Pagi itu sirrus berhamburan, serupa kapas-kapas tipis yang terbang di langit. Seekor burung kesepian melintas menyusul rombongan yang telah dulu mencari makan. Sawah dan irigasinya beriring-iringan. Gemericik air menyatu dengan dengung kesibukan masyarakat Magelang. Udara yang menyergap bulu kuduk dan pertukaran obrolan para pembeli dengan pemberi obral dagangan menjadi latar kehidupan.
Panggung itu berdiri di dekat kerumunan orang pasar, tepat di pusat kecamatan desa. Menyewa gedung pertemuan para orang-orang penting, meminjam sound dan kursi-kursi. Sudah pasti momen kelulusan Juni di tahun pergantian semester dan wajah anak-anak baru ini, akan berakhir dramatis.
Pengunjung pasar yang melintas akan melongok ke arah kecamatan, mendengar melodi lembut yang mendayu-dayu di tengah lalu lalang anak Adam berutinitas. Dekor panggung dibuat seminimalis dengan kesan modern, beberapa pot bunga menjadi pelengkap, lampu-lampu bulan diletakkan pada pinggiran panggung untuk menambah nilai artistik.
Pertemuan dengan teman dan keakraban guru-guru di ruang kelas akan diusir dalam momen perpisahan. Kepala Sekolah akan memberikan sambutan dilingkupi dengan nasehat-nasehat perihal perjuangan supaya masa depan anak bangsa menjadi cerah. Pertanyaanku memangnya masa depan cerah itu seperti apa?
Si Reyfan dan Dhevin mementaskan lagu perpisahan. Suaranya mengalun haru sementara petikan gitar Dhevin begitu pedih dan ritmis. Mereka berdua tidak tampak seperti pemuda nakal yang sering membuat onar. Sebaliknya seumpama anak jenius yang sedang memamerkan bakat terpendam. Mereka kompak saling melengkapi artikulasi dan melodinya. Menghanyutkan puluhan wali murid yang duduk di kursi undangan. Bu Amina yang duduk di baris pertengahan sampai dibuat menangis tersedu-sedu. Demikian juga dengan Pak Trimo yang sudah merelakan jam kerjanya demi menyaksikan pentas Reyfan.
Para wali murid menyambut perpisahan dengan memakai pakaian paling layak mereka. Menyetrika sampai halus bahkan ada yang membeli baru. Betapa mereka ingin tampil sempurna dengan sopan di hadapan anak-anak. Lantas bagaimana anak-anak mereka menyambut pelepasan jenjang pendidikan? Setelah mencium punggung guru dan orang tua? Ketika panggung dibongkar kursi-kursi disusun dalam tumpukan membukit. Lantas gedung lengang, kerumunan telah bubar sementara mereka menolak pulang.
“Ibu dan Bapak jalan duluan saja, aku masih ada urusan dengan teman-teman di belakang.” Reyfan berbicara tanpa berpikir bahwa tindakannya salah.
Alangkah buruknya aku pun demikian. Aku menyuruh Emak pulang, padahal dari bening mata letihnya dia berharap aku mau diajak pulang bersama.
Aku berkumpul beramai-ramai dengan teman seperjuangan merayakan kebebasan setelah dipenjara dengan mata pelajaran sekolah. Pikiran berat aku tinggal di kontrakan reyot, sementara tubuh aku parkir di jalanan. Kami main kebut-kebutan, menodai seragam dengan pilox, membungkus baju batik dan kebaya kaum gadis. Setelah prosesi perpisahan mengharu biru dengan pakaian adat, kami sengaja mengganti kostum dengan seragam OSIS. Sungguh lugu tetapi amat pilu. Lantas kami makan-makan sampai uang jajan sekarat. Kami lupa waktu, melawan kantuk dan begadang di emper trotoar. Seragam telah kami lucuti, diganti kaos yang dibawa dari rumah. Kami memang sudah merencanakan semuanya dengan rapi dan rapat.
Ada yang berpikir itu merupakan hari terakhir kami bersama dengan teman sekelas, maka berdoa supaya pagi batal bangun. Reyfan dan Dhevin meromantisasi momen sakral itu dengan petikan gitar.
“Kelak kita tetap adakan reuni, ya? Dan harus datang semua, jangan ada yang ijin!” Anak gadis yang sering dipanggil Felisha mendramatisir suasana, seolah besok sudah mau kiamat.
“Kalian pada mau melanjutkan kemana?”
“Ke hatimu, Fel!” goda Reyfan.
“Serius dong jawabnya!”
“Lah kamunya diseriusin malah nganggapnya bercanda!” sahut Dhevin.
“Ih kalian ini, kalau kamu mau ke mana, Tang?”
Pertanyaan Felisha membuat lamunanku buyar. Semula aku sedang memproyeksikan masa depan di langit yang gelap. Kelak di langit manakah aku akan berpijak?