Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #4

Ngamuk Tanpa Malu

Detik itu hujan membasahi genting-genting rumah penduduk. Aroma tanah menguap sampai lubang hidung. Tanaman-tanaman hias di halaman rumah menjadi penampung miliaran titik air sebelum terjun ke permukaan bumi. Hujan membuat asbes-asbes rumah tetangga serupa gendang yang sedang ditabuh. Tirai-tirai ditutup rapat, seakan tidak rela jika dunia jalanan rumpang mengintip dalam diam. Sekalipun sekadar perempuan muda yang berkaca memamerkan payung transparan. Hujan membuat rutinitas terhambat. Pedagang bakso kuah keliling yang biasanya mangkal di depan rumah Alfan cuti tanpa pamit terlebih dahulu. Maka wajar jikalau belia-belia yang saban sore bermain di pinggiran jalan rumah Alfan juga ambil libur. Di sana terhampar lahan hijau, dijadikan tempat tumbuhnya rumput Jepang dan disatpami dua gawang yang jaringnya telah dirobek angin.

Sebelah rumah Alfan merupakan tempat tinggal Reyfan. Bangunan minimalis modern dengan dinding bersemir kuning terlihat kontras dalam pandangan. Meski hujan bernyanyi amat berisik dan atap-atap warga penuh gemuruh, rumah Reyfan tetap bisa menampilkan ketegangan di pusara mendung. Suara teriakan Reyfan mengetuk pintu kayu rumah Alfan, mengabarkan permohonan atas nama kenyamanan mencari pengetahuan.

“ … ayolah, Bu! Tinggal mengatakan iya! Lagi pula motor secuter-ku sudah lunas. Apa susahnya membelikan lagi?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan iba. Malang benar nasib orang tua Reyfan.

“Kalau tidak dibelikan, aku tidak mau berangkat sekolah! Malu sama teman yang sepeda motornya pada baru. Aku sudah ketinggalan zaman, mesinnya juga aus, bannya kecil. Diajak jalan sudah lelet seperti orang tua! Tidak heran aku sering terlambat ke sekolah.”

Alfan dan aku kebetulan sekali sedang bermain catur di teras. Tempias air hujan mengenai papan catur. Rambut kami juga penuh dengan embun hujan. Anehnya kami sama-sama enggan beranjak dari tempat duduk. Suara Reyfan mengalir berisik sementara hujan membuat kami bertahan di tempat duduk, bangku kayu jati panjang.

Alfan merupakan teman, sungguh remaja yang aku niatkan menjadi rekan pada hari-hari lengang maupun kesepian. Dia bukan teman yang kujumpai karena kesamaan nasib sekolah di SMK. Tempat belajar berbeda, jenjang kelas pun tidak serupa, akan tetapi kami akrab. Rumah Alfan dekat dengan kontrakan yang disewa Emak. Jika tanah bangunan rumah kontrakanku sudah berlapis semen dan cor-coran sehalus pipi perempuan muda, maka lain dengan permukaan rumah Alfan, masih murni berbentuk tanah. Terdapat gundukan-gundukan tanpa aturan. Dinding kontrakanku semi permanen, terbuat dari anyaman bambu, miliknya terbuat dari papan-papan kayu. Halaman rumahnya asri dan ditumbuhi puluhan tanaman hias. Kebetulan sekali Ibu Alfan pecinta tanaman hias. Orang tua Alfan sederhana, hidup tidak kurang juga enggan kebanyakan gengsi. Aku nyaman berkawan karena selalu ada senyum hangat dari keluarga kecil Alfan ketika aku bertandang. Meski rumah mereka tidak mewah tetapi hati mereka begitu lapang dan gemar meringankan beban orang. Jika bukan dengan materi, maka dengan kepedulian dalam bersikap. Hal itu turun kepada anaknya, Alfan.

“Otak Reyfan semakin sinting!” celetukku sambil menuntun langkah pion untuk memakan lawan secara diagonal.

“Kamu kepengen?” ledek Alfan cekikikan.

“Barangkali demikian jika otakku hilang kewarasannya!”

“Anak itu terlalu dimanja oleh orang tua, atau kita yang terlalu mandiri sampai tidak bisa membeli apa-apa sendiri?” ucap Alfan satire.

Aku menggelegak teh hangat yang sudah dingin. Mengalihkan pandangan kepada papan catur, mengatur strategi untuk menyerbu pertahanan Alfan. Hujan melambai-lambai serupa salam perpisahan rekan akrab, begitu menusuk relung kalbu, membekaskan perasaan dingin paling kalut di antara waktu-waktu lalu. Kami bermaksud mengabaikan rengekan Reyfan. Fokus pada pertandingan kuda. Akan tetapi, hal yang tidak dikehendaki menyeret tubuh kami menerobos ratusan air hujan. Kaki kami menjejak jalan berlumpur belum dikericak.

Ada suara teriakan Ibu Reyfan, teriakan penuh ketakutan diiringi lemparan-lemparan isi kamar; bantal, guling, buku-buku, bahkan gelas berisi susu hangat yang baru dibuatkan ibunya beberapa menit lalu.

“Apa yang terjadi, Bu?” Simpatiku sambil melongok dari jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan muram penghuninya.

Di sebelahku berdiri Alfan. Ia sedikit menjinjit bukan karena kurang tinggi, melainkan menghindarkan telapak kaki dari genangan air. Kami berdua sama-sama basah kuyup karena rasa penasaran akut. Rambut cepakku bahkan sudah seperti dikeramasi. Satu hal yang pasti, kami khawatir salah satu dari mereka terluka. Meski Reyfan sudah duduk di bangku SMK, tetapi emosinya terbilang labil, jauh dari pendewasaan. Buktinya, di sore selanjutnya, tatkala anak-anak kecil sibuk mengangsur langkah menuju aula kampung tempat belajar agama, juga tempat yang sering digunakan untuk kegiatan kumpul-kumpul warga.

Reyfan memukul ibunya menggunakan gagang sapu. Bukan itu saja, ia masih mengamuk di akhir pekan, sengaja menceburkan dirinya yang sedang mengendarai sepeda motor lamanya ke irigasi sawah. Pada akhirnya, pergelangan kaki patah, dia di-gips dan memakai kruk ketiak untuk membantu berjalan. Sepeda motornya rusak, dimasukkan ke bengkel. Ia tidak berangkat sekolah selama sepekan. Teman-teman menjenguknya, rumor beredar, Reyfan mengalami kecelakaan karena menaiki sepeda motor yang jarang di-service.

Pak Trimo, ayahnya mendadak menjadi pelamun handal. Di waktu senja, selepas pulang dari pabrik, dia akan duduk di beranda rumah, mengangkat kaki sebelah kanan ditumpukan di atas kaki satunya sembari memandang langit. Tatapannya kosong, disapa warga melompong. Tiada lagi senyum ramah maupun kata-kata penenang orang melintas. Pak Trimo murung seakan menampung milyaran mendung. Tubuhnya yang jangkung dan kurus terlihat menonjolkan tulang–belulang. Kulit punggung tangan serupa kulit jeruk busuk—mengeriput kecoklatan penuh noda. Ada beban baru yang siap-siap menghantui ketentraman tanggal-tanggal muda.

“Si Reyfan sudah keterlaluan, kasihan orang tuanya!” celetukku.

Kamis sore, aku nongkrong di rumah Alfan. Melodi mengalun lembut dari radio sepuh keluarga Alfan. Musik dari mancanegara memecah riak hening. Para kaum ibu muda sedang menggerombol di depan aula kampung, menunggu belia belajar mengaji. Jika adzan maghrib bertandang mereka akan bubar, kembali ke persinggahan cinta masing-masing.

Lihat selengkapnya