Keluguan orang-orang di negara ini dipermalukan bahwa dirinya miskin, tetapi merasa bangga dan butuh pengakuan dari warga sekitar. Keluargaku beruntung karena mendapat label miskin dari kelurahan, mohon maaf dalihnya rakyat kurang mampu. Tidak punya tempat tinggal tetap, hidup pas-pasan dengan berdagang jajan kecil-kecilan, tidak ada tulang punggung pria—suami Emak karena sudah dipisahkan dunianya oleh sang pemilik kekayaan hakiki. Hal itu membuat Emak mendapat bantuan sosial berbentuk beras di tahun ini. Tahun ketika media menampilkan huruf hara kecurangan perhitungan suara. Tahun ketika bahan pokok meroket bukan hanya keluar angkasa, melainkan ke neraka. Dengan mataku kusaksikan wajah-wajah murung tetangga, mengeluh harga kebutuhan melejit sementara penghasilan tetap, bahkan terkadang berkurang. Adapun yang miris, karena akhir pekan belum mendapat gaji dari mandor.
Bulan ini hujan dipenuhi gemuruh guntur, seolah para malaikat sedang menabuh genderang untuk menertawakan keluguan keturunan anak Adam. Ketika gelombang asbes rumah mengalirkan air hujan serupa air terjun dari atap-atap rumah penduduk, Pak Kadus yang tidak lain merupakan saudara orang tua Dhevin, mengetuk rumah kontrakan. Dia membawa payung berwarna hitam. Membawa puluhan surat undangan pengambilan Bansos Raskin di dalam kantong plastik putih. Pak kardus mengenalkan kacamata tebal, seperti senyumnya yang ditebal-tebalkan supaya memberikan kesan ramah setiap menyapa penduduk. Emak mempersilakan Pak Kaus masuk. Mereka duduk pada bangku kayu panjang tidak empuk serupa sofa di rumah Reyfan.
“Mohon maaf mengganggu waktu panjenengan Emak. Jadi begini, kedatangan saya mendapat amanah dari kelurahan untuk mengantar undangan pengambilan raskin di balai desa,” ucap Pak Kadus dengan intonasi lembut.
Sikapnya sopan. Dia duduk dengan kaki dirapatkan. Dia batuk sebentar sebagai jeda, barangkali memberi waktu kepada Emak untuk memilah-milih jawaban, meski sebenarnya sudah terbalas jelas dengan anggukan.
“Terima kasih, Pak. Tugas panjenengan memang sangat mulia, semoga mendapat balasan setimpal dari Gusti Allah.”
Emak memang paling pintar melambungkan hati orang. Pak Kadus tidak berlama-lama. Masih banyak undangan belum terdistribusikan. Sebelum berpamitan dia sempat melongok keluar jendela. Hujan masih mendayu-dayu. Aroma petrichor juga terhirup kental. Ia sedikit mendesah kemudian ucap perpisahan.
“Nanti saja, Pak. Hujannya belum reda,” ujar Emak memberikan simpati.
Pak kades berisi kukuh, maka Emak tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula ucapannya tadi barangkali hanya basa-basi.
Emak terus menggumamkan syukur. Aku yang bersembunyi di balik kelambu hanya mampu pasrah. Rasanya seperti Ada hal paling memalukan, sesuatu yang ingin ditutup tetapi tidak mampu. KK Emak tercatat sebagai orang miskin. Bisa jadi kedatangan Pak kades memang menghantarkan rizki, akan tetapi haruskah dengan embel-embel miskin? Aku menolak menjadi miskin meski di luar sana banyak yang menginginkan status tersebut.
Suatu hari ketika gerobak sayur sedang mangkal di depan rumah Alfan, ibu-ibu tetangga yang sedang memilih-milih sayuran seperti biasanya meramaikan pagi dengan obrolan meriah.
“Dapat berapa kilo beras bulog-nya kemarin, Bu?” tanya Bu RT, sosok yang seharusnya tidak layak melempar pertanyaan demikian. Dia perlu mengayomi dan menentramkan perasaan warga, bukan justru mengompori berlandaskan iri.
“Sepuluh kilo, Bu. Lumayan bisa menambah persediaan,” sahut ibu-ibu yang mendapat manfaat dilabeli miskin.
“Sebenarnya saya ini bukan orang mampu, Jeng! Tetapi kok enggak dapat bantuan ya?” sambung ibu sosialita yang mengibaskan wajah menggunakan kipas angin, padahal udara sedang berembun. Kabut tipis menyelimuti atap-atap rumah. Karena gerakannya gelang-gelang yang melingkar di lengan saling bergemerincing.
“Kamu mah orang kaya, tidak pantas mendapat bantuan, justru yang layak memberikan bantuan!” ejek Bu RT.
Ibu yang mendapat data raskin menjadi tersudut. Ia bergegas memantapkan pilihan dengan meraih satu ikat kangkung dan dua keranjang pindang.
“Saya pulang dulu, Bu! Kasihan anak-anak di rumah rewel.”
Diketahui ibu-ibu itu telah memiliki 4 anak dengan jarak dekat, tidak memenuhi standar Keluarga Berencana. Selain mendapat label miskin dia juga kerap diperbincangkan ketika posyandu. Pasalnya anak terakhir terindikasi stunting.