BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

asep Pranata
Chapter #2

2. KIRANA

Sepuluh jari Cakra bergetar di atas lututnya.

Aroma keringat menguap di dalam ruangan dingin. Suara dengung server di samping ruangan teredam di balik sekat kaca tebal. Kepala Cakra menunduk menatap serat karpet. Keringatnya menetes dari kening, melewati pipi, jatuh di bahunya.

Nicholas masih menatap tabletnya, jemarinya menggulir pelan di atas layar. "Kalian tunggu apa lagi? bawa dia keluar." Ia menoleh ke arah Joni, pria bertato berdiri di belakang Cakra. Tangannya bertumpu pada sabuk celana. Bayangan tubuh Baron dan Juki melebar dari belakang.

Cakra mengangkat kepala. "Bang... gue beneran bukan Bayu,"suara Cakra tertahan di tenggorokan. Ia menarik napas pendek melalui hidung, bahunya turun beberapa sentimeter lebih rendah. "Sepuluh jari gue dipatahin pun, gue nggak akan bisa kasih tahu di mana si Bayu atau... apa tadi? Penadah enkripsi? Gue nggak ngerti, Bang. Sumpah."

Nicholas beralih ke tablet di tangan kirinya. Jari telunjuknya bergerak perlahan di atas permukaan kaca. Deretan baris transaksi digital terpantul dari kacamata lebarnya.

"Lo udah periksa omongan nih bocah, Jon?" tanya Nicholas, nadanya datar.

Joni maju setengah langkah. Kepalanya menunduk, matanya menatap sudut meja mahoni tempat ponsel pintar Nicholas tergeletak. "Kalo dari KTP sama SIM-nya sih namanya Cakra, Bos. Alamatnya dari luar kota."

Nicholas meletakkan tablet di atas meja, ia menoleh ke Cakra yang membungkuk di lantai, matanya menyipit. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit luks, lalu menghela napas panjang melalui mulut.

"Bawa dia. Bikin dia ngaku," Nicholas mengangkat dagunya pelan. "Dan kalo dia beneran bukan Bayu... dia yang harus bayar utang si Bayu. Lima ratus juta, plus bunga keterlambatan minggu ini."

Kelopak mata Cakra melebar, pupil matanya membesar. "Eh, ntar dulu, Bang! Kok jadi gue yang bayar utang si Bayu? Kenal juga nggak! Ini salah paham, Bang!"

Telapak tangan Baron menghantam bagian belakang kepala Cakra, Kepala Cakra tersentak ke depan, dahinya hampir menyentuh ujung sepatu Joni. Napasnya memburu, keluar dalam satu hembusan berat dari sela-sela gigi yang merapat.

Lihat selengkapnya