Sedan hitam logo tiga bintang di ujung kap bergerak tanpa suara menyusuri aspal mulus yang membelah rimbun pohon-pohon tua. Nicholas menyandarkan kepalanya ke bantalan kulit kempa di kursi belakang. Matanya menatap cahaya lampu sorot kekuningan yang tertanam di pangkal batang-batang beringin setinggi belasan meter. Mobil mendekati gerbang besi tempa setinggi tiga meter di ujung jalan landai. Tiga bilah jeruji besi setebal lengan bergeser ke dalam dinding beton secara otomatis sebelum ban depan mobil menyentuh garis pembatas luar.
Dua pria berseragam safari gelap berdiri tegak di sisi pos penjagaan batu alam, tangan kanan mereka terangkat membentuk sudut hormat. Pandangan mereka lurus ke depan.
Sedan itu terus melaju, memutari kolam bundar, air tenang dengan patung batu lumutan yang pancurannya mati. Jarak dari gerbang luar menuju teras depan rumah utama menyisakan keheningan yang panjang, diisi gesekan halus karet ban di atas kerikil putih yang tertata rapi di kanan-kiri jalur kendaraan. Rumah itu berdiri dengan pilar-pilar beton polos kelabu tanpa ukiran emas, bentang atap sirapnya yang menghitam termakan usia melebar menaungi area parkir timur.
Mobil berhenti, pintu belakang kanan terbuka dari luar. Udara dingin dan aroma tanah basah sisa rumput sore hari menyergap wajah Nicholas.
Seorang pria paruh baya berambut putih mengenakan kemeja putih kain katun tanpa kerah berdiri memegang gagang pintu. Nicholas turun, melangkah tanpa bersuara di atas lantai teraso kasar teras. Langkahnya terus bergerak, ia melepas jas wol abu-abu gelapnya. Tangan pelayan paruh baya terulur tepat pada waktunya, menangkap lipatan jas sebelum menyentuh ubin, lalu mundur dua langkah masuk ke dalam bayangan koridor samping.
Langkah sepatu pantofel Nicholas teredam di atas hamparan permadani rajut tebal merah tua. Lampu gantung kuningan berbentuk mangkuk terbalik menggantung rendah di ruang makan keluarga Mahardika. Cahaya kuning redup menyinari tengah ruangan.
Nicholas menatap batang kayu jatu utuh tanpa sambungan sepanjang enam meter di tengah ruangan, bayangan piring porselen terpantul di atas permukaan meja yang dilaposo lilin lebah.
Ia menoleh ke ujung meja. Agus Mahardika duduk membelakangi dinding kaca besar yang menghadap ke halaman belakang yang gelap gulita. Tubuh tuanya dibalut kemeja batik sutra lengan panjang, punggungnya tegak lurus menempel pada sandaran kursi kayu tinggi. Tangannya dipenuhi bintik penuaan bergerak mengayunkan pisau perak, memotong perlahan serat daging panggang di atas piringnya.
Agus Mahardika tidak mendongak saat kursi di sisi kanan meja digeser.
Nicholas duduk di sisi kiri meja, menarik serbat kain linen putih dari samping garpu, lalu meletakkannya di atas pangkuan. Seorang pelayan wanita dengan langkah tanpa suara meletakkan sepiring hidangan yang sama di hadapan Nicholas, lalu mundur kembali ke dinding ruangan yang gelap.
"Telat," suara Agus keluar di antara kunyahannya.
Nicholas meraih garpu peraknya. "Jalanan penuh, Yah."
Agus mengangguk sekali, mata tuanya menatap ujung pisau yang memisahkan lemak daging. Suara denting halus perak yang bergesekan dengan porselen mengisi ruangan.
Suara derap langkah sol sepatu kulit yang keras terdengar dari arah selasar luar, bergerak cepat dan berisik, suara langkah kaki berhenti di ambang pintu lengkung ruang makan.
Baskoro Mahardika masuk ke ruang makan, kancing kemeja putih bagian atas terbuka, pangkal lehernya tebal. Tubuhnya yang besar membuat kursi kayu di seberang Nicholas berdecit agak nyaring saat ia menghempaskan pantatnya. Sisa aroma tembakau cerutu dan hawa panas luar ruangan ikut terbawa masuk.
Sepasang mata berkantung tebal menatap lurus ke arah Nicholas, dagunya terangkat sedikit. "Masih hidup ternyata," Baskoro mendengus, tangannya meraih botol air mineral kaca di dekatnya.
Nicholas menelan makanan lambat, meraih gelas airnya, lalu menatap balik wajah kakaknya melewati batas lilin yang menyala di tengah meja. "Kecewa?"
Baskoro menarik kain serbat lalu menutupi paha besarnya. "Sedikit."
Suara ketukan halus dari tumit sepatu hak rendah yang tipis menghentikan gerakan tangan Baskoro. Citra Mahardika melangkah masuk dari balik kegelapan selasar. Ia mengenakan celana kain hitam dan kemeja sutra longgar hijau lumut, lengannya digulung hingga siku. Rambutnya dicepol asal-asalan ke atas, beberapa helai jatuh di sekitar pelipis.
Tigapelayan bergerak serentak. Satu pelayan menarik kursi di samping Baskoro, satu lagi menuangkan air putih ke gelas kosong, pelayan ketiga meletakkan piring dengan porsi yang lebih kecil di atas meja.
Citra duduk dengan santai, mengabaikan seluruh pergerakan di sekitarnya. Tangan kanannya mengeluarkan tablet tipis dari dalam tas kulit kecil, meletakkannya di sisi kiri piring, lalu menyalakan layarnya, cahata biru biru pucat terpantul di atas meja kayu.