Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #9

Keberangkatan

Emak, benar-benar kutinggalkan. Jarak membentang puluhan ribu mill terlembar di depan mata. Aku harus menahan rindu yang makin hari bertambah bergejolak. Rindu yang kelak akan aku lunasi dengan keberhasilan. Aku dan Pak Radit diberangkatkan ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Kami berdua melakukan penerbangan non-domestik. Kupandangi area bandara, mataku masih begitu awas karena asing dengan obyek-obyek yang kusaksikan. Manusia-manusia terus bergerak, ada yang keluar ada juga yang terus masuk untuk melakukan check in. Beberapa kepala berdiri mematung di bawah Flight Information Display System yang menampilkan jadwal penerbangan dan gate keberangkatan.

Jujur aku tidak begitu mengerti, tetapi aku memaksa otakku untuk paham supaya tidak salah melakukan perjalanan. Koper-koper yang mengikuti perjalanan setiap orang menjadi saksi harapan dan kenangan yang diangkut dari kota keberangkatan, maupun kota yang ditinggalkan. Ada ratapan di setiap kepedihan, tetapi selalu ada hal baru dari setiap langkah dalam tujuan. Meninggalkan bukan berarti berpisah untuk selamanya, sebab pergi untuk pulang. Serupa aku dan Pak Radit—berusaha melakukan perjalanan panjang demi memendekkan jarak pertemuan dengan keluarga terkasih di kampung halaman. Semakin dekat dengan pekerjaan, semakin cepat kelak aku dan dia akan kembali ke Indonesia, menenteng berbagai oleh-oleh keringat untuk mengurai senyum-senyum kusut yang selama ini disembunyikan waktu.

Ada hal yang tidak berhenti membuat detak jantungku berdentum-dentum seperti lonceng baru dipukul. Bunyinya menjadi berisik lalu mendebarkan, jika terlalu berlebihan maka itu terasa sakit, membuahkan kecemasan akut tidak bisa ditoleransi. Bahkan keringat dingin membutir di pelipis. Untuk pertama kalinya aku diperiksa keamanan oleh petugas di bandara. Baik secara fisik—khawatir ada benda tajam yang kuselundupkan di kantong celana, atau pun tempat tersembunyi, lalu koper yang kubawa, tidak lupa ransel yang digendong di punggung. Aku merasa seperti seorang tersangka kejahatan sedang dikuliti kesalahannya, apalagi ketika barang bawaanku diminta petugas untuk dimasukkan ke bagasi pesawat. Seolah-olah barang bukti tindakan tak bermoralku sedang disita petugas berwenang. Aku sadar diri bukan orang jahat, tidak pula menyimpan senjata tajam, tetapi perasaan khawatir itu datang tanpa persetujuan. Mengetuk perasaanku hingga kewarasanku nyaris hilang. Aku takut paling akut. Benar-benar pengalaman pertama mengesankan berada di bandara. Jika kuberitahu Reyfan maupun Alfan, mereka berdua pasti akan mentertawakan kepolosanku ini.

Selain itu aku juga was-was salah masuk gate, maka jangan heran jika manik mataku terus mengecek digital boarding pass yang tertera di layar ponselku.

Pak Radit menepuk bahuku, seolah dia ingin mengabarkan bahwa diriku tidak perlu takut apalagi merasa cemas, ada orang dewasa di sebelahku. Aku tidak sendirian, aku pergi bersama teman seperjuangan sekalipun usia kami terpaut sangat jauh. Begitu kiranya Pak Radit mengeluarkan kalimat panjang. Sayangnya, dia tidak bersuara kecuali mengulum sebuah senyum pendek. Sempat terbesit pikiran usil dalam benakku, mungkinkah Pak Radit juga baru pertama kali naik pesawat. Jika benar, maka kami berdua bagaikan sedang mencari anak panah sebagai petunjuk arah pulang supaya tidak tersesat dalam kehidupan. Lantas bagaimana jika akhirnya kami berdua tersesat? Tidak lucu! Begitu banyak orang yang akan mentertawakanku—mengutuk bertindak gila karena tak tahu arah di negara orang.

Setelah menunggu agak lama—mungkin lama karena aku tidak sabar ingin meninggalkan Indonesia, dipenuhi pertanyaan-pertanyaan perihal nasib di masa mendatang. Hal itu menjadikan waktu tunggu bergerak lambat sampai aku bosan dan terus menghentakkan kakiku di atas lantai. Aku seperti bocah yang diajak piknik ayahnya ke luar kota untuk pertama kalinya. Naik ke pesawat melalui garbarata menjadi momen bersejarah yang tidak akan terlupakan oleh langkah kakiku. Apalagi aku nyaris tergelincir jika tidak ada Pak Radit yang buru-buru mencekal lenganku. Entah apa jadinya aku detik itu jikalau aku berangkat tanpa Pak Radit. Takdir memang sudah sedemikian rapi mengatur kehidupan manusia—bahkan hal malang pun sudah terstruktur dengan pas tanpa kekurangan.

“Pak, berapa kali kau naik pesawat?” tanyaku kepada Pak Radit yang terlihat lebih tenang. Gurat-gurat ketegangan tidak mampu kubaca dari wajahnya. Dia cenderung memahami situasi, melihat ke area sekitar tanpa membawa perasaan was-was. Setiap langkahnya sudah dipastikan dengan keyakinan.

“Memangnya kenapa?”

Lihat selengkapnya