Cahaya biru pucat dari tiga layar monitor berukuran empat belas inci memantulkan bayangan samar wajah Kirana di kaca jendela minibus yang tertutup rapat. Aroma pengawet jok kulit tiruan dan sisa kopi hitam dingin dark gelas kopi di samping tuas transmisi bercampur di dalam kabin. Pendingin ruangan mobil berdesis, hembusan hawa dingin menusuk tengkuk.
Keringat tipis menetes dari pelipis Kirana, melintasi garis rahangnya yang mengatup rapat.
Kirana menoleh ke luar, menatap dinding kaca lobi hotel bintang lima memantulkan terik matahari siang yang membakar aspal area jemput kendaraan.
"Ndan," suara dari earpiece nirkabel di telinga kanan Kirana memecah keheningan kabin. "Saya sudah pesan kopi keempat. Kalau setengah jam lagi target tidak turun, jantung saya beralih fungsi jadi genset pos ronda."
Kirana beralih ke monitor tengah, matanya menatap siaran langsung kamera pengawas lobi. Jarinya menekan tombol pemancar di pinggang. "Minum saja, Bimo. Setidaknya jantungmu masih bekerja."
"Kerja sih kerja, Ndan. Tapi resepsionis sebelah kanan sudah tiga kali melirik ke mari. Dia pasti mengira saya intel kejaksaan atau sales asuransi gagal target," bunyi gesekan kain terdengar samar. "Atau dikira pria kesepian yang ditinggal mati seluruh keluarganya."
Di layar monitor ketiga, grafik frekuensi audio dari alat penyadap yang terpasang di koridor lantai tujuh belas bergetar tipis. Kirana menggeser kursor, memperbesar tangkapan layar kamera lorong darurat.
"Dedi, posisi," ucap Kirana pendek.
"Masih di coffee shop lantai mezanin, Ndan," sahut suara lain, lebih muda terdengar agak malas di sela denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen. "Target belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Kamar 1740 masih senyap. Omong-omong, Ndan, saya kira operasi penangkapan operator regional seperti ini bakal melibatkan kejar-kejaran mobil atau aksi lompat dari balkon."
Kirana meletakkan pulpennya di atas meja lipat. "Delapan puluh persen kerja polisi siber itu duduk sampai pantatmu kapalan, Dedi. Kalau mau lompat dari balkon, daftar ke Brimob sana."
Suara tawa kecil terdengar dari jalur radio lain. Rani, analis data duduk di kursi penumpang depan minibus, menoleh ke belakang, ia memutar pulpen di sela jarinya. Rambutnya dikuncir kuda bergerak mengikuti gerakan kepalanya. "Ndan, tapi kalau dipikir-pikir, operator Kamboja yang ini agak berbeda. Manifes penerbangannya pakai nama samaran yang biasa dipakai untuk sindikat Batam, tapi pesanan kamarnya lewat agensi kelas atas."
"Fokus pada pergerakan pintu kamar, Rani," potong Kirana.
Rani kembali menghadap ke depan, jemarinya lincah mengetik di atas papan ketik laptop yang dipenuhi stiker karakter kartun. "Siap, Ndan. Hanya menyampaikan observasi sekilas."
Lampu indikator kamera lorong lantai tujuh belas mendadak berkedip hijau. Pintu kayu jati tebal bernomor 1740 terbuka perlahan, sesosok tubuh muncul dari dalam kegelapan kamar.
Seorang pria berusia awal empat puluhan melangkah keluar. Rambutnya dipotong pendek rapi, sedikit uban di sekitar pelipis, dibalut kemeja flanel biru gelap, lengannya digulung rapi hingga siku. Koper kabin hitam beroda ganda ditarik tanpa suara di atas karpet tebal koridor di tangan kanannya. Tangan kirinya memegang erat tas laptop kulit cokelat tua dan selembar paspor hijau, terselip di saku kemeja depan.
Pria itu berhenti dua detik di depan cermin besar dekat lift, ia membetulkan letak kerah kemejanya lalu melirik ke arah kamera pengawas di sudut langit-langit.
"Target bergerak," suara Dedi di radio berubah tegang, "Koper hitam, tas laptop cokelat. Menuju lift nomor tiga."
Kirana mencondongkan tubuhnya, ujung hidungnya nyaris menyentuh layar monitor. "Bimo, bersiap di lobi. Jangan lakukan kontak visual. Jaga jarak dua puluh meter di belakang tiang tengah."
"Diterima, Ndan. Kopi keempat saya tinggal setengah," sahut Bimo.