Gelas kristal berisi potongan es batu besar berdenting pelan saat Citra Mahardika menggesernya di atas permukaan meja marmer Carrara putih. Asap tipis beraroma kapulaga dan cengkih menguar dari cangkir porselen di seberangnya. Nicholas duduk bersandar, satu kaki bertumpu di atas lutut lainnya. Ruangan lantai dua lounge keluarga dikelilingi jendela kaca setinggi langit-langit, meredam riuh rendah kota di bawah, deru halus pendingin udara pusat yang tersembunyi di balik panel kayu walnut terdengar samar.
"Bocah baru itu lagi?" Jemari Citra bergerak lambat di atas layar tabelt, menggulung barisan teks manifes kapal domestik dan laporan kerugian operasional wilayah utara dari malam sebelumnya. Di sudut atas layar, logo kepolisian daerah berkedip merah dalam format salinan digital.
Nicholas menurunkan pandangannya dari jendela besar, menatap ujung sepatu pantofelnya. "Yang mana?"
"Yang salah culik." Citra mendorong tabletnya ke depan piring porselen Nicholas. "Yang gantiin posisi operator yang kabur untuk perkara lima ratus juta."
Nicholas tertawa kecil. Ia meraih cangkir tehnya, menyesep pelan. "Dia kenapa?"
Citra menarik kembali gawainya, matanya menyisir baris data baru yang baru saja masuk lewat peladen internal. "Minggu lalu, lo hampir kehilangan seluruh akses cadangan di server pusat karena anak buah Haris memotong jalur di rumah kos." Citra menoleh ke Nicholas. "Bocah ini menemukan si programmer di toilet musholla pasar burung setelah melihat posisi jatuhnya tas ransel.
Citra beralih kembali ke tabletnya. "Kemarin siang di hotel, Juki salah membaca catatan lantai kamar operasional dari Joni. Target regional Kamboja sudah di meja resepsionis buat check-out saat tim lo masih ngetuk pintu kamar pensiunan di lantai tujuh."
Nicholas meletakkan kembali cangkir porselennya ke atas tatakan. "Juki memang selalu bermasalah dengan detail tulisan tangan."
"Lalu bocah itu memungut label bagasi yang putus di lantai lobi barat," sambung Citra, telunjuknya mengetuk tepi marmer meja. "Dia baca nama agensi travel khusus rute Batam, cocokin jam keberangkatan kapal cepat yang nggak ada dalam jadwal reguler syahbandar, dan bawa Baron motong jalur lewat tol luar sebelum kapalnya lepas jangkar.
"Target sekarang ada di hanggar timur, lagi dibersihin Juki." Nicholas membetulkan letak kacamatanya, jemarinya menekan bingkai kacamata di antara kedua matanya. "Itu yang dilakukan orang lapangan saat panik, Citra. Mereka nyari apa saja yang tersisa di tanah."
"Berapa lama dia bekerja di pangkalan?"
"Dua minggu. Mungkin kurang."
Citra berhenti menggeser layar. Ia mengandarkan punggungnya ke sandaran sofa kulit abu-abu, melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap lurus ke arah mata Nicholas di balik lensa kacamatanya.
"Dua operasi," nada suara Citra rendah. "Dua kali operasional lo gagal teknis di tingkat dasar. Dan dua kali bocah itu jadi variabel tunggal yang membalikkan hasil akhir menjadi keuntungan."
Nicholas memutar gelas air mineralnya, ia menatap gelembung-gelembung udara kecil menempel di dinding kaca. "Kebetulan. Anak-anak di kampung memang punya insting bertahan hidup yang berbeda kalau ditaruh di jalanan kota."
"Mungkin," Citra memiringkan kepalanya sedikit, helai rambut hitamnya yang lepas dari jepitan jatuh di pipi. "Atau mungkin enggak."
Citra meraih cangkir kopinya yang mulai mendingin, menyesapnya sedikit tanpa melepaskan pandangannya dari Nicholas. "Siapa nama lengkapnya?"
Mata Nicholas beralih ke arah dokumen fisik yang mencuat dari dalam tas kerja kulitnya di atas lantai. "Cakra."
"Nama lengkap, Nicholas. Nama yang tertulis di kartu identitasnya."
Tangan Nicholas memegang sendok kecil teh tetap di atas cangkir. "Cakra," ulang Nicholas, "Hanya Cakra. Kebanyakan orang dari wilayah pinggiran nggak pakai nama keluarga."
"Kampus?" Citra kembali menatap layarnya, jemarinya menggantung di atas kolom pencarian data eksternal.
Nicholas menoleh ke luar jendela. "Gue gak tanya."
"Riwayat kerja sebelum masuk pangkalan truk?"
"Joni yang bawa."
"Artinya lo nggak tahu," Citra meletakkan tablet di atas marmer, es batu di dalam gelas Nicholas bergeser. "Lo masukin orang yang nggak punya latar belakang jelas ke dalam lingkaran distribusi siber bisnis lo. Orang yang tahu persis di mana kita nyimpan server cadangan, tahu wajah operator Kamboja yang kita culik, dan tahu bagaimana tim lapangan lo bergerak."
Rahang Nicholas mengeras, gurat otot di sekitar pipinya menegang.
Mata Citra nenyipit menatap wajah Nicholas. "Dia bukan bagian dari struktur kita, Nicholas. Tapi dia ada di pusat kejadian setiap kali ada masalah. Di dunia modal ventura, kita menyebutnya anomali. Dan anomali harus selalu diperiksa sebelum dia mengubah arah grafik."
Nicholas meraih ponsel hitamnya yang tergeletak di samping vas bunga kecil. Jarinya menekan satu tombol cepat, mengaktifkan pengeras suara lalu meletakkan kembali ponselnya tengah meja marmer.
Suara nada sambung berbunyi dua kali, disusul oleh deru angin malam yang bising dan bunyi denting besi yang beradu dari kejauhan.