Awal tahun, ada banyak bendera berkibar di pinggiran jalan. Dilengkapi dengan banner-banner berwajah ramah, mengharap sebagian fisiknya dilubangi. Kampungku yang dulunya sepi, mendadak riuh kedatangan tamu-tamu bermobil sedan. Mereka membawa janji usai menyepakati permohonan warga dengan dalih menukar hak suara.
Luberjurdil hanya semboyan, money politik merajalela blak-blakan. Emak yang begitu polos dan lugu disinggahi tamu. Ia mengetuk pintu reyot rumah kami dengan halus.
“Mak, minta doa restu!” ucapnya penuh pengharapan.
Emak yang tidak begitu paham dengan bisnis politik langsung mengiyakan. Sebuah kertas seukuran kartu remi bergambar calon legislatif diberikan kepada Emak.
“Jangan lupa! Pilih nomor ….” Tamu itu menunjuk angka di atas kepala gambar tersebut.
Emak kemudian disalami rupiah senilai 4 kg beras di warung. Semurah itu suara Emak. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Emak, akan tetapi dia menjamu tamu itu dengan sungguh-sungguh dan tunduk dengan perintah memilih calon legislatif.
Ada pesta besar-besaran tahun ini, lebih meriah tetapi penuh kebohongan. Sejatinya pesta identik dengan kemeriahan dan kesenangan. Pesta ini menyembunyikan luka-luka banyak manusia. Ada yang kelak menang, adapun yang dikhianati. Apalagi jika dilihat dari permulaan para tim pendukung yang bergelar membeli suara demi suara.
“Tolak money politik!”
Suara presenter TV menyiarkan saran dan himbauan. Sayangnya, itu semua sudah menjadi budaya. Rakyat berselimut dalam ketidakmengertian. Sungguh mereka tidak melakukan kesalahan, mereka menjadi korban kekuasaan. Lihatlah keluguan Emak, ia bersyukur beribu kali usai mendapatkan sedekah dengan pamrih untuk dicoblos itu. Rezeki bisa datang dari mana saja. Demikian ia terus menggumam. Bibir keringnya yang jarang dilap dengan gincu, bergerak naik turun di hadapan telinga tetangga. Mengoceh ada yang baik hati baru saja memberinya uang. Bergegas ia belanjakan di warung terdekat untuk membeli beras.
Tahun ini merupakan momen berharga bagiku, mungkin begitu, karena untuk pertama kalinya aku mendapat amanah menjadi pemilih pemimpin—orang pertama yang akan dikenal seluruh penghuni negeri kepulauan kaya raya ini. Pemilihan presiden biasanya momen sakral bagi sebagian orang yang mau berpikir. Pasalnya nasib rakyat ke depannya berada di tangan sang pemerintah. Usiaku terbilang sudah cukup. Aku melewati masa manis 17 tahun di penghujung kelas XI tahun lampau. Tentu tanpa perayaan pesta, apalagi kado-kado dari teman dekat. Hanya ada ucapan selamat karena berhasil melewati keemasan remaja dari Alfan, dan itu cukup membuatku senang.
“Lintang, kemarilah! Besok sewaktu pencoblosan pilihlah orang yang sama dengan pilihan Emak. Ini gambarnya!” ajak Emak sambil menunjukkan gambar pilihannya.
“ Aduh, Emak. Terserah Lintang dong mau pilih siapa!” sergahku.
Momen penting itu menjadi hak pribadiku. Bukan Emak yang menuntunnya. Aku mulai dewasa dan bisa mengurus tanggung jawabku seorang diri. Lagi pula aku sudah banyak diskusi perihal calon pemimpin negeri ke depannya dengan Alfan. Kami memang masih muda, berbau kencur pula, tetapi kami berdua tidak mau menjadi pengecut yang hanya ikut-ikutan tanpa mempelajari profil, visi, misi, maupun latar belakang calon.
Aku dan Alfan merupakan anak-anak orang miskin, sekalipun dia sekolah di pelayaran yang membutuhkan biaya lebih daripada sekolah kejuruanku. Maka bukan hal mengejutkan jika pemikiranku dan dirinya lebih matang. Hal-hal sulit dalam hidup sering mendewasakan pola pikir. Kami berdua terlahir mandiri untuk menjadi makhluk yang mampu memahami kondisi lingkungan sekitar. Padahal hari itu, Reyfan dan Dhevin justru sedang sibuk menonton turnamen bola voli di kampung tetangga. Setiap malam mereka berangkat menggunakan jaket tebal demi menghalau gigil. Kebetulan turnamen di daerahku sering dilaksanakan di waktu malam. Ibu mereka sudah pasti uring-uringan karena anaknya malah minggat, bukannya mempersiapkan amunisi belajar untuk bertempur di medan ujian sekolah. Sementara diriku dan Alfan justru asyik mendengar ocehan debat calon pemimpin negara. Belajar memang memutus rantai ketidakmengertian, maka menonton acara debat pun kami pikir sebagai kegiatan belajar, sekalipun orang tua kami uring-uringan.
“Kalau presidennya ganti, apa kemiskinanku teratasi?” gumamku dengan polos.
Alfan terpingkal sampai air liur muncrat ke udara.
“Presiden mikirin jutaan ribu orang, Tang! Nggak kenal dirimu, nikmati saja hidup ini tanpa berharap lebih!”
“Sok dewasa lo!” cibirku.
Sebenarnya benar tutur Alfan. Siapapun yang memimpin negeri ini cenderung tidak mengubah status sosial orang-orang lemah keuangan seperti kami. Justru kemungkinan mendapat predikat miskin yang diakui oleh publik.
Pemilu tahun ini bagaikan gurauan belaka. Jika dicermati justru lebih damai pemilihan ketua OSIS setahun yang lalu. Tidak butuh modal ratusan juta untuk membeli isi kotak suara. Pemilihan juga berjalan dengan asas luberjurdil sungguhan. Tiada sogok menyogok dengan dalih pamrih. Siapapun yang terpilih merupakan kemenangan dan keberuntungan dalam menyiapkan pengalaman pengorganisasian dalam kehidupan. Konon hal itu bisa dijadikan bekal di masa depan. Entah apa yang dimaksud … jelasnya telingaku berisik dengan berita saban harinya. Bukan kelegaan apalagi pengupasan kedamaian yang disuguhkan di layar-layar berita, sebaliknya kegaduhan yang mengatasnamakan kecurangan.
“Kok bisa ada kecurangan dalam pilpres?” decakku merasa aneh.
Lagi-lagi Alfan semakin menaikkan suaranya karena tidak kuasa menahan tawa. Baginya pertanyaanku merupakan hal ternaif yang pernah ia dengar.
“Orang dewasa tingkahnya seperti bocah. Harusnya sebelum mencalonkan diri sebagai presiden mereka daftar jadi ketua OSIS dulu!”
Selera humor Alfan bisa mendatangkan masalah jika ada telinga calon legislatif yang mendengar.