Kota tidak berlaut memiliki pasar induk yang ramai sekalipun jalannya berliku dan penuh gelombang. Kota yang tidak memiliki bandar udara stasiun kereta api dan tentunya pelabuhan ini, amat membuat batinku damai. Tubuhnya diapit oleh sungai Progo yang berhulu di Gunung Sindoro, pernahkah kau menggumamkan mata air Gunung Sindoro yang familiar itu? Di sebelah baratnya digarisi oleh sungai Elo yang bertumpu di Gunung Merbabu. Begitu beruntung takdir melahirkanku di kota militer. Tidak kusangka kota ini sebentar lagi akan aku tinggalkan. Pada detik-detik akhir ini, waktu mempertemukanku dengan sosok kaum hawa yang sedang sibuk menyiapkan keberangkatannya menuju kota pendidikan. Dia mendorong pintu kaca, kemudian berdiri di tempat parkir. Daun-daun trembesi menjadi pengayom ubunnya yang dibalut jilbab bergo. Tangan mungilnya mengapit kantong plastik berisi peralatan mandi: sabun, shampo, deodoran, jajanan ringan dan sebuah sticky note. Mataku sungguh awas memperhatikannya sebab bulan-bulan lalu dia mengganggu kenyamananku menikmati engapnya duduk di dalam bus pariwisata. Barangkali karena harga diriku terasa luruh, lantaran dirinya mendapatiku mengenakan celana kolor.
Felisha. Nama yang enggan kusiulkan tetapi secara tiba-tiba membuatku bergumam.
“Kudengar kamu akan bekerja, Lintang?”
“Dari siapa?” responku to the point tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Misalkan baru beli apa? Eh kamu … sejak kapan di sini? Kok tahu aku kemari? Dan basa-basi lainnya yang lebih umum. Bertemu dengan Felisha di tempat belanja indomarket secara kebetulan membuatku bersikap serba salah. Apalagi dia sengaja menungguku di luar! Benar-benar momen kurang pas. Buru-buru aku sembunyikan kantong belanjaku yang berisi kaos dalam dan pencukur jenggot. Itu merupakan amunisi wajibku yang akan aku ajak merantau.
“Dari Reyfan!”
Rupanya bocah nakal itu update dengan perkembangan gosip di kampung. Memang tekadku yang ingin berlayar mendadak viral. Alfan tentu bukan pemuda yang mengumbar informasi, melainkan Emakku sendirilah yang menjadikannya alasan supaya permohonan pinjaman uang bisa dicairkan. Jujur aku malu setengah mati, tetapi tidak memiliki solusi lain yang mampu menjaga martabat diri.
“Katamu kamu mau bekerja dan kuliah. Apakah kau lupa ucapanmu malam dulu?”
“Malam itu aku bilang ingin bekerja, Fel.” Aku yakin sekali tidak pernah salah ucap.
Felisha terlihat sedang menuntut kebenaran.
Apa alasan yang membuatnya mempertahankan ucapanku di memorinya? Pikiranku beranjangsana terlampau jauh.
“Malam itu yang mengatakan aku ingin kuliah sambil bekerja adalah Reyfan. Bukan mulutku sendiri, Fel. Lagi pula aku punya alasan untuk tidak melanjutkan kuliah Fel, dan alasan itu mungkin dianggap remeh oleh sebagian besar manusia.”
“Kamu terlihat menyerah sebelum bertarung, Lintang. Meski begitu hati-hati dalam langkahmu. Aku mendukungmu dan akan selalu menunggumu pulang.”
Kalimat panjang yang membuat jantungku dipompa buru-buru. Entah apa sebabnya aku bergeming. Felisha menatapku sebentar, mengurai senyum yang menggugurkan kemurunganku selama bertahun-tahun terjebak dalam kemiskinan. Dia lantas melambaikan tangan disusul lari kecil menuju sepeda motornya. Suara lembutnya masih menggema di gendang telinga yang aku angkut menuju kota Bekasi. Perpisahan absurd itu kelak menjadi alasanku untuk bersegera pulang.
Perjalanan kurang lebih 6 jam harus ditempuh demi menggapai mimpi perubahan nasib perekonomian Emak. Kendaraan berlomba adu kecepatan di jalan tol, deru mesinnya mendesing di telinga, bercampur dengan nasehat Emak, meluruh pada optimisme kalimat penuh kelakar Alfan. Rasanya baru kemarin aku dan pemuda tampan itu nongkrong di pasar ikan. Belum lama pula kami dengar perdebatan panjang Reyfan dengan orang tuanya. Pernah berebut memutar saluran radio di teras rumah sederhananya. Kini jarak telah membentang lebar dan amat panjang. Masa muda kami seolah telah purna. Peluang duduk bersama menikmati singkong rebus atau pisang goreng di masa mendatang menjadi bayang abu-abu. Aku menitipkan malam Emak kepadanya. Kuharap dia mampu menjaga wanita tua kesepian itu dengan sebaik-baiknya.
Terus kupandangi kaca mobil travel yang mengangkut tekad dan ranselku ke kota baru. Kota yang penuh dengan semangat juang dari masa lalu. Setitik tempat tinggal manusia yang padat dengan kawasan industri. Gedung-gedung tinggi tertampung lensa mataku. Panasnya matahari terasa lebih menyengat daripada di kota seribu bunga. Selain kental dengan pabrik-pabriknya yang menjamur, bumi Bekasi juga dikenal sebagai Kota Patriot lantaran sejarah mencatat kegigihan dan keberanian rakyatnya dalam melawan penjajah.