Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #20

Diulang

Aku tidak kapok bergelut dengan ombak, percikan air dan gemuruh angin ketika badai justru membuatku ketagihan, sekalipun gajinya termasuk pas-pasan. Setidaknya dengan itu aku sudah bisa membeli tanah. Emak tidak perlu khawatir digusur. Aku kembali terbang ke luar negeri, kali selanjutnya menuju Afrika sekalipun masih di samudera Atlantik Utara. Kantor agensiku menawari pekerjaan serupa di Kapal Taiwan, masalahnya setiba di sana, aku dinaikkan di Kapal Cina. Sitemnya berubah, karakter orang-orangnya juga berbeda jauh. Aku meludah di pinggiran dek kapal, benar-benar takdir hidup yang menarik. Sudah ditipu, tetapi kembali terulang. Sebenarnya, agensiku yang brengsek atau orang-orang luar yang kurang ajar? Siapa yang bisa aku percaya?

Aku menggigit bibir bawahku. Pekerjaan di Kapal Cina lebih tragis. Seolah-olah ABK di sini haram tidur. Aku lelah dan sangat payah. Di lain sisi aku tidak memiliki teman seperjuangan yang akrab. Aku rindu kelakar Pak Radit, dia yang kurus seperti rumput laut itu memutuskan menetap di Indonesia, membuka usaha dan tidak kembali berlayar mencari ikan. Sementara aku nekad menjemput ombak lagi. Hidupku mendadak menjadi sangat malang. Lintang—namaku terasa tidak memiliki kekuatan. Apalagi setelah 3 bulan terjebak di atas samudera ini. Aku tidak mau berbagi cerita lebih jauh perihal mereka—orang-orang yang berkuasa di kapal ini. Jelasnya keserakahan membuat laut marah. Air masuk ke dalam kapal, padahal kapal yang ditumpangi lebih besar dari kapal longline di Spanyol sebelumnya, akan tetapi kapal ini justru hilang kendali. Badai mengamuk di langit. Petir menggelegar membuat telinga berkedut. Balok-balok es berisi ikan di dalam kapal overload. Cuaca ekstrim membuat keseimbangan kapal berkurang. Ombak terus menghantam tubuh kapal. ABK menarik diri dari pekerjaan. Tidak ada lagi yang peduli dengan hasil tangkapan, sebab ikan-ikan hasil tangkapan sebelumnya pun belum dipindah ke kapal logistik.

Air itu terus masuk, membuat basah seluruh objek di palka kapal. Dek-dek bagaikan lantai kolam renang yang sudah penuh dengan air. Perlahan tapi pasti, air itu masuk ke ruang kabin. Orang-orang mulai berteriak ketika kapal mulai bergerak ke bawah. Bagian sisinya miring, sehingga barang-barang kapal jatuh ke laut, mengambang sementara yang berat akan tenggelam ke dalam air penuh kegelapan. Aku dan para ABK mencari pelindung diri, memakai pelampung sekenanya sebagai penolong pertama. Aku melolong menjeritkan nama Alfan, baru beberapa bulan lalu kurasakan hangat pelukan Alfan di bahuku. Dia seorang kawan yang begitu berharga. Kawan yang ingin kuberi cerita-cerita indah di atas kapal—ketika melihat sunrise maupun sunset, ketika langit bagaikan cat jingga yang ditumpahkan ke permukaan kanvas, ketika aku melihat burung-burung berterbangan di angkasa di waktu sore, terakhir pamer foto-fotoku di atas kapal selepas bekerja. Kini … ketika aku mengalami kecelakaan di atas lautan, semua itu tidak ada artinya. Bahkan kebanggaanku bisa memiliki tanah sendiri rasanya percuma kalau pada akhirnya aku tidak bisa menidurinya kelak. Dingin meraup sekujur tubuh. Kulitku memburu pucat. Gigiku saling bergemeletuk. Langit begitu gelap, kala itu hujan turun mendayu-dayu dan aku beserta ABK kapal yang lain terombang-ambing di atas ganasnya air yang sedang bergolak. Napasku pendek. Jantungku bergemuruh. Mataku rasanya akan terpejam, bukan karena ngantuk, sama sekali aku tidak punya ngantuk dalam kondisi seperti ini. Aku teringat Emak … wajah keriputnya yang bertambah tua membuat dingin air laut lebih tajam. Aku menyesal karena kembali berangkat ke luar negeri. Emak pun pasti kecewa, saat melepas kepergianku yang kedua dia terlihat lebih keberatan. Ada kata-kata yang ingin dia ucap, tetapi urung, justru hanya melambaikan tangan pasrah karena langkahku bergegas meninggalkannya. Alfan juga sempat mencekal kepergianku. Dia berharap aku menetap di Indonesia, bahkan berjanji akan mencarikan pekerjaan layak. Sayangnya aku mengabaikan tawaran Alfan. Kalau saja aku memahami perasaan mereka yang menginginkan aku di Indonesia, aku tidak akan berada di titik setragis ini. Bapakku sudah meninggal—kalau aku menyusul, dengan siapa Emak mengeluhkan rasa sakitnya? Selama ini Emak tidak pernah mengeluh, tetapi setidaknya dia sedang mengadu kesakitan dari bening matanya yang mulai redup. Aku harus hidup. Aku ingin bertemu lagi dengan Alfan. Aku … aku bahkan rindu Reyfan yang kini sudah berevolusi menjadi makhluk budiman. Aku ingin bernyanyi bersamanya, sekalipun suaraku serak-serak sumbang. Aku ingin merasakan hujan di kampung halaman. Aroma petrichor yang mencucuk hidung. Ya, aku rindu semua itu. Aku harus pulang. Tetapi bagaimana caranya? Kapal akan tenggelam ke dasar. Selain itu tidak ada kapal yang melintas di tengah badai seperti ini. Kepada siapa aku menyandarkan kesadaran? Aku sungguh lemah, kehilangan daya.

Berjam-jam lamanya aku diombang-ambingkan air laut. ABK lain pun demikian, masih berada di pelampung masing-masing. Ada yang pingsan tetapi dipegangi erat-erat oleh rekannya. Kapten … memperingatkan agar kami tidak berpencar, terus berpegangan satu sama lain supaya tidak hanyut diterjang ombak.

Langit yang sudah gelap bertambah pekat. Tiada gugusan bintang yang terlihat di angkasa. Seluruh mata memandang hanyalah awan hitam. Aku membeku. Rasanya sedang mendapat kutukan karena menyiksa ikan-ikan tuna, dipancing, dicincang siripnya secara ganas padahal mereka meronta kesakitan, abai dengan tubuh yang menggelepar memohon pertolongan, justru dimasukkan ke balok-balok es supaya dagingnya awet dan tetap segar. Ah, sudah disakiti, dimutilasi bagian tubuhnya, dibekukan pula. Beginikah rasanya dimasukkan ke dalam balok es? Atau justru lebih dingin lagi? Masalahnya aku tidak sekuat Kapten. Kesadaranku lamat-lamat kabur. Aku seperti sedang diajak diskusi oleh malaikat maut. Ah maut … dia merayuku untuk turut pergi ke alam baka. Sayangnya, aku menolak sekuat tenaga, tetapi mengapa tenagaku lenyap? Sebelum aku memejamkan mata, aku mendengar suara burung di langit. Itu artinya badai telah pamit pergi. Gelap menjelma terang yang tidak kuketahui.

Kupikir sesadarnya aku, aku sudah berada di kapal, mendapatkan pertolongan pertama, diberi selimut tebal dan diberi makanan hangat. Rupanya itu halusinasi. Aku masih terombang-ambing di atas permukaan air laut. Lebih dari satu hari, begitu kata teman seperjuangan yang punya tekad untuk hidup juga. Selain dingin, kami juga kelaparan. Benar-benar tidak ada yang bisa menolong selain keajaiban datang. Aku membayangkan pulang dalam kantung mayat, bagaimana ekspresi Emak? Dia pasti akan menyesal bertahun-tahun jika masih diberi umur panjang. Allah! Ijinkan aku kembali berlayar—bukan untuk menjauh dari Indonesia, tetapi sebaliknya, aku ingin pulang. Pulang menjemput senyum Emak. Aku ingin bertemu Alfan di pelabuhan Tanjung Priok, lalu mengatakan bahwa aku sudah sukses. Sukses dalam apa? Pikiranku rancu. Hal pertama yang harus kulakukan adalah mencari cara supaya jantungku berdetak. Caraku dengan terus merapalkan nama Emak dan Alfan. Sampai akhirnya di hari ketiga … keajaiban itu datang. Aku mendengar sayup-sayup pergerakan kapal logistik mendekat ke arah kami—para penghuni kapal longline malang yang kelebihan muatan.

Lihat selengkapnya