Di dalam kabin lift yang bergerak turun kembali ke lobi, tangan Baron beberapa kali memukul dinding cermin lift. Permen karet di mulutnya dikunyah lebih cepat.
"Kalau sampai si gembrot Kamboja itu lepas karena tulisan tangan lo yang mirip cakar monyet ini, Juk, gue sendiri yang bakal masukin kepala lo ke dalam mesin kompresor pangkalan," suara Baron serak, bahu besarnya naik-turun.
Juki menekan tombol panggil di ponselnya, jempol gemetar. "Ini si Joni gak ngangkat lagi! Sialan! Biasanya dia standby di dekat radio!"
Cakra bersandar di sudut paling belakang, kedua tangannya masuk di saku celana kainnya yang longgar. Matanya menatap lantai lift yang berbahan marmer hitam mengkilap.
"Bang," Cakra memotong suara operator telepon otomatis dari ponsel Juki.
Baron menoleh dengan sentakan cepat, matanya yang merah menatap Cakra seolah ingin menelan pemuda itu hidup-hidup. "Apa lagi lo?! Gak usah banyak tanya dulu!"
"Kamar yang kita cari itu... maksudnya orangnya, cirinya bawa koper hitam sama tas kulit cokelat bukan?" tanya Cakra, nadanya tetap datar, agak lambat seperti biasa.
Juki menoleh, alisnya menyernyit, ia menekan tombol merah di layar ponselnya. "Lo tahu dari mana? Si Joni belum sempat ngasih tahu ciri fisik ke lo kan?"
"Tadi pas kita masuk di depan lobi, ada orang yang cirinya persis kayak gitu," Cakra menunjuk ke arah pintu lift. "Dia bawa koper hitam, tas cokelat sama gantungan kunci kamar warna kuningan. Angkanya 1740. Bukan 7140. Tulisannya emang mirip kalau kertasnya kebalik."
Baron melirik ke arah Juki, lalu kembali ke Cakra. "Goblok."
"Lah, gue cuma nyatat apa yang diomongin di telepon tadi!" wajah Juki memucat.
Beberapa tamu hotel di dekat area lift menyingkir dari jalur langkah Baron. Ia setengah berlari menuju meja resepsionis panjang di tengah lobi.
Juki mengikuti di belakang Baron, tangannya merapikan letak topinya, menarik lebih dalam. Cakra berjalan paling belakang, matanya melirik ke arah pilar marmer tempat Bimo berdiri membaca koran. Cakra berhenti, ia menatap ujung sepatu Bimo yang terlalu bersih.
"Ngapain lo berenti?" Juki menoleh ke Cakra.
"I... Iya, bang." Cakra kembali berjalan mengikuti langkah Juki.
Baron menggebrak tepi meja marmer resepsionis dengan ujung jarinya, seorang resepsionis wanita muda dengan seragam batik biru mundur setengah langkah. "Kamar 1740. Tamunya masih di dalam atau di mana?"
Resepsionis itu menelan ludah, jemarinya gemetar mengetik sesuatu di atas papan ketik komputer di bawah meja. Cahaya hijau memantul di pupil matanya.
"Maaf, Pak," suara resepsionis itu bergetar tipis, matanya melirik ke arah petugas keamanan berjalan mendekat dari sudut lobi. "Tamu dari kamar 1740 baru saja menyelesaikan proses pembatalan kamar dan seluruh administrasinya."
"Orangnya di mana sekarang?!" Juki memotong, wajahnya maju melewati batas pembatas kaca meja.
"Sudah check out, Pak. Sekitar... tujuh menit yang lalu," resepsionis itu mundur, tangannya bergerak ke arah tombol darurat di bawah meja. "Beliau langsung menuju ke arah pintu keluar samping setelah menerima tanda terima pembayaran."
Baron berbalik, sikunya menyenggol pot bunga vas perak di atas meja. "Juk, cari di parkiran timur! Bocah, lo ikut gue ke pintu keluar barat!"
Di dalam minibus, suara statis dari radio tim Kirana berubah menjadi hiruk-pikuk teriakan yang tumpang-tindih.