Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #7

Langkah Awal

Patahan-patahan batu yang berserakan dengan ujung runcing itu membuatku bergidik ngeri. Kubayangkan tubuhku sedang berada di atas helikopter, menikmati pemandangan alam yang disuguhkan, pepohonan rindang seperti karpet hijau menghasilkan embun sejuk di kala esok itu kontras dalam tatapan. Drone merekam seluruh panorama dari segala sisi. Pengunjung sesekali mengambil gambar untuk abadikan momen. Aku tidak menyangka, akhirnya aku menutup pertemuan dengan Kota Udang dengan menaiki tangga di Batu Lawang demi membuang letih berbulan-bulan di Bekasi dan sisanya di kota ini. Awan di langit bagaikan kapas yang dimasukkan ke dalam toples, begitu tebal dan membuat mata silau. Perjalanan hidupku yang penuh liku. Begadang sepanjang malam sampai tubuhku kering kerontang bahkan lebih kurus daripada ketika di kampung, membuat Alfan mengomel karena aku tidak menjaganya baik-baik. Kemarin aku video call dengannya, dia menyuruhku meletakkan kamera di atas meja, sementara aku diperintah mundur beberapa langkah supaya tubuhku terlihat utuh. Alfan yang kali itu sudah tampan bertambah tampan mengenakan pakaian rapi, kemeja bersetelan jas dan dasi mendadak mengerutkan kening karena sadar teman akrabnya kini menjadi sehitam arang dan lebih kering dari ikan asin.

‘Kau … apa yang kau lakukan di sana?’

‘Kau bilang aku harus belajar pelayaran!’

‘Ya, tetapi bukan dengan menyiksamu seperti ini!’

Alfan belum berlayar, dia tidak ubahnya diriku sedang menempuh pendidikan secara panjang lebar dengan berbagai tugas atas nama pengetahuan di Politeknik Pelayaran Surabaya. Katanya belajar Ilmu Nautika yang menghabiskan puluhan juta. Kupikir dia sudah berlabuh, rupanya baru dekat dengan pelabuhan. Dia sering menghabiskan waktu untuk melihat kapal-kapal besar di Tanjung Perak. Dia akan berdiri gagah di dermaga sambil merentangkan tangan menghadang senja tenggelam. Aku mengintip aktifitasnya yang sekarang sering diunggah di akun Instagram-nya. Kupikir waktunya banyak yang luang sampai bisa bermain-main dengan deburan ombak, bahkan kadang dia nyelonong masuk ke kapal, berdiri di atas kabin untuk mengambil pose foto. Alfan pantas menjadi nahkoda, dia layak menguasai ilmu perkapalan untuk melangkah jauh di atas lautan. Sementara aku … entah kenapa di akhir pembekalan pengetahuanku, justru merasa ciut dan minder dengan realita. Kalau bukan demi Emak, aku ingin kabur dari muka bumi. Begitu lelah menghadapi hari-hari yang menguras keringat. Kalau saja boleh aku ingin tidur di pangkuan Emak, dua hari—48 jam, mungkin itu bisa menyembuhkan kantukku yang tidak pernah kutidurkan. Pandanganku setiap hari sepat sementara wajahku pucat. Lalu di siang yang lengang ketika aku mengundurkan diri dari pekerjaan paruh waktuku di Cirebon, Pak Radit mengajakku berpisah dengan kota ini di bawah naungan batu-batu yang seolah mencuat dari dalam bumi. Batu yang eksotik dan membuatku kagum. Ah, mungkin mataku saja yang lama tidak kumanjakan dengan pemandangan-pemandangan indah. Aku sengaja mengambil beberapa insight foto demi pamer kepada Alfan. Maaf, sungguh niatku untuk pamer, aku tak ingin selalu dipandang malang. Aku juga bisa menikmati waktu santai dengan berleha-leha serupa Alfan sekalipun kepalaku begitu berisik.

Lihat selengkapnya