Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #14

Tekad

Hujan menyeruduk masuk ke ruang tamu rumah kontrakan. Kursi bambu reyot itu bertambah menyedihkan lantaran permukaannya tidak bisa diduduki. Air meluncur deras, meresap ke dalam tanah di lantai ruang yang memang tidak dikeramik. Emak sendiri sedang berdoa di kamar, baru saja dia tunaikan sembahyang isya tidak berjamaah, sebab jalanan penuh dengan air dan sampah yang membludak dari selokan. Di luar gelap dan dingin membaur menjadi satu. Tiada pencahayaan sedikitpun yang tersisa sebab kantor PLN memadamkan listrik—khawatir ada pohon tumbang mengenai kabel yang bisa menimbulkan konslet atau justru memicu kebakaran. Sementara di rumahku hanya ada satu lilin di ruang tengah—ruang yang dijadikan Emak untuk membungkus jajan camilan.

Aku termenung di ruang tamu, duduk sendirian di bangku-bangku yang tidak terkena percikan air hujan. Banyak hal berterbangan di kepala. Pengalaman piknik kemarin misalnya, teman-temanku sungguh menikmati perjalanan pendidikan mereka di jenjang menengah. Sementara diriku terjebak dengan pertanyaan, mengapa aku berbeda? Mereka blusukan ke pusat oleh-oleh, membelanjakan uang saku tanpa pertimbangan. Seolah mereka benar-benar diberi keleluasaan untuk menghamburkan rupiah: membeli kaos baru, menawar souvenir dan topi yang bukan kebutuhan primer. Akan tetapi itu dianggap penting bahkan diseragamkan dengan teman satu kelas. Kalau aku punya uang maka ingin kugunakan untuk membantu Emak. Sayangnya dengan apa aku bisa mengumpulkan uang?

Ketika mati lampu ditemani hujan mendayu-dayu, perasaanku amat nanar dan ambigu. Nyatanya sekolah teknik otomotif selama 3 tahun di SMK tidak aku kuasai. Aku masukkan dorongan ingin segera mendapatkan pekerjaan. Sayangnya sekolah tidak memberiku koneksi untuk masuk ke sebuah perusahaan otomotif lantaran nilaiku pas-pasan. Mendadak terbesit dalam pikiranku untuk merantau ke luar kota. Asal jangan menjadi buruh bangunan saja, aku bisa terima. Haruskah aku pertimbangkan pula tawaran Alfan perihal dunia pelayaran? Bagaimana cara hidup di atas laut? Terombang-ambing air samudra, sementara bermain ke pelabuhan saja aku belum pernah? Anehnya jari-jemariku seperti tergelincir mengetik pesan yang kukirim ke kontak Alfan. Malam itu ketika petir menyambar langit—barangkali pikiranku sudah kehilangan kewarasannya.

‘Alfan … apa yang harus kulakukan jika aku mau berlayar?’

‘Maksudmu mau bekerja di kapal?’ Alfan langsung memberi balasan.

‘Ya.’

Bisa jadi pemuda dengan rambut cepak dan gigi serapi gigi-gigi paus itu sudah menyeringai di bawah gelap, atau mungkin di depan lilin yang sedang dia jaga serupa babi ngepet. Hmm … pikiranku benar-benar kacau. Harga diri dan nasib sedang bertempur di dalam dada.

‘Diklat, berangkatlah ke Bekasi. Besok pagi ke rumahku, ada banyak informasi yang perlu disampaikan padamu!’

‘Kalau Diklat apakah berbayar?’

‘Kamar mandi umum saja berbayar, Tang. Apalagi Diklat Pelayaran. Gunakan otakmu baik-baik, jangan sembrono. Tetapi, yakinlah jika kemauanmu dan tekadmu besar pasti ada jalannya, Lintang!’

Kembali aku terpekur, begini rupanya menjelang mendewasakan diri. Itu benar-benar sulit. Emak yang terbatuk-batuk kedinginan membuatku merintih kasihan. Sayang tidak ada yang bisa dilakukan selain merapatkan jendela-jendela reyot. Hujan di luar berangsur reda, pergerakannya yang jelas mulai memperlambat rintik. Ngengat dan laron berbondong-bondong mengerubungi pusat cahaya. Tepat pada pukul 01.00 WIB lampu menyala terang. Emak bangkit menuju tempatku. Aku berpura tidur dengan menelungkupkan kepala di permukaan meja kayu.

“Lintang, sudahkah kau tidur?” Tangan keriputnya mengelus bahuku. “Pindahlah ke kamar, di sini basah!” Mulailah dia mengguncang tubuhku.

Aku berpura menguap lantas merangkak menuju tempat tidur. Akan tetapi Emak membuat jantungku tersentak.

“Sudahkah kau pikirkan matang-matang tawaran Pak Kadus?”

“Ah, Mak. Aku sangat ngantuk!”

“Eman loh, kesempatan tidak datang dua kali!”

Apa benar menjadi kuli bangunan merupakan kesempatanku? Jangan bergurau, Mak. Hidupku sudah susah tanpa sosok Bapak. Haruskah bersambung hidup dengan menjadi tulang punggung di bawah proyek-proyek orang asing?

“Aku tidak mau mroyek, Mak. Aku mau berlayar!”

“Welah dalah, Lintang!” jerit Emak.

Sayap-sayap laron berguguran di waktu esok. Aroma petrichor terhirup khas di lubang hidung. Tanah begitu basah bercampur dengan telek ayam milik tetangga. Rumput-rumput mungil justru terlihat lebih segar dari biasanya. Hujan memang membawa kehidupan bagi banyak makhluk, pun demikian dengan kedatangan Alfan membawa senyum menjengkelkannya. Tatapan tiada dosa itu di mataku selalu saja kugambarkan sebagai pelecehan.

“Bukankah kau menyuruhku ke rumahmu?”

Aku sedikit terganggu dengan kedatangannya. Mengobrol serius tidak nyaman jika berlangsung di kandang sendiri.

“Nah itu dia masalahnya, takdirlah yang mengutusku kemari. Ibuku kebetulan panen pisang dari pasar, Dia menyuruhku mengantar kepada Emak. Haruskah aku menjadi durhaka karena melanggar sebuah perintah?”

“Buruan masuk! Emak di dapur sedang ngulek sambel.”

“Oke, Bro. Kita ngobrol di pasar saja sambil ngopi.”

Gayanya serupa tukang ojek pangkalan.

Lihat selengkapnya