Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #17

Dolar

Pernahkah kau melihat dolar? Pasti pernah, tetapi bagaimana dengan menyentuhnya? Itulah yang aku alami kini. Gelombang ombak yang terus mengamuk, bahkan kadang masuk ke dalam kapal tidak lagi membuatku gentar lantaran lembar keringat dan lelahku mampu kusentuh. Begini ceritanya, aku bekerja tinggal bermain dengan ikan-ikan dan ombak di lautan. Masalah uang sudah menjadi tanggung jawab kantor agensiku yang menerbangkan fisikku sampai ke tempat ini. Setelah melalui beberapa kekecewaan dan sudah mengambil keputusan untuk berdamai dengan takdir—aku mulai bersyukur. Setidaknya dari ikan tuna dan ikan hiulah aku bisa mengirimi uang Emak di kampung. Gajiku berupa dolar, jika dirupiahkan lumayan cukup untuk kebutuhan sebulan di kampung halaman. Meski nilainya tidak banyak, tetapi cukup untuk mengganti lelah Emak merapalkan doa-doa sepanjang malam. Emak juga bukan wanita tua boros, dia akan gesit menyisihkan uang itu untuk berbagai keperluan—membayar angsuran misalnya. Kutahu dia pasti dihantui perasaan khawatir sepanjang detik. Anak semata wayangnya berlayar di lautan lepas tanpa kawan yang menemani dari kampung halaman. Emak pasti akan susah tidur. Batuknya sampai-sampai terasa dekat di gendang telingaku. Uang yang ditransfer setiap bulannya, adalah bukti otentik bahwa di sini aku masih hidup dan masuk konteks baik-baik saja. Emak tidak perlu mengetahui cerita-cerita mirisku yang kena tipu. Dia terlalu tua untuk mengetahui semua kenyataan perih ini. Jadi, sekalipun aku berhasil menghubungi Emak—mampu mendengar suara lirihnya yang serak, bahkan merekam tangis palsu yang disembunyikan malu-malu itu—aku tetap tidak mengurai perjalanan panjangku yang sebenarnya tersiksa. Sejujurnya aku sangat bersyukur karena almarhum Bapak memberiku nama Lintang.

Dulu sewaktu aku masih kecil, Emak selalu bercerita padaku, bahwasannya Bapak berharap aku bisa menerangi gelapnya kehidupan. Meski gelap hidup ini masih absurd, apakah sekadar kemiskinan? Atau lantaran langkah kaki yang belum menemukan jalan terang? Kata Emak, dahulu Bapak suka sekali melihat langit.

‘Sering-seringlah melihat langit, Lintang. Begitu pesan Bapakmu, di langit kau bisa menemukan arah, di langit kau bisa menghilangkan setres, tiada beban yang menggantung di langit. Langit adalah potret seni yang benar-benar indah, Lintang. Di antara kegelapan masih banyak titik-titik cahaya kecil yang bersinar.’

Jadi bintang memang dilihat terlalu kecil dari bumi. Akan tetapi sesungguhnya dia besar dan berdiri sendiri tanpa bantuan dari planet-planet lain.

‘Suatu hari nanti kalau kau besar, jadilah Lintang yang tidak lupa pada langit. Hamparan samudera di dunia ini belum ada apa-apanya dengan kemegahan bintang di angkasa. Kau boleh merasa ciut, kau boleh putus asa, tetapi ingat engkau Lintang, kau bintang kecil yang bersinar terang, dari kejauhan tampak mungil, tetapi sebenarnya kau memiliki kekuatan dahsyat yang tidak bisa ditandingi oleh apa pun. Tumbuhlah dewasa dan jika kau rindu pada Bapak, lihatlah langit, maka anggap saja bintang-bintang itu dirimu yang sedang mendapat peluk hangat dari Bapak.’

Suara Emak menyatu dengan gulungan ombak setinggi dua puluh meter yang baru saja menghantam bahu kapal. Mantel plastik yang aku kenakan terasa percuma, faktanya tubuhku tetap basah kuyup sampai ke pori-pori kulit. Kapal yang tidak pernah seimbang, menjadi rutinitas yang membuat pencernaanku menjadi kebal dengan mual. Kadang di sela-sela setting, jika memungkinkan aku merenung sebentar memandangi langit luas, aku mendongakkan kepala. Kupandangi langit luas itu, jika dipikir-pikir memang benar langit begitu memukau. Bagaimana mungkin bola-bola gas bercahaya itu bisa menggantung di angkasa? Kenapa tidak jatuh ke bumi? Kenapa tidak bertabrakan? Ada kekuatan maha hebat yang tersembunyi di jagad raya. Guncangan ombak di lautan ini belum seberapa jika dikaitkan dengan kekuasaan-Nya. Aku mengambangkan senyum sebentar. Angin laut menerpa permukaan mantel yang kukenakan, membuatnya lebih melekat pada pakaian basah yang sudah terkontaminasi dengan bau amis dan keringat. Di antara kantuk dan gigil malam, aku sering merasakan kehangatan peluk Bapak dari bintang-bintang yang berhamburan. Sayangnya, badai kadang membuatku kehilangan arah. Aku kembali meringkuk dalam sudut ketakutan. Khawatir tidak bisa pulang, cemas senyum Emak hanya angan-angan. Jika benar Lintang memiliki cahaya sendiri—seharunya aku tidak bernasib malang menjadi ABK. Ada asin yang menggelegak di kerongkongan.

Bertahan kuat di laut orang tidak semudah membalik telapak tangan. Bibir dan perasaan bisa diajak diskusi, tetapi akal pikiran dan naluri kerap kali berontak ingin menyerah. Tenggelam. Mengubur dalam harapan dan mimpi luguku—mimpi ingin tidur lelap di bawah atap tanpa khawatir bocor karena hujan. Rasanya mimpi itu amatlah tidak bernilai jika dibandingkan denganku yang kini bisa merasakan hujan di atas lautan tanpa batas. Bukankah lelap di bawah atap bocor menjadi lebih masuk akal? Kapal terus berlayar di bawah rasi-rasi bintang. Perihal benda bercahaya di langit itu mendadak mengingatkanku dengan ilmu Astronomi di sekolah. Aku sekolah di kejuruan, tetapi cerita Emak perihal Bapak selalu membuatku penasaran. Maka buku-buku tentang bintang selalu aku baca sampai tandas, terkadang sampai hari liburku lupa main catur di depan rumah Alfan.

Ketika bangun tidur sebelum memulai hauling, aku akan berdiri di haluan kapal, memandangi langit dengan puas—sepuas aku merindukan aroma makanan di Indonesia. Aku selalu menuding angkasa, menarik garis-garis dari bintang yang berhamburan, mencari rasi Biduk—Ursa Major, sebab itulah tandanya aku benar-benar bergerak ke arah utara. Di lain hari aku menerka-nerka rasi Lyra maupun Ursa Minor—Beruang Kecil yang identik dengan bintang utara yakni, Polaris. Ibu jariku tidak pernah berhenti menuding langit. Angkasa yang membentang itu serupa lembar kertas hitam yang perlu ditarik garisnya secara vertikal, horisontal maupun zig-zag demi membaca navigasi kehidupan.

Lihat selengkapnya