Berlayar Pulang

Titin Widyawati
Chapter #21

Pulang

Kopi mengepul, pagi di Surabaya lebih ramai. Langit bagian timur masih ranum kemerah-merahan. Manusia yang sudah bangkit dari alam tidur mulai aktivitas masing-masing. Pelabuhan selalu sibuk. Kapal sandar, kapal melepas jangkar. Pergerakannya tidak kenal lelah, sekalipun para penumpangnya mengeluh ingin sudahi langkah. Aku dan Alfan berada di warung kopi dekat pelabuhan Tanjung Perak. Pertemuan yang menegangkan. Entah kenapa aku bungkam di hadapan Alfan, dia terus menatapku tajam, memeriksa tidak ada yang kurang dari tubuhku. Aku gagal bertemu dengannya di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Beberapa hari yang lalu, kuceritakan kepadanya bahwa aku nyaris tenggelam di laut, aku terombang-ambing selama tiga hari. Sempat mendapat perawatan karena kondisiku melemah drastis, lalu untungnya aku pulih. Aku menyampaikan kepada Kapten ingin keluar, merasa tidak nyaman dengan pekerjaan yang ada di atas kapal. Kala itu Kapten berat melepasku, apalagi aku pernah berpengalaman di Laut Sargasso. Kapten bahkan menawarkan gaji lebih jika aku mau menetap di Kapal Cina itu. Tetapi tekadku sudah bulat. Akhirnya Kapten menyampaikan kemauanku ke kantor agensiku di Indonesia. Lepas kontrakku, akhirnya di approve. Sayang, akomodasi kepulanganku ke Indonesia tidak lagi ditanggung. Aku merogoh tabunganku sendiri demi bertemu dengan Alfan. Tiba di Indonesia aku langsung memburu keberadaan Alfan. Aku tidak melanjutkan ke kantor agensiku di Banten, anggap saja aku kabur. Seluruh panggilan dari agen aku abaikan.

“Kalau kau akan berlayar … kau jangan sampai kena tipu!” kataku tiba-tiba.

Aku menyerutup kopi.

“Aku bukan dirimu, Lintang. Aku Alfan yang memiliki institusi jelas untuk menyalurkan masa depanku kelak … aku … aku …,” ucap Alfan mendadak terputus-putus. “Aku minta maaf, karenanya aku tidak mau menjadi sepertimu, Lintang. Aku akan lebih hati-hati.”

Aku terbahak-bahak. Entah kenapa, tetapi aku sangat ingin tertawa. Ada asin di kerongkongan. Ada hal berat yang mendadak terasa ringan. Aku sadar satu hal, kesuksesan di dunia ini tidak diukur dari seberapa berhasil kita menimbun tabungan, membangun rumah, memiliki kendaraan pribadi, dan hal-hal yang berupa materi. Kesuksesan terbesar dalam diriku adalah berani mengambil keputusan untuk mengakhiri kontrak demi bertemu dengan Emak. Harta rupanya tidak bernilai dibanding dengan nyawa yang dipertaruhkan. Aku akan tumbuh bahagia di Indonesia, bersama cinta tua Emak, bersama sahabat terbaikku—Alfan.

Lihat selengkapnya