BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

asep Pranata
Chapter #5

5. TUGAS PERTAMA

Pintu besi hanggar belakang terbuka, bunyi berderit panjang memotong gemuruh mesin truk di luar. Sisa hawa dingin dari kipas warkop menguap saat langkah kaki Baron mendorong punggung Cakra masuk ke dalam koridor bawah tanah. Bau kabel terbakar dan minyak pelumas rantai bercampur di ruangan.

Nicholas berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke deretan komputer meja, kedua tangannya masuk di saku celana kain abu-abu gelapnya. Titik-titik koordinat wilayah Jakarta menyala dari layar tablet di sampingnya. 

"Joni," suara Nicholas terdengar pelan. "Anak buah si Haris dari kubu utara udah bergerak ke arah kosan si gembrot. Mereka mau ambil source code cadangan sebelum kita sempat bersihin jejak di server pusat."

Juki yang baru masuk melipat kedua tangannya di depan dada.

Joni melangkah mendekati meja, matanya menatap denah digital di atas tablet. "Berapa orang, Bos?"

"Empat atau lima. Mereka pakai mobil Avanza hitam," Nicholas memutar tubuhnya lambat, matanya bergerak melewati bahu Joni lalu berhenti tepat di wajah Cakra yang masih berdiri kaku di dekat pintu. "Bawa bocah ini. Si gembrot itu cuma mau buka pintu kalau dia lihat muka baru yang nggak mencurigakan." Ia menunjuk Cakra dengan dagunya. "Kalau sampai data di laptopnya jatuh ke tangan orang-orang Haris, utang lima ratus juta si Bayu bakal jadi urusan kecil dibanding apa yang bakal gue lakuin ke kalian."

Baron menepuk pundak Cakra, jemarinya meremas bahu Cakra, memaksanya berbalik arah menuju pintu keluar. "Gerak sekarang."

Minibus abu-abu milik Joni meluncur membelah jalanan aspal yang berlubang di sepanjang jalur lingkar luar. Di dalam kabin, Jemari Juki meremas erat setir kemudi, matanya menatap lurus ke jalanan.

. Ia menyalip di antara sela-sela truk tangki.

Tangan Baron masuk ke tas selempang hitam di bangku tengah, ia melirik ke arah jarum spedometer yang menyentuh angka seratus tiga puluh. "Gue masih mau idup Juki."

"Lo kira gue mau mati?" balas Juki tanpa menoleh.

Cakra melirik ke arah jendela luar. Matanya menyipit, menatap minibus abu-abu gelap dengan kaca film pekat bergerak konstan, menjaga jarak aman dua mobil di belakang mereka.

Ia menoleh ke arah Baron. "Kita... kita jemput doang kan, Bang?"

Baron menghentikan gerakannya yang sedang memeriksa ritsleting tas, lalu menoleh. "Lo bisa berantem nggak?"

Cakra menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun. Ia meremas jemarinya. "Di kampung... dulu sempat belajar silat, Bang. Tapi cuma buat acara kawinan, bukan yang pukul-pukulan beneran."

"Bagus," Baron mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke jok kulit. "Karena target kita mungkin jadi target orang lain hari ini. Yang penting tangan lo bisa mukul, kaki lo bisa nendang kalau ada yang macem-macem."

Cakra memiringkan kepalanya sedikit, dahinya mengernyit. "Maksudnya, Bang? Kita mau rebutan orang?"

Juki melirik dari kaca spion tengah, matanya menyipit. "Nggak usah banyak tanya. Begitu mobil berhenti, lo turun bareng Baron. Ketuk pintu kamar nomor dua tiga di lantai dua. Jangan pasang muka bego lo itu."

Minibus Joni berbelok ke gang sempit, berbatasan dengan tembok pembatas rel kereta api. Mereka berhenti di kawasan rumah kos dua lantai.

Baron menggeser pintu samping, Kakinya terulur, lalu keluar dari mobil. Cakra mengikuti di belakang Baron. Bau air got yang menggenang dan aroma sisa minyak jelantah dari warung makan di lantai bawah bercampur di udara.

Cakra menatap minibus abu-abu gelap berhenti di seberang rel. Ia berbalik, berjalan agak membungkuk di samping tubuh besar Baron, melangkah melewati dua penjaga berkaus ketat.

Ia menoleh ke sudut gang, matanya menatap mobil Avanza hitam terparkir, asap putih halus mengepul dari dalam kap mobil. Ia menyipitkan mata, dua pria berkaus ketat dengan potongan rambut cepak berdiri di dekat tangga beton, mata mereka bergerak liar menyisir setiap orang yang melintas.

Bruk!

Suara benturan keras dari lantai dua memotong kesunyian gang.

Daun jendela kayu tua terlepas dari engselnya, jatuh berdentum di atas tumpukan tempat sampah plastik di bawah. Dari balik celah jendela yang rusak, seorang pria bertubuh tambun dengan kaus dalam putih yang dipenuhi noda keringat melompat keluar ke atap seng kanopi, memeluk laptop abu-abu dengan kedua tangannya.

"Woi! Jangan lari lo!" Teriakan lantang menyusul dari dalam koridor lantai dua. Dua pria lain berpakaian hitam melompat melewati pagar pembatas, mengejar si pria tambun yang merosot jatuh dari atap seng ke atas tumpukan karung pasir di pojok gang.

Baron melesat maju, menerjang salah satu pria berkaus ketat yang berjaga di dekat tangga hingga pria itu menghantam tiang listrik beton. Juki keluar dari pintu kemudi minibus, tangannya meraih sebatang kunci roda besi dari bawah jok. Dua orang berlari menuju ke arahnya dari mobil Avanza hitam.

Di tengah kekacauan suara teriakan, hantaman fisik, dan ringkik gesekan besi kunci roda, si pria tambun bangkit. Ia berlari terpincang memutari sudut tembok, masuk ke dalam gang tikus yang menuju ke arah kompleks pertokoan tua di balik rel kereta.

Baron mencoba mengejar, langkah kakinya tertahan cengkeraman kuat di jaketnya dari salah satu anak buah Haris yang hidungnya mengalirkan darah segar. "Juk! Kejar si gembrot! Dia bawa laptopnya!"

"Gak bisa! Depan gua ada dua orang!" Juki berteriak, lengannya bergerak menangkis hantaman balok kayu.

Cakra berdiri di tengah gang, Kakinya mundur dua langkah menghindari serpihan kayu yang patah. Matanya bergerak lurus menembus debu tanah yang beterbangan, menatap arah pelarian si programmer gembrot.

"Mana orangnya?!" Baron berteriak di sela-sela napasnya yang memburu, lututnya menekan dada lawan di atas tanah berpasir.

"Kabur ke arah jalan utama!" Juki mengayunkan kunci rodanya ke arah lengan musuh.

Lihat selengkapnya