Uap panas dari mesin pembuat kopi espresso menyembur dengan bunyi desis panjang, menutupi gemuruh rintik hujan yang mulai membasahi trotoar di luar jendela kaca toko buku. Kirana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu di sudut paling belakang ruangan. Ia menatap cangkir keramik berisi teh camomile yang sudah mendingin dibiarkan tanpa disentuh di atas meja.
Ponsel pribadinya tergeletak menghadap bawah di samping cangkir. Rekan-rekannya di unit siber polda sibuk menyusun laporan kegagalan operasi di hotel.
Ia melepaskan jaket jinsnya, kemeja katun tipis berwarna abu-abu muda yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya dibiarkan terurai bebas, jatuh melewati bahu. Jari-jarinya bergerak lambat, membalik halaman novel berjudul SATU TITIK. Matanya sesekali bergerak menatap butiran air yang mengalir di permukaan kaca luar, mengikuti lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala di sepanjang jalur arteri.
Suara denting lonceng di atas pintu masuk toko buku berbunyi pelan. Suara derit sol sepatu karet yang basah, bergerak di antara rak-rak buku fiksi ilmiah di dekatnya.
Bau samar sabun batang dan aroma khas minyak pelumas rantai yang tipis merayap masuk ke dalam radius duduknya.
Kirana menghentikan gerakan jemarinya di atas kertas buku. Ia menoleh ke asal suara, matanya menatap pria mengenakan jaket jins yang warnanya sudah memudar di bagian siku, dipadukan dengan celana kain hitam yang baru dicuci namun tidak disetrika, kantong plastik berlogo toko elektronik di lantai dasar digenggam erat di tangan kanannya.
Mata Kirana menyipit, menatap tubuh tegak yang berbeda dari tubuh yang dia lihat di layar monitor saat pengintaian hotel. Di bawah lampu sorot toko buku yang terang, bahunya lebar dan bidang, garis rahangnya yang bersih tanpa janggut terlihat tegas saat ia memiringkan kepalanya, membaca judul buku.
Pria itu berbalik lambat, matanya menyisir sekeliling ruangan, lalu tidak sengaja matanya bertemu dengan tatapan mata Kirana.
"Mbak jeruk," Langkah kaki Cakra diam di atas lantai semen ekspos. Kantong plastik di tangannya bergemerisik pelan saat cengkeramannya mengencang.
Kirana menurunkan bukunya ke atas meja perlahan, punggungnya bersandar tegak. "Eh."
Cakra berkedip dua kali. Ia menoleh ke sekeliling sudut ruangan yang sepi, lalu kembali menatap Kirana, tangannya bergerak menggaruk bagian belakang telinganya. "Eh... maaf, Mbak. Maksud saya... Mbak yang waktu itu di jemuran.
"Mas yang suka menarik lengan orang sembarangan di gang buntu," balas Kirana datar, matanya menatap gerakan tangan Cakra.
Cakra mundur setengah langkah, kedua tangannya terangkat di udara, telapak menghadap ke depan. "Sumpah, Mbak, yang waktu itu benar-benar darurat. Saya gak ada niat macem-macem. Kalau saya gak pura-pura kenal... eh, pura-pura nikah. Eh bukan, pura-pura tunangan sama Mbak maksud saya, kepala saya mungkin sudah bocor kena balok kayu orang-orang berkaus ketat itu."
Kirana menunjuk kursi kosong di hadapannya dengan ujung dagunya. "Duduk."
Cakra menatap kursi di seberang Kirana. "Gak apa-apa, Mbak? Saya cuma sebentar kok. Ini disuruh beli perangkat keras buat cadangan server di bawah. Takut dicariin kalau kelamaan."
"Duduk," ulang Kirana.
Cakra menarik kursi cepat, ia duduk tegak, ia meletakkan kantong plastik di bawah meja, lalu kedua tangannya diletakkan sejajar di atas meja. Kaus oblong putih di balik jaket jinsnya mengetat.
Kirana menatap guratan otot dada dan lengannya yang padat, lalu beralih ke wajah Cakra.
Seorang pelayan toko meletakkan secangkir kopi hitam pesanan baru di atas meja. Kirana masih menatap lurus ke wajah Cakra.
"Mbak?" Cakra meraih cangkir dengan kedua tangan.
"Ah, iya?" Kelopak mata Kirana berkedip cepat.
"Muka saya aneh ya, mba?" Cakra mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia menatap bayangan wajahnya di layar hitam ponselnya.
"Nggak." Tangan Kirana menopang dagu di atas meja. "Jadi, kenapa waktu itu dikejar orang-orang baju hitam?"
Cakra mendesah, bahunya merosot sedikit. Ia menyesap kopinya, lalu meringis kecil. "Kalau saya cerita yang sebenarnya, Mbak jangan ketawa ya. Janji dulu."
Kirana membetulkan posisi duduknya, melipat kedua tangannya di atas meja kayu. "Saya usahakan."
"Saya ini korban salah culik," Cakra meniup uap panas kopi di cangkirnua.
Kirana menaikkan alis kirinya, "...gimana?"
"Iya, Mbak. Saya juga sampai sekarang masih bingung gimana cara jelasin ke orang-orang di kampung kalau saya pulang nanti," Cakra memutar cangkirnya. "Saya baru dua jam di Jakarta. Baru turun dari bus di terminal, terus jalan kaki apartemem Sentra Jaya."
Kirana menatap lurus wajah Cakra, matanya menyipit. "Terus?"
"Baru juga saya beres mandi, tiba-tiba pintu kamarnya dijebol sampai engselnya lepas," Cakra menggerakkan tangannya, menggambarkan ukuran pintu yang rusak. "Muncul orang tato naga di dada, trus dua orang besar pakai jaket kulit di belakangnya."
Kirana menahan napas di tenggorokan. Jari-jarinya mengetat di bawah meja. "Kamu diem aja?"
"Saya harus ngapain mba?"
"Pintu kamar di dobrak masa diem aja."
"Badannya gede mba, dua orang pula. Eh tiga sama yang tatoan."