Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #13

Laut Sargasso


“Kapten, apa yang harus saya lakukan?” tanyaku penuh keberanian dengan aksen Inggris yang belum fasih.

Sebuah pertanyaan pendek yang memiliki makna panjang, artinya aku sudah punya tekad bulat menerjang ombak dan mengitari gugusan bintang di langit. Kalimat yang siap dengan konsekuensi di masa depan. Bukti tersirat bahwa fisikku sudah mampu dipekerjakan. Lalu tidak menunggu lama setelah pertanyaan itu keluar dari bibirku, beberapa hari kemudian ketika kapal operasi menghampiri, namaku dipanggil untuk pindah ke kapal yang lebih kecil. Ingin teriak marah pun aku tidak sanggup, semua hanya bisa kukubur rapat dalam diam. Aku tidak tahu apakah kelak akan bisa pulang, pikirku sekarang hanyalah bertahan hidup melawan badai di depan mata.

Maret—musim panas, pada titik koordinat 22° - 38° LU dan 40° - 75° di samudera Atlantik Utara, tepatnya di atas permukaan Laut Sargasso, hidupku serasa diombang-ambingkan oleh ombak. Kupikir mabukku akan berhenti di kapal logistik, rupanya aku keliru, sensasi kapal kecil lebih membuat perutku mual. Aku kembali lemas dan ingin menyerah. Tetapi di kapal ini aku sudah tidak bisa rebah seperti sebelumnya. Di sini aku termasuk ABK paling muda—paling malang lantaran sekecil ini sudah kena tipu ke negeri orang.

Kapten menatapku tajam, seolah ada kalimat panjang yang ingin diucapkan, tetapi dia urung, bergegas meminta passport, visa dan buku laut milikku juga Pak Radit. Entah apa maksudnya, aku belum begitu paham, jelasnya kini aku tinggal badan tanpa identitas selain keberanian melawan arus. Gulungan ombak yang bergolak di atas Laut Sargasso hanya berkisar 1-1,5 meter, terbilang tenang dan stabil. Aku mulai terbiasa bernapas di atas air–ya sepanjang mata menatap hanyalah bentangan air yang seolah menjadi dataran tanpa ujung. Kawan, pernahkah kau bermain ke kolam renang, di sana kau akan menjumpai arena permainan waterboom. Menjadikan air sebagai penghilang stres dan teman akrab, justru menyenangkan ketimbangkan memikirkan nasib apalagi bayang-bayang maut. Pernah ada kisah, seorang ABK yang meninggal dunia di atas kapal, ketika itu pelabuhan masih jauh. Kira-kira apa yang terpikirkan dalam benakmu? Laut yang luas selain menjadi mata pencaharian manusia, ia juga kuburan kaum-kaum yang pulang dengan kenangan.

Lihat selengkapnya