Blurb
Salah tempat. Salah waktu. Tapi entah kenapa, hatinya malah salah lagi.
Cakra datang ke Jakarta bukan untuk bertahan hidup. Bukan untuk mencari kerja. Bukan untuk jatuh cinta.
Dia datang untuk menghancurkan sebuah kerajaan.
Tapi rencana dua puluh tahun tidak pernah memperhitungkan satu hal. erempuan yang memotretnya dari dalam minibus di seberang pangkalan truk, yang menyeretnya masuk ke celah sempit di antara dinding bata saat sedang kabur dari pengejaran, yang suatu hari memintanya berpura-pura jadi kekasihnya di depan keluarga besar dan tanpa dia sadari, sudah mengetahui terlalu banyak tentang siapa dirinya sebelum dia sempat memutuskan apakah akan jujur.
Kirana tidak pernah gagal membaca situasi. Tidak pernah kehilangan kontrol. Tidak pernah membiarkan dirinya terlibat lebih jauh dari yang diperlukan.
Di antara dua orang yang sama-sama menyembunyikan siapa mereka, di antara pangkalan besi tua dan ruang sidang komisi etik, di antara tembakan teredam dan selongsong peluru yang menggelinding pelan di atas lantai marmer, ada satu hal yang tidak pernah bisa dioperasikan, tidak pernah bisa dijadikan aset, dan tidak pernah bisa dihapus dari sistem manapun.