Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #18

Kontrak yang Tunai

Indonesia, aku menggumam. Kusaksikan dari langit, begitu kecil dengan pendar-pendar lampu gedung pencakar langit. Negara Berkembang itu mendadak bisa kugenggam dalam satu kali sentilan jari telunjuk. Aku amatlah lucu. Jangan tertawakan aku. Lagi pula kepergianku juga bukan untuk menjadi bahan lelucon, apalagi omel-omelan temanku sendiri. Sudah kukabarkan sebelumnya, di laut aku kesulitan mendapatkan signal. Jangan umpamakan berlayarku ke Negara Eropa untuk menjadi pelancong wilayah terindah maupun monumentalnya, sekali lagi, Kawan aku terjebak di tengah-tengah samudera, dengan langkah hilir-mudik untuk memburu ikan-ikan. Aku pelancong yang mengobrak-abrik kenyamanan laut Atlantik. Terombang-ambing oleh badai di musim penghujan, pada bulan-bulan akhir tahun. Jadi ketika engkau menyaksikan ombak mengamuk di pesisir selatan, itu sungguh belum ada tandingannya dengan ombak yang pernah kujadikan sahabat dalam perjalananku. Selama menjadi juru mudi aku terus bergulat dengan ombak-ombak yang tingginya kadang melebihi ketinggian atap rumah Alfan. Apakah aku gentar? Tidak! Sekali lagi pelaut diciptakan dengan keberanian menantang maut, siap ambil resiko bahkan mempertaruhkan segala hal yang dimiliki dalam hidup.

Maka, aku berani, dan aku menjadikan ombak yang menari-nari di laut itu sebagai teman berpetualang. Tanpa kusadari kontrakku habis. Tanda tangan yang kububuhkan di atas lembar perjanjian yang kala itu belum kumengerti, habis. Begitu cerobohnya aku mengaku paham, padahal aku masih bingung dengan pertanyaan akan apa aku nantinya. Tekadku membawa aku berlabuh begitu jauh sampai ke Benua Eropa. Tidak kusangka, aroma tanah Indonesia kembali kucium menyengat. Panas yang membuat tengkuk kepala berkeringat. Aku sempat mengalami cultural shock. Suhu di Indonesia begitu panas, jalanan ramai, kendaraan lalu lalang. Orang-orang sibuk dan berisik. Di negara sebelumnya, terbilang sepi, kendaraan pribadi tidak begitu bertebaran. Di Amerika tidak ada calo kendaraan yang teriak-teriak. Tingkat kejahatan juga tidak semiris di negara ini. Pendidikannya—sudah cukup aku tidak mau membahas perihal itu. Fokusku adalah pulang membuang rindu yang selama ini tenggelam di dasar samudera.

Kawan, kala itu aku begitu gagah, lebih tepatnya aku merasa gagah sekalipun kulitku sehitam langit. Aku menyeret koper, menggendong ransel di punggung, dan tentunya tidak lupa ponsel baru yang kubeli di luar negeri. Hasil jerih payahku selama ini bisa kunikmati pelan-pelan. Aku membawa tabungan keringat. Aku mendapat bonus dolar. Satu hal yang perlu digarisbawahi, mulanya aku berpikir bahwa akomodasi keberangkatan dan kepulanganku akan dipotong menggunakan gajiku, rupanya aku keliru, selama kontrak tunai tanpa masalah, maka akomodasi ditanggung perusahaan. Hal itu membuat hutangku tidak jadi begitu banyak.

Kerjaku terbilang berat, tetapi aku punya tabungan cukup untuk diangkut ke rumahku. Setidaknya itu sudah membuatku bisa berdiri kokoh di atas kakiku sendiri. Aku bisa melihat wajah keriput Emak yang tambah mengeriput. Aku menyaksikan air mukanya yang dipenuhi kecemasan selama dua tahun lebih. Kepergianku seolah menitipkan penderitaan pada malam-malamnya. Aku sungguh tidak bisa menahan hatiku ketika mencium telapak punggung tangan Emak yang bau minyak goreng. Ah tangan Emak menciut, bertambah kisut. Aku pedih menyadari dirinya bertambah ringkih di usia senjanya. Tubuh ini spontan memeluknya erat. Hal yang selalu aku impikan selama berada di atas lautan.

Aku duduk di ruang tamu—ah ruang yang masih seperti dulu, hanya bertambah kemalangannya karena kentalnya aura dingin. Seolah-olah ruang itu lama tidak berpenghuni. Emak pasti hanya sibuk meracik dagangan murah di warung, lalu hilir-mudik ke pawon jika kompor gas tewas. Tetapi … lihatlah, warung itu justru tutup rapat. Entah sejak kapan, Emak juga tidak banyak bercerita. Lagi pula selama ini aku jarang berkomunikasi. Sulit sekali menjangkau jaringan di atas kapal. Warung Emak telah bubar. Tinggal beberapa bungkus chiki-chiki yang sudah expired. Aku ingin mengelap ingus karena rinduku berkobar menjadi satu dengan kemalangan Emak. Apalagi menyaksikan langkah Emak yang nyaris doyong serupa pohon mau ambruk. Langkahnya lebih pelan. Emak lemah tetapi dia wanita tua kuat yang pernah kumiliki dan paling aku cintai. Kelak jika aku menikah, istriku harus menyayanginya pula setulus hati. Aku tidak mau mencarikan menantu yang hanya merebut isi hatiku, tanpa mau berbakti kepada Emak.

Bangunan tempat tinggal Emak bertambah reyot. Kau bisa melihat langit dari atap yang bocor. Mengerikan tetapi apalah boleh buat. Emak harus bertahan di tempat itu sampai aku bisa memberikan yang terbaik kelak nanti. Pulangku membawa rindu dan oleh-oleh perjuangan bertarung melawan ombak kehidupan. Itu bukan sebatas laut lepas, tetapi mengalahkan diriku yang beberapa kali ingin menyerah tetapi berpura kuat dalam pertahanan keterpaksaan.

Kepulanganku membuat seisi kampung geger. Aku menjadi perbincangan di tempat-tempat belanjaan. Aku dianggap beruntung dan kini telah mencapai kesuksesan. Padahal aku sendiri masih bingung, sukses dalam hal apa? Atau apa itu kesuksesan? Hal absurd yang tidak bisa kuraba dengan tangan. Bu Amina bahkan datang ke rumahku untuk mengucapkan salam dan selamat karena berhasil menempuh perjalanan panjang. Teman-temanku, Dhevin bahkan Rey—Reyfan. Mereka berdua membuat aku kikuk. Dahulu teman yang ingin kusentil ke lautan, kukubur dalam kenang, tetapi pada akhirnya merekalah yang merengkuhku erat-erat. Aku celingukan mencari Alfan, tetapi pemuda itu tidak ada di kampung.

Lihat selengkapnya