Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #19

Suasana Asing

Gang-gang sempit yang dahulu masih becek ketika musim hujan datang, kini telah diperlebar dan dicor adonan pasir campur semen. Rumah-rumah warga banyak yang direnovasi; dindingnya dicat ulang, terasnya dipasangi kanopi, banyak tanaman hias yang tumbuh subur di pot-pot minimalis. Anak-anak kecil yang dulu sering jajan ice cream dan bakpao kini sudah berseragam SD. Para gadis perawan yang dahulu sedang asyik bermain kamera, kini sudah memiliki momongan. Bahkan di dalam keluargaku, bayi-bayi lahir tanpa kuketahui tanggal lahir mereka. Bukan hanya mereka yang mengalami perubahan, aku pun telah banyak berubah dalam menilai hidup. Kemiskinan paling menakutkan di dunia ini, bukanlah tidak memiliki uang, tetapi mental miskinlah yang mengerikan. Mudah diseret arus, mudah diarahkan oleh angin kehidupan tanpa bisa melakukan perlawanan. Aku merasa terasing di tanah kelahiran sendiri. Perkembangan mereka bergerak amat cepat, sementara diriku—masihlah terjebak di bawah bangunan reyot yang doyong ke barat. Bedanya di tahun ini, tanahnya sudah sah milik Emak dan diriku. Ada hal mengejutkan lagi perihal teman akrabku semasa SMK, dia yang harusnya masih di Surabaya mengentaskan tanggung jawab sebagai seorang pelajar, tiba-tiba lompat—ya mungkin lompat dari pelabuhan menuju terminal di kota ini. Entah kapan dia melakukan perjalanan, tetapi sosok pemuda tampan dengan kulit masih seputih awan itu telah berdiri mematung di ambang pintu. Aku terkejut setengah mati. Alfan meleburkan rinduku, menghadirkan ribuan kenangan di depan cakrawala senja. Gerimis tipis menjadi begron tubuhnya yang bertambah tinggi dan otot-ototnya menonjol, seolah ingin keluar dari kaos pendek ketat yang dikenakan. Alfan tampil menjadi pria dewasa, gagah dan menarik banyak perhatian, apalagi ketika bibirnya dilengkungkan. Aku saja terpesona, bagaimana dengan kaum hawa? Sementara diriku—sudahlah aku menolak insecure meski kenyataannya demikian.

“Apa yang membawamu pulang?”

“Dirimu!” kata Alfan pendek dan mantap.

“Haha. Sepenting apakah aku dalam hidupmu?”

“Aku ingin meninjumu!”

Entah apa maksud Alfan, aku tidak tahu. Akan tetapi dia tiba-tiba menyeret tubuhku keluar dari rumah. Melemparkan helm ke arahku lalu membawaku pergi menelusuri keramaian kota. Ah, gedung yang dulu pucat, kini penuh kerlip warna neon dengan gaya modern yang artistik. Anak zaman now menyebutnya instagramable. Trotoar yang dulu biasa saja, kini sudah tersusun rapi. Kendaraan yang lalu lalang juga sudah keluaran terbaru. Aku menghirup aroma Indonesia yang lebih tua, tetapi fisiknya justru tampil rupawan. Sekalipun masih banyak sudut perkampungan kumuh yang jalannya penuh lubang dan rimbun dengan belukar. Setidaknya aku merasa bersyukur karena kampungku tidak begitu ketinggalan. Kotanya juga mengikuti modernisasi zaman. Kedai-kedai yang bermunculan memberikan fasilitas internet gratis, lain dengan masa laluku. Anehnya Alfan mendudukkanku di sebuah kedai makanan. Dia memesankan coffee latte, segelas air putih dan menyuruh pramusaji untuk menghidangkan nasi goreng seafood. Semenjak di kapal aku kurang senang dengan makanan beraroma laut, tetapi Alfan yang memesankan setelah susah payah meninggalkan Surabaya demi bertemu denganku, maka semua yang dihidangkan aku lahap sampai tandas.

“Topik malam ini … apa?” tanyaku.

Alfan benar-benar aneh. Dia tidak sehangat dahulu. Mungkinkah tugas-tugas kampus membuatnya dingin dan berwajah datar? Dia hanya melipat tangan di depan dada kemudian menyandarkan punggung pada tubuh kursi, selanjutnya memandoriku menyantap menu. Minumannya dia biarkan dingin. Tidak ada kata-kata yang mampu menghidupkan suasana. Gilanya aku merasa sedang diintimidasi oleh Alfan. Aku kurang nyaman tetapi tidak bisa beranjak dari hadapannya.

“Minumlah, nanti kau tersedak!”

“Bagaimana kuliahmu di Surabaya?”

Alfan diam, menatap wajahku.

“Oke, kau sukses, tidak perlu membagikan cerita manis kepadaku. E … mungkin perkembangan isu politik di negara ini? Menurutmu bagaimana?”

Alfan menghela napas panjang, kemudian diam.

Lihat selengkapnya