Lampu neon putih berkedip di langit-langit ruang bawah tanah. Cahaya lampu terpantul di atas lantai beton. Aroma kabel terbakar dan pengharum lantai bercampur di udara.
Cakra berdiri di dekat pintu, matanya menatap belasan pria duduk di depan layar monitor.
"Dia udah abis tiga puluh juta." salah tau pria menatap barisan kode program di layar. "Kasih menang nggak nih?"
"Kasih kecil aja." jawab pria lain tanpa menoleh, ia mengetik mengetik rayuan ke korban judi online, foto perempuan cantik terletak di avatar profil akun.
"Biar dia all in ya, abis itu kasih kalah." Pria pertama menyeringai.
"Yoi, abis itu gue masuk nyuruh dia depo di web lain. Kasih pap tete sekali juga bakalan nurut." Pria kedua tertawa.
"Lo bisa dapet foto tete cewek dari mana si?" Pria pertama menoleh.
"Yaelah, banyak di twitter, tinggal download, trus pake foto dia di DP. Orang goblog mah bakalan kena dikasih tete gratisan."
Mata Cakra menyipit, tangannya mengepal di samping paha, urat lengannya menonjol.
Joni bersandar di kursi putar di sudut ruangan. Rokok kretek terselip di bibirnya. Baron duduk di sudut ruangan, rahanganya menguyah bakwan hangat dari atas meja, matanya menatap televisi tertempel di dinding.
Juki duduk bersila di atas kursi panjang, ponselnya miring di telapak tangannya, jempolnya bergerak cepat di atas layar. Ia menoleh sekilas ke barisan pria di tengah ruangan. "Woy, ini lo pada nggak ada yang bisa bikin cheat diamond apa?"
Seorang pria menoleh. "Yaelah bang, bonus sebulan dari sini lebih dari cukup buat lo top up kali bang."
"Itu jatah cicilan motor gue woy."
Joni menoleh ke Cakra. "Lo sini." Tangannya bergerak pelan di depan wajahnya.
"Kenapa bang?" Cakra melangkah mendekat ke meja Joni.
Joni menarik laci di bawah mejanya, mengeluarkan amplop cokelat gebal, lalu melempar ke atas tumpulan berkas di atas meja.
Cakra menoleh ke amplop cokelat di depannya, lalu beralih menatap wajah Joni. "Ini apaan, Bang?"
"Buka," dagu Joni terangkat menunjuk ke arah meja.
Cakra mengulurkan tangannya, lalu menarik ujung amplop. Ia melepas lem amplop, memgintip isinya. "Buset bang, banyak amat." Lembaran tumpukan kertas merah terpantul di pupil matanya.
Jempolnya menggeser ujung-ujung lembaran uang, bibirnya bergerak tanpa suara. "Lima belas juta." Ia mendongak, pupil matanya membedar. "Ini duit beneran bang?" Cakra menoleh ke Joni.
Baron menurunkan bakwannya, matanya melirik Cakra. "Itu uang Monopoly. Mau lo tukar sama hotel di Blok M?"
"Serius, Bang," suara Cakra naik satu oktav, jemarinya menggenggam erat amplop cokelat di tangannya.
Juki menoleh. "Lo nggak denger kata bocah tadi? Bonus disini gede." Dua jempolnya masih bergeral cepat di atas layar. "Ah tai, kalah lagi."
"Itu hasil dua kerjaan kemarin. Yang lo nemuin si kurus di toilet pasar burung sama label kuning di hotel." Joni menyulut rokok baru di mulutnya. "Si bos gak pernah piara orang gratisan di sini."
Cakra menatap tumpukan uang di tangannya lagi. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Banyak banget ini bang. Cepet kaya nih kalo dapet segini terus."