Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #5

Gagal Fokus

Negara artis papan atas berkumpul itu, menjadi bayang-bayang semu dalam pikiranku. Aku menjadi tidak fokus melakukan pekerjaan, bahkan ketika mencuci piring kotor—setumpuk berisi delapan buah piring ambruk karena aku ngelamun. Benda mati itu pecah menjadi kepingan-kepingan beling yang membuat Pak Hakim melotot lebar. Kalau saja angkringan sedang tidak ramai, aku pasti sudah mendapat omel dari bumi tembus ke luar angkasa. Beruntungnya anak-anak muda yang banyak obrolan perihal dosen killer mereka di kampus membuatku selamat dari amarah. Entah nanti sepulang kerja. Masalahnya piring bukan satu-satunya bukti kelalaianku. Aku bermaksud menyalakan krans air, justru yang kuraih adalah pangkal peralonnya, airnya pun jebol sampai membuat tepung terigu yang ada di sebelahnya basah, padahal belum akan dijadikan adonan bakwan.

“Ada apa, Lintang? Kenapa hari ini banyak kekacauan?” tuntut Pak Hakim tepat pukul setengah empat dini hari.

Angkringan mulai sepi. Aku berkali-kali menguap karena lelah dan kantuk yang sulit kukuasai. Bahkan jika ada ocehan yang dimuntahkan kepadaku detik ini, aku siap menerima. Posisi akalku sedang kurang konsentrasi, jadi semua kata-kata bisa kuanggap angin lewat saja.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya sedikit lelah.”

“Jelas kau lelah, tetapi jangan membuatku rugi, Lintang!”

“Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Tidak saya ulangi di kemudian hari.”

Mengapa aku harus berjanji? Memangnya aku akan menetap di angkringan? Aku menerawang jalanan yang sudah dihinggapi sepi. Takdirku tidak boleh menetap di sini selamanya. Tetapi aku juga malas mencabut kalimat yang sudah kuucapkan. Lagi pula esok dan beberapa minggu ke depan aku masih membutuhkan penghasilan dari angkringan. Pak Hakim merapikan meja, dia tumpuk menjadi satu nampan-nampan yang isinya telah kosong. Tangannya penuh minyak, cahaya neon lima watt di atas kepalanya menyorot kulitnya hingga tampak berkilat-kilat.

Belum juga dia merespon, aku sudah menabrak sudut meja. Perihal uang, mendadak aku teringat dengan ucapan Pak Radit yang mengatakan bahwa biaya keberangkatan ke luar negeri ditanggung oleh penumpang—tidak ada subsidi dari biro perusahaan penyalur.

“Duh Gusti, Lintang. Pulanglah, datanglah besok lagi. Sekarang kau istirahat.”

Aku melirik jam di ponsel. Waktu baru menunjukkan pukul 12.00 WIB. Tepat pergantian angka di kalender Masehi. Tumben sekali aku diijinkan pulang lebih awal, rasanya aku iba dengan Pak Hakim. Aku benar-benar melakukan kesalahan fatal karena tidak bisa konsentrasi. Ekspektasiku terlampau jauh. Aku membayangkan detik-detik terbang ke negara lain. Naik pesawat saja belum pernah kulakukan. Kalau ditelisik dari usiaku aku masih begitu muda. Katanya selama masih muda dianjurkan melalang buana sejauh mungkin untuk mendapat pengalaman dan berbagai pelajaran hidup. Merantaulah! Begitu wejangan dari Imam Syafi’i yang pernah kudapat sewaktu mengaji ilmu agama. Pergi dari kampung halaman akan memberi peluang dengan berbagai hal baru termasuk menambah teman dari berbagai latar. Aku kenal Pak Radit yang selalu bekerja keras, kulihat fisiknya kelelahan lantaran saban harinya diajak begadang menjemput fajar. Dia terlihat lebih kurus dari pada tubuh Mang Oman. Pak Radit kadang terbatuk ketika angin malam berembus lebih tajam dari biasanya. Dia pernah berkisah, memiliki empat anak yang masing-masing duduk di bangku sekolah berbeda. Anak pertama telah diasuh universitas negeri di luar kota. Anak kedua baru mengecam pendidikan SMA, ketiga dan terakhir masih di bangku SD. Tidak ada alasan baginya mengeluh lelah, sementara kebutuhan melonjak tanpa kenal berhenti barang sedetik. Orang tua selalu mengupayakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Emak pun demikian, di luar keterbatasannya dia tetap berusaha meladeni keinginanku. Meski berat, dia melepas kepergianku ke tanah orang. Aku yakin, Emak murung setiap malam memikirkan nasibku di sini. Barangkali dia juga tidak berselera makan. Emak pasti kesepian. Tetapi dia rela mencarikan biaya agar aku bisa mereguk masa depanku, tidak terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang mengukungnya sedari dulu. Kasihan Emak, hidup sebatangkara dengan beban anak yang belum bisa membalas jasanya. Kalau saja ayahku masih hidup—ah, kata Emak aku dilarang protes pada takdir yang sudah terjadi. Aku menggantung pandanganku pada punggung Pak Hakim. Dia terus bekerja sementara aku termenung di balik tenda angkringan. Aku mematuhi sarannya untuk pulang. Barangkali memang aku sedang butuh istirahat.

Akan tetapi, di dalam kos-kosan pikiranku semakin semrawut. Aku butuh teman untuk diajak bicara. Detik yang menggantung di dinding kamar terdengar berisik. Dengkur penghuni kos lain kontras menjadi pemilik hari itu.

Mataku berbinar terang, belum siap diajak berlayar ke pulau impian. Aku justru terjebak dalam dimensi ruang yang berbeda. Biro penyaluran tenaga kerja memberikan Pak Radit brosur penawaran ke Amerika untuk bekerja di kapal kargo. Ada balok-balok penuh warna yang tersusun rapi di atas kapal di kepalaku. Lalu ombak laut menghantam tubuh kapal, sesekali mengombang-ambingkannya. Itu menggairahkan sekali. Rasanya aku tidak sabar ingin menjelajahi samudera dengan hasil pelatihanku selama ini. Sayangnya, Bekasi tidak cukup membuatku bisa berangkat.

Kata Pak Radit, masih ada Diklat lain yang harus dituntaskan di Kota Cirebon. Padahal aku sudah tergiur dengan keberangkatan ke luar negeri. Perihal biaya, katanya akan ditanggung oleh biro perusahaan penyalur, dengan catatan bisa bekerja sesuai dengan kontak yang berlangsung. Itu tidak masalah bagiku, lagi pula kabarnya gajinya lumayan besar, paling sedikit 30 juta perbulan. Aku benar-benar tersihir oleh angka rupiah yang belum pernah kugenggam itu. Perjalananku begitu panjang dan agak mendebarkan. Jika aku ke Cirebon—itu artinya aku harus siap dengan tantangan baru. Cari kerja lagi, adaptasi lagi. Aduh, itu lebih merepotkan daripada yang kupikirkan selama ini. Uang penghasilanku kerja dari angkringan tidak cukup, bahkan aku tidak memiliki tabungan.

“Aku menjual tanah dan menggadaikan sertifikat rumah untuk bekalku pelatihan dan jaga-jaga, Lintang.” Pak Radit bahkan mengorbankan hal yang tidak pernah kupikirkan.

Aneh rasanya, mau cari uang butuh modal uang.

Di suatu pagi pada hari Minggu bulan Maret, aku menelpon Reyfan. Emak tidak cukup pandai mengaplikasikan ponsel. Sekalipun kutinggali ponsel butut untuk berjaga-jaga bisa melestarikan komunikasi denganku, tetap saja Emak jarang menanyakan kabarku melalui ponsel pribadi. Aku hanya mendapat cerita dan pesan dari Alfan selama dirinya berada di rumah. Sebulan penuh aku tidak terkoneksi dengan Emak. Alfan sudah tidak di kampung. Entah dunia apa yang saat ini sedang dia geluti.

Kau mengganggu hari liburku, Tang. Ada apa? Kudengar kau sedang sibuk Diklat pelayaran, benarkah? Haha.’ Kalimat itu kucium dengan aroma pelecehan.

Beberapa detik kemudian kudengar petikan gitar, lalu tiba-tiba Reyfan bersenandung.

Oh Lintang yang malang, merantau ke tanah orang, demi kumpulkan rupiah-rupiah keberuntungan.’

Setidaknya aku berusaha, Rey. Tidak ngemis di tengah jalan.’ Aku sadar diri.

Oke, terserah padamu. Ngomong-ngomong mengapa kau menelponku?’

‘Bisakah kau ke rumahku? Aku ingin bicara dengan Emak, dia sulit dihubungi,’ pintaku.

Aku sedang di pantai bersama teman-teman kampusku, pulangnya nanti sore. Aku telepon lagi nanti sore!’

Lihat selengkapnya