Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #12

Membolos


‘Lintang, kau di mana? Segera ke sekolah sudah ditunggu sopir dan teman-teman.’

‘Berangkatlah tanpa diriku!’

‘Kenapa? Kamu tidak mau merayakan kebersamaan terakhir kita sebagai siswa kelas XII?”

‘Kebersamaan kita semu, pada hakekatnya di mana-mana aku selalu sendiri.’

Jawabanku sangat dingin, tetapi itulah kalimat pamungkas yang tepat untuk mengakhiri obrolan. Aku merasa waktu santaiku dengan sebuah angin dan kicau burung di waktu esok—tatkala ada rimbunan daun padi sedang melenggok, sementara gemericik arus irigasi sawah bergerak ritmis—terganggu. Koneksi internet jadul itu lantas aku matikan.

Teman-temanku sedang berpesta merayakan perpisahan. Tujuannya ke pantai di daerah Jawa Barat. Sebuah piknik yang sedang kuhindari tanpa persetujuan wali kelas. Pasalnya, sekalipun kita mengundurkan diri, tetap harus membayar kursi. Akan tetapi dengan sangat pengecutnya aku tidak ikut dan juga tidak membayar. Tragisnya aku juga tidak mengajukan ijin. Benar-benar pengecut bukan?

“Maksudmu apa, Tang?” selidik Alfan yang baru saja melempar umpan ke aliran irigasi.

Pagi ini aku menyeret Alfan yang libur karena lulus dan belum berangkat ke Surabaya. Rencananya dia mau ke kota tersebut untuk melanjutkan kehidupan di dunia pelayaran secara nyata. Kupaksa dirinya lompat dari tempat tidur selepas menunaikan ibadah sujud subuh menuju sawah di dekat kampung. Biasanya aku dan dirinya akan meliuk-liuk di dalam pasar untuk mengusir bosan. Tetapi kali itu, pancing dan alam bebas membuatku lebih nyaman.

“Selalu sendiri bagaimana? Kau pikir aku hantu sawah?”

“Aku ada agenda piknik hari ini di sekolah.”

“Lalu kamu membolos begitu saja?”

Bibirku bungkam. Pandangan terpusat pada pergerakan air. Di tebing ada bunga lantana mekar yang sedang dihinggapi kupu-kupu bersayap kuning.

“Aduh, Tang! Plis deh jangan cari gara-gara supaya namamu viral!”

“Lah, aku sudah bilang tidak mau ikut, nggak salah kan?”

“Semoga gurumu diberi kesabaran menghadapi siswa membingungkan sepertimu!” ledek Alfan. “Masalahmu biaya?” tebak Alfan.

“Jangan membahas biaya, aku sedang malas membahas topik itu!”

“Lantas?”

“Minggu lalu sewaktu dirimu menginap di rumahku ….”

“Ya, kenapa?”

Aku masih teringat dengan tendangan Alfan malam itu; wajah penuh bebas semu teman-teman sekolah dan suara lembut Felisha, remang malam dan benda pencahayaan trotoar, masih tergambar nyata. Latar kejadian yang menjebak Alfan menginap di gubuk sewaan Emak.

“Kenapa?” Alfan tidak sabar.

“Pak Kadus main ke rumah, dia menawarkan pekerjaan menjadi buruh bangunan,” ucapku menjelaskan.

Reaksinya di luar dugaanku. Dia tertawa terpingkal-pingkal sampai senar pancingnya bergerak tidak seimbang. Sendal jepit yang dipakai terlempar ke kali irigasi sawah—hanyut tanpa perlawanan.

Lihat selengkapnya