini. Lebih-lebih aku sedang sangat lelah dan rindu dengan Emak di kampung.

“Biaya hidup di sana lebih murah,” jawab pria tua itu membuyarkan lamunanku.

Lihat selengkapnya