Akhir bulan Januari, aku mendapatkan hadiah menegangkan. Aku seperti dilempar ke lubang hitam kemudian ditimbun hidup-hidup tanpa cahaya. Dadaku terasa sesak, ingin menjerit memohon bantuan, tetapi kepada siapa? Diklatku di Bekasi belum kelar, sementara pekerjaanku yang lumayan tidak begitu berat hilang. Aku disuruh angkat kaki oleh Mang Oman karena dianggap kurang serius mengemban tanggung jawab menjaga warnet. Mirisnya, aku tidak mendapat pesangon, gajiku bahkan dipotong seperempat persen. Kalau saja aku perempuan, aku pasti sudah menangis tersedu-sedu di sudut kamar. Seberat apapun hidup yang kujalani, aku sulit menitikkan air mata. Bukan karena dilarang atau merasa sok cool, tetapi memang demikian karakterku. Aku hanya menderita membayangkan Emak sengsara jika diriku tidak bisa kokoh melawan ombak kehidupan. Untuk mencari pekerjaan saja tidak semudah yang kubayangkan. Dari awal sudah banyak pengorbanan yang aku keluarkan. Emak hutang bank di kampung, mencari tambahan ke tetangga sebagai modal perjalananku ke tempat ini. Lantas di sini, sudah kupertaruhkan seluruh tenagaku untuk bekerja paruh waktu sambil belajar, tetapi Ya Allah kenapa aku masih bisa dianggap melakukan kesalahan? Aku jarang telat ke tempat kerja. Aku melayani para pelanggan dengan baik. Aku selalu berusaha ramah padahal itu bukan karakterku, bahkan bibirku selalu kulatih untuk tersenyum dengan sikat gigi seusai mandi demi terlihat tidak kaku. Lagi-lagi usahaku belum ternilai! Fakta bahwa tinggal di perantauan membutuhkan banyak biaya; makan, tidur di kosan, listrik juga air.
Aku rindu bersenda gurau mengobrolkan hal-hal kecil di teras rumah Alfan. Aku bahkan siap dicaci maki oleh Reyfan. Masalahku di rumah belum ada tandingannya dengan perasaanku yang ingin pulang kembali ke tanah kelahiran. Tetapi demi Emak … lagi-lagi aku berpikir ulang.
‘Halo, Lintang? Apa kabarmu? Sudah kaya?’
‘Kaya apanya, Fan? Aku seperti anak kecil sedang belajar membaca huruf alphabet dari A sampai Z, terasa hampa, kosong dan membingungkan!’
‘Kau mulai lagi, selalu berpikir negatif dan banyak mengeluh! Hahaha, aku penasaran bagaimana hari-harimu kini,’ ucap Alfan dari balik telepon. Suaranya masih seperti biasanya, ringan dan renyah seperti keripik. Enak disantap—enak didengar dan membuat dadaku bertambah gemuruh karena aku ingin bersegera memeluknya.
‘Mungkin aku memang ditakdirkan untuk selalu miskin,’ kataku begitu pesimis.
‘Ada tragedi apa?’
Alfan membaca kemurungan dari suaraku. Kala itu aku menatap langit hampa. Bintang disembunyikan kabut. Cahaya bulan samar-samar dibungkus mendung. Gerimis tipis turun jatuh ke bumi, seperti gula pasir yang aku tuangkan ke dalam gelas berisi teh hangat. Aku mengobrol dengan Alfan karena warung angkringan yang kujaga, tempat kerja baruku sedang sepi dari pengunjung. Malam begitu larut, jalanan kian lengang, padahal akhir pekan sedang bertandang. Biasanya pada detik ini, angkringan akan ramai dengan pemuda yang gemar nongkrong. Sayangnya, mendung membuat dagangan yang disajikan hanya dikerubungi embun.
‘Aku dipecat dari kerjaanku,’ tuturku.
‘Lalu sekarang kamu nganggur?’
‘Enggak, aku langsung cari kerja lain.’
‘Wah selamat, ya! Calon jadi orang sukses beneran.’
Kata sukses membuatku termenung. Dari segi apa Alfan mengukur kesuksesan? Apakah harta benda? Kalau ditelusuri lebih dalam, sebenarnya aku ingin sukses hidup dengan kedamaian. Tanpa emban beban, tanpa ada perlu perasaan ditahan. Melihat Emak bahagia, mungkin itulah tolak ukur kesuksesanku.
‘Bagaimana kabar, Emak, di sana? Apakah dia sehat?’
‘Selalu baik-baik saja, baru kemarin dia datang ke rumahku mengantarkan singkong rebus. Katanya tidak habis dimakan sendirian. Sepertinya dia kesepian tanpamu, Lintang.’