Langit masih gelap. Fajar bahkan belum siap menyapa megahnya alam raya. Puffen Sargasso bahkan tidak terlihat berterbangan di atas rumput-rumput kekuningan. Bumi Atlantik Utara benar-benar masih terlelap, kecuali desing mesin kapal yang menciptakan turbulensi pada ombak-ombak di laut. Entah sudah berapa kali kapal asing ini hilir-mudik di tengah samudera, kadang berputar-putar di satu rute demi memburu penghuni laut itu. Anehnya bukannya merasa bosan, justru tertantang dengan kehidupan yang akan menjadi rutinitas ini. Di atas air ini mendadak aku lupa cara menikmati tidur. Kalau dulu di kampung aku banyak tidur dengan berselimut tebal sampai-sampai Emak berteriak lantang demi membangunkanku, maka di sini aku seperti tidak pernah tertidur. Dimulai dari pukul 01.00 AM, aku dan tim ABK lain wajib bangun, bergelung dengan angin lautan untuk melakukan longline setting. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan kerja sama secara tim, ada yang bertugas melepaskan pelampung disusul tali panjang yang menjadi mainline bagi tali-tali cabang yang diberi umpan. Longline panjangnya bermil-mil, jarak satu tali cabang dengan yang lain mencapai 20 m - 30 m. Supaya tali tetap lurus dan tidak terlihat di permukaan air laut maka kami menggunakan pelampung berbentuk serupa bola-bola di atas laut—buoy. Bayangkan betapa panjangnya tali tersebut sehingga disebut longline. Berjam-jam kami mengatur tali. Jika untung empat jam bisa selesai, jika tidak maka kadang sampai pukul enam pagi. Longline ini memang sering digunakan untuk menangkap bangsa ikan-ikan pelagis—ikan yang hidup di daerah permukaan laut dan hidup secara berkelompok. Kami akan melakukan setting sampai pukul 04.00 AM, bisa juga lebih dari itu jika ombak di laut sedang bergolak hebat. Biasanya ombak akan membuat kapal terombang-ambing seolah akan tenggelam ke dasar lautan pada musim-musim badai. Di bulan September laut seperti murka dan ingin menelan apa pun yang mengapung di permukaan. Gelombang air terus bergolak tanpa kenal lelah. Kapal yang membawa ikan-ikan hasil tangkapan bergelut dengan ombak yang tingginya mencapai puluhan meter. Jika tidak memungkinkan, situasi laut begitu menegangkan—awan begitu gelap dan langit terus memuntahkan hujan, maka kapal akan berhenti beroperasi tetapi tetap terombang-ambing di tengah samudera lepas. Kami taruhkan nyawa, tidak lagi memikirkan hidup di hari esok, hanya mampu pasrah apalagi jikalau angin bertiup amat kencang sehingga kapal nyaris terjungkir. Laut mendadak berubah menjadi neraka di mata kami, surga hanyalah kapal yang bisa membuat kami menikmati kopi hangat dan merapalkan doa-doa keselamatan. Dalam kondisi seperti ini, biasanya wajah lembut Emak mengapung di langit yang berisik. Aku rindu aroma tanah kelahiran.
Kawan, ambillah air ke dalam baskom lalu buatlah mainan kapal-kapalan dari kertas maupun kayu, kemudian kau goyangkan baskom itu ke kanan dan ke kiri, begitulah gelombang ombak yang tercipta dan terus membuat kapal terombang-ambing di laut, sementara aku adalah salah satu ABK di kapal tersebut. Ombaknya tidak setenang di pesisir pantai. Begitu bodohnya kami yang terlilit kebutuhan hidup, atau merekalah yang tidak punya hati nurani?
Sudahlah, waktu mendatang bukanlah kesempatan untuk mengumpat apalagi merutuki nasib, aku terlanjur terjun ke lautan, maka nasib kuserahkan semuanya pada gelombang ombak dan nahkodanya yang kami panggil Kapten.