Nenek moyang selalu berkisah kepada generasi selanjutnya bahwa negara ini kaya raya. Terhampar pulau-pulau luas, menjulang gunung-gunung kebiruan menyentuh megahnya langit. Udara sejuk menyegarkan paru-paru kehidupan dari perbukitan yang senantiasa mengular panjang. Ada senyum bergelimpangan di pinggiran jalan, ada keringanan menggotong beban kehidupan orang lain disusul kelakar perihal harga diri juga sopan santun. Negara tetangga kerap kali menggumamkan kekayaan alam sekaligus budaya yang dimiliki. Tanah menggiurkan, bahkan laut penuh debu dan ombaknya diincar turis wisatawan. Rempah bumi menjadi sasaran penjajahan. Tempat kelahiranku ini menjadi impian-impian orang asing. Akan tetapi mengapa kemiskinan merebut keluargaku secara utuh?
Aku berdiam diri di bawah atap milik orang. Dinding-dindingnya masih berbilik bambu, itu pun sewaan, lantainya menyatu langsung dengan permukaan tanah. Jika ada hujan bertamu ruang tamu yang dijadikan tempat jualan Emak dipenuhi dengan genangan air. Beberapa gentingnya telah melorot juga ditumbuhi lumut-lumut liar. Kusen jendela dan pintunya reyot, mengeropos disantap rayap. Tiangnya doyong ke arah barat, seolah hendak menciptakan kiamat. Apabila musim angin datang, Emak akan sibuk merapalkan doa-doa, dihantarkan kepada pemilik langit selepas sujud malam—semoga rumah kontrakan tidak ambruk.
“Lintang! Bantu Emak membungkus dagangan!” seru Emak.
Aku yang baru saja melepas sepatu lusuh dan menggantungkan ransel di belakang pintu kamar berjalan menghampiri wanita menjelang senja, berjilbab instan yang menampilkan anak-anak rambutnya keluar. Dialah punggung keluarga yang menafkahi hidupku dengan berjualan camilan ringan dan bakso murah.
Siang itu Emak duduk di ruang tengah yang gelap. Mendung di langit membuat pencahayaan di dalam kontrakan berkurang. Selain itu Emak juga memilih berhemat dengan tidak menyalakan lampu.
Kaki Emak diselonjorkan menghadap sebuah tampah—serupa nampan tetapi berbentuk lingkaran yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalamnya menggunung ceriping singkong yang sudah diberi bumbu pedas. Orang di wilayah ini menyebutnya ‘pencok.’
Rutinitasku selepas sekolah di SMK yakni membantu Emak, terkadang membungkus camilan, tidak jarang juga ikut serta meladeni para pembeli bakso. Emak jualan apa saja yang bisa menghasilkan untung. Pernah juga membuat soto balungan ayam, karena jika utuh menggunakan daging Emak akan kesulitan memasarkannya. Miliknya tidak laku di kalangan para pelajar. Kebetulan sekali kontrakan murah yang Emak sewa terletak di dekat kompleks sekolahan. Harga jajanan yang dijual pun disesuaikan dengan kantong pelajar.
Satu porsi mangkok bakso Emak dihargai senilai Rp2.500,00. Sangat murah dan membutuhkan penghematan rempah supaya untung. Soto Emak pun dijual dengan harga serupa. Keuntungan hasil dagang Emak disisihkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan makan sehari-hari.
“Bungkus yang cepat, jangan lambat! Kau ini anak laki-laki!” ucap Emak dengan nada ketus.
Emak memang senantiasa terlihat marah, sekalipun dia tidak sedang marah.
Punggungnya terlampau ringkih untuk diajak bangkit di pusar malam. Langkahnya tertatih mengayun menuju tempat wudhu, sujud tahajud sebelum memulai meracik dagangan. Emak sering terkantuk-kantuk ketika mengupas bawang, tidak heran terdapat beberapa luka goresan pisau di telapak tangan. Usia Emak mendekati kepala enam puluhan, sudah sepantasnya beristirahat di beranda rumah menunggu kepulangan anak, bukannya bersahabat dengan malam untuk memburu kecukupan.
Bisakah aku menawar nasib? Lahir dari rahim Emak, tetapi ia yang berkecukupan tanpa kurang butir nasi di lumbung? Atau bolehkah jasad bapak yang terkubur tanah di bangkitkan supaya ada pembantu langkah Emak, pun lelahnya menjadi sanggup disandarkan. Takdir miskin, tidur dinaungi atap berlubang berkawan gigil malam dan tatapan iba warga sekitar, membuatku senantiasa menggelegak air liur. Akan tetapi dengan apa aku membantunya, selain membungkus camilan? Rupiah yang terkumpul tidak seberapa. Emak bahkan masih sering mengutang beras di warung terdekat. Getirnya aku masih duduk di bangku sekolah kejuruan. Tempat belajar yang sudah didesain setelah lulus bisa langsung bekerja. Sayangnya, aku sendiri kurang yakin apakah selulus nanti pekerjaan yang kunantikan benar-benar tersedia di lapangan.
Faktanya bekerja di negara ini bukan perkara gampang. Masih banyak sarjana nganggur. Penjual kaki lima berserak di mana-mana, tetapi kompak menyerukan kerugian dan sepi pembeli. Ada yang tetap menjadi buruh pabrik dengan gaji rendah bersistem kontrak—Tidak ada karyawan tetap, sewaktu-waktu bisa dipecat. Apa yang bisa diharapkan dari pemuda miskin yang lahir dari kemalangan? Aku hidup di negara kaya, tetapi tidak ada rumah untuk menetap. Emak selalu mengajakku berpindah-pindah jika situasi lingkungan mulai luntur dari keberuntungan. Kontrakan akan dijadikan kenangan pendulang masa-masa sulit tatkala hujan membuat tubuh lantai dan dinding bambu menjadi basah kuyup. Sebelumnya aku dan Emak memang hidup secara nomaden, barulah di kontrakan menyedihkan ini kami bertahan. Alasannya tidak jauh karena lingkungan memberi laba untuk menyambung hidup.
“Kalau sudah dibungkus semua, jangan lupa dihitung! Kemudian disusun rapi di warung supaya ada pembelinya!” perintah Emak.
“Baik, Mak.”
“Emak istirahat sebentar ya? Mata ini begitu sepat dan sulit diajak kompromi. Emak tadi bangun jam satu, sampai sekarang belum tidur.” Ia berkata panjang sambil berjalan menuju ruang pribadi—tempat tidur dengan kasur lapuk dipenuhi tumpukan pakaian kering yang belum sempat dilipat. Emak merebahkan tubuh sambil mengucap dzikir sebagai pengingat kematian.
Detik jam berdetak serupa detak jantung yang enggan hidup. Mendung mengundang gerimis pada bingkai jendela lusuh. Aku selonjoran di ruang tengah, masih mengenakan seragam SMK disuguhi ceriping pedas buatan Emak. Camilan itu terus aku bungkus sampai tangan kananku berminyak dan lengket.
Aku selalu bertanya-tanya di dalam hati, apa yang layak kulakukan selepas SMK? Bekerja di bengkel ternama sesuai jurusan sekolahku? Atau tersudut di pabrik terdekat. Ditakdirkan hidup serba kurang membuatku banyak berpikir perihal masa depan. Bukannya aku menjauh dari kenyamanan masa-masa remaja; nonton film di bioskop, jalan-jalan menggunakan sepeda motor, dan nongkrong bersama teman di perempatan jalan kampung sebelum senja mungkur. Aku cenderung menarik diri dari hal-hal kurang menguntungkan. Barangkali karakter itu tertanam karena aku menyaksikan Emak sibuk jualan.