Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #11

Adaptasi

Kapal-kapal menepi di pinggiran dermaga. Ada yang datang, ada pula yang berangkat berlayar. Crane-crane terus beroperasi demi memuat maupun menurunkan barang bawaan. Truk-truk besar dan forklift saling berlomba menuntaskan pekerjaan mereka di pelabuhan. Sayangnya aku tidak sempat menikmati kesibukan di pelabuhan Spanyol ini.

Tidak kusangka aku sudah terjebak di atas kapal ini selama berhari-hari. Awalnya tubuhku terasa dingin, kepalaku juga terus berpendar. Ada pening yang menyiksa keseimbangan tubuh. Miris aku terserang demam tinggi. Maka selama berhari-hari aku terjebak di dalam bunk tanpa peduli situasi di luar. Aku menggigil dan pantas jika disebut sekarat. Sampai kapal berlayar usai bersandar di dermaga selama sepekan, kondisiku tetap tidak ada tanda-tanda akan stabil. Lambung kuisi dengan banyak minum. Mulutku terasa asin bercampur pahit. Aku sulit menelan makanan—apalagi makanan di dalam kapal ini. Bukan hanya fisik yang perlu adaptasi, melainkan lambung dan tubuhku juga demikian. Orang menyebutnya mabuk laut. Benar-benar tidak memiliki daya. Berat badanku bahkan turun drastis. Berkali-kali cairan di lambungku muntah, pernah sampai kuning menyala yang artinya cairan empedu pun keluar. Aku kehilangan banyak cairan.

Bagaimana pun juga aku harus cepat bangkit, tidak mungkin berleha-leha terlalu lama di benua orang. Ya Tuhan, aku kini lincah sekali menyebut kata benua? Tidak kusangka jika Benua Asia mendadak terasa begitu ciut lantaran aku terlempar ke Benua Eropa. Kampungku hanya butiran debu tidak kasap dari langit. Masalahnya kondisiku menurun drastis. Kebanggaanku bisa menjelajahi dunia lenyap seketika. Aku dihantui ketakutan akut tidak bisa melihat wajah keriput Emak di kampung. Sakit tanpa perawatan dari orang terkasih, rasanya sangat menyiksa. Apalagi rinduku menjalar sampai uluh hati sehingga udara yang kuhirup terasa sesak. Pada siapa aku meminta bantuan? Allah? Di mana Engkau? Di mana saat aku begitu membutuhkan-Mu? Aku menggigil di malam hari, mencari-cari kain tebal untuk membungkus tubuhku. Aku serupa ikan-ikan marlin yang dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Suaraku serak dan berkali-kali aku batuk.

Pada gelombang ombak laut yang jarang tenang, pada senja ketika tenggelam di batas cakrawala yang mengagumkan, pada malam dan rasi-rasi bintang yang menggelantung di langit Eropa, jujur aku ingin sekali memekik, Emak tolong aku! Biasanya wanita tua itu akan panik jika aku jatuh sakit. Apalagi sampai menggigil di tengah malam seperti ini. Flu sedikit saja akan membuatnya khawatir, bagaimana jika dia kini tahu anaknya yang nekat merantau justru tersiksa karena kesulitan bertahan hidup? Apakah hanya aku saja? Faktanya teman seperjuanganku dari Indonesia juga mengalami hal serupa. Pak Radit terkurung dalam kelemahannya yang membuatnya bungkam, enggan mengajakku bicara berhari-hari. Situasinya memilukan. Baru kusadari, bertahan di negeri orang bukan perkara gampang. Hidup ini keras, mencari uang butuh pengorbanan yang mohon maaf—kadang tidak masuk akal.

Hingga keajaiban itu datang dengan sisa-sisa tenaga yang masih kumiliki setelah bergulat dengan mabuk laut selama hampir sebulan, pada akhirnya aku bisa berdiri. Sungguh aku merasa seperti dibangunkan dari koma panjang yang mengerikan. Aku merasa bersyukur karena napasku pada akhirnya berembus panjang. Perlahan aku bisa menikmati destinasi samudera yang terus bergolak.

Demi mengusir bosan sebab belum mendapat instruksi untuk melakukan pekerjaan—aku naik ke dek paling atas, menepi di dekat reling kapal. Manik mataku awas mengamati air laut yang terus bergolak. Destinasi alam begitu memukau. Langit biru dengan gumpalan awan yang seolah-olah akan tenggelam di batas cakrawala. Aku mengecek ponselku, memeriksa pesan-pesan yang masuk selama berada di daratan. Di atas laut sulit menemukan sinyal. Aku tidak bisa membayangkan rasa sepi akibat rinduku pada negara kelahiran jika komunikasiku ke depannya akan terombang-ambing oleh ombak laut.

‘Lintang! Sudah tiba di mana?’

‘Lintang, apakah kau selamat? Kau masih hidup kan?’

Lihat selengkapnya