Lembaran kertas HVS bergeser di atas permukaan meja kayu jati yang dilapisi pelat kaca tebal. Ujung kelingking Kirana Putri menahan sudut map biru tua agar tidak merosot, tangan kanannya menurunkan cangkir keramik putih berisi kopi hitam, Uapnya memburamkan sudut layar laptop yang menyala.
Udara pendingin ruangan sentral berdengung di ruangan lantai tiga Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus. Cahaya matahari pagi masuk lewat celah tirai tipis, Kirana menatap debu halus melayang di atas jajaran lemari arsip baja.
"Umur kamu berapa sekarang, Kirana?"
Komisaris Besar Polisi Hermawan menatap tumpulan berkas mutasi personel. Kacamata baca bermangkuk tebal bertengger di ujung hidungnya, bergoyang kecil setiap kali bibirnya bergerak.
Kirana menghentikan ketukan jemarinya di atas keyword, menoleh ke Hermawan. "Dua puluh sembilan, Pak."
Ibu jari Hermawan membalik halaman berkas. "Masih betah hidup sendiri?"
"Masih, Pak," Kirana menoleh ke barisan grafik log siber di layar monitor.
"Nanti keburu kepala empat. Pekerjaan ini enggak akan ada habisnya," Hermawan meletakkan pulpen besarnya di atas meja. Ia melepas kacamata, lalu bersandar pada kursi kulitnya yang berdecit nyaring. "Tim dari Markas Besar sudah turun di lobi. Mereka bawa dua analis siber baru dan satu penyidik madya dari Direktorat Tindak Pidana Pencucian Uang."
Kirana mengangguk pelan. Tangannya bergerak meraih map biru tua di samping laptop, membukanya. Pupil matanya bergerak mengikuti tulisan lembar demi lembar, kolom kendali operasi sudah ditandatangani. Stempel merah kecil dari Unit Siber Mahardika Group di baris paling bawah.
"Mereka mau hasil cepat, Kirana. Kasus ini sudah terlalu lama mengambang di meja pimpinan pusat," Hermawan menegakkan posisinya, melirik jarum jam dinding bulat. "Ayo. Jangan bikin orang-orang Jakarta Pusat itu menunggu terlalu lama."
Udara di dalam ruang rapat utama di ujung koridor utama pekat oleh aroma pengharum ruangan jeruk bercampur dengan uap kopi instan dari belasan cangkir yang berjejer di atas meja oval besar.
Dua belas kursi kulit sudah terisi penuh. Di sisi kanan, tiga pria paruh baya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan tanda pengenal Mabes Polri yang tergantung di leher duduk dengan punggung tegak. Di depan mereka, jajaran laptop menyala. Barisan kode enskripsi bergerak stagis di layar hitam. Di sisi kiri, para penyidik daerah dan intel siber polda duduk lebih santai, sebagian sibuk mencatat di buku saku kecil, sebagian lagi menatap lurus ke arah layar proyektor kain yang masih kosong di ujung ruangan.
Kombes Hermawan melangkah masuk lebih dulu, ia menarik kursi di ujung meja. Kirana berjalan dua langkah di belakangnya, memeluk map biru dan sebuah falshdisk perak di tangan kiri.
"Selamat pagi semuanya," Hermawan membuka rapat. Ia mengetuk meja dua kali dengan ujung jarinya. "Mulai hari ini, tim pusat dari Ditipideksus akan bergabung dalam tim gabungan penyelidikan Mahardika Group. Penanganan kasus ini dinaikkan statusnya menjadi prioritas khusus."
Aris, Penyidik Utama Madya Kombes mengangguk kecil.
"Dan untuk memudahkan koordinasi lapangan," lanjut Hermawan, matanya melirik ke arah Kirana yang berdiri di samping layar proyektor, "seluruh data intelijen, log siber, dan pergerakan personel lapangan tetap berada di bawah kendali penuh AKP Kirana Putri. Semua temuan baru harus melewati verifikasi unitnya sebelum masuk ke sistem pusat."
Aris memutar pulpennya di antara jari-jari, matanya menyipit menatap Kirana, kepalamya bergerak dari atas sampai bawah. "Silakan, Ajun Komisaris."
Kirana maju satu langkah. Ia menancapkan falshdisk perak ke port samping laptop. Layar proyektor besar di dinding semen menyala, u terang mengubah warna kulit wajah orang-orang di dalam ruangan.
Sebuah bagan silsilah korporasi raksasa muncul di layar. Di puncaknya, foto hitam putih Agus Mahardika, pria tua berwajah tirus dengan jas wol mahal. Di bawahnya, garis-garis merah tebal bercabang menjadi empat kolom besar.
"Mahardika Group," Tangan kanan Kirana mengarah ke foto Agus Mahardika. "Tercatat di Kementerian Hukum dan HAM sebagai konglomerasi yang bergerak di bidang logistik, infrastruktur pelabuhan, dan pengembangan teknologi finansial sejak tahun 2008. Total aset yang dilaporkan dalam SPT tahunan terakhir mencapai empat koma dua triliun rupiah."
Kirana menekan tombol klik mouse. Slide berganti, foto tiga orang anak Agus Mahardika muncul dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan Sudirman.
"Putra pertama, Baskoro Mahardika, memegang kendali atas seluruh jalur logistik laut dan pergudangan di utara Jawa. Anak kedua, Citra Mahardika, mengelola sektor properti dan investasi modal ventura. Dan yang menjadi fokus operasi kita selama enam bulan terakhir..." Kirana mengarahkan pointer laser merah tepat ke wajah pria berkacamata lebar yang sedang duduk di belakang meja mahoni. "...putra ketiga, Nicholas Mahardika."
Titik merah itu berhenti di atas dahi Nicholas.