Terik matahari pukul dua siang membakar atap seng hanggar. Cakra berjongkok di samping tumpukan server. Ponsel hitamnya berdering di dalam saku jaketmya. Cakra meraba sakunya, matanya menatap deretan angka tanpa nama. Ia menelan ludah lalu menggeser ikon hijau.
"Halo."
"Halo," suara Kirana terdengar dari seberang telepon, nadanya datar.
Mata Cakra membesar. Tubuhnya menegak dari posisi berjongkok.
Baron duduk di sudut ruangan, rahangnya berhenti mengunyah, garpunya menggantung di udara. Juki berdiri empat meter di belakang Cakra, ia menoleh menoleh cepat. Jemarinya menggenggam botol air mineral miring ke arah mulutnya, Tangannya berhenti bergerak, air dari mulut botol menetes ke kausnya. "Anjir." Ia melepas botol dari genggamannya. Joni duduk di kursi sudut menurunkan koran perlahan, matanya menatap lurus arah ponsel di tangan Cakra.
"Ehhh... iya, Mbak,"
Baron bangkit, melangkah tanpa suara di atas lantai semen, memajukan tubuh besarnya hingga berdiri di belakang Cakra, lalu berbisik. "Dia?"
Tangan Juki mengibas kausnya yang basah. "Jelas dia. Lihat tuh leher si Cakra sampai merah semua."
Joni melipat korannya, ia mengetuk meja sekali dengan ujung logam pulpennya. "Speaker."
Cakra menoleh ke belakang. "Apaan speaker, Bang? Gak usah ikut-ikutan lah."
"Speaker, Bego," Baron merebut paksa pergelangan tangan Cakra, jempol besarnya yang kasar menekan ikon pengeras suara di layar. "Biar kita bantu kalau lo bingung mau jawab apa."
"Ini wawancara kerja apa gimana, Bang? Ngapain dibantu segala?" Cakra menarik kembali ponselnya, tangannya tertahan kekuatan fisik Baron yang biasa mengangkat ban tronton.
Cakra melangkah menjauh menuju lorong di antara tumpukan komputer kelabu. Joni, Baron, dan Juki ikut melangkah serentak di belakangnya, menjaga jarak lima meter.
Cakra pindah ke sisi kanan generator. Ketiganya ikut bergeser ke kanan. Cakra memutar balik menuju pintu darurat timur. Ketiganya ikut berputar balik tanpa melepaskan pandangan dari ponsel di tangan Cakra.
"BANG! JANGAN NGIKUTIN NAPA?!" Cakra berbalik.
Baron mengangkat kedua tangannya yang besar ke udara. "Kita gak ngikutin lo, Cakra. Ini ruangan server si bos, kan."
"Kebetulan arah jalan kita sama saja dari tadi," tambah Juki, ia menyeringai.
Joni mengangguk sekali.
Cakra menarik napas dalam lewat hidung. Tuga kepala mencondongkan telinga ke arah speaker ponselnya. Ia berjalan menuju sudut paling pojok.
"Bang, tolong lah jangan ikut sampai ke sini."
Baron maju satu langkah, memeriksa katup pengunci generator dekat siku Cakra. "Gue cuma mau lewat. Tuh, generator ada di samping lo."
"Abis itu kemana?"
"Lurus lagi, ke ruang server."
"Ini jalan buntu, Bang Baron! Depan lo itu tembok!" Cakra menunjuk dinding di hadapan wajah Baron.
Baron menatap dinding di hadapannya tanpa berkedip, lalu kembali menatap Cakra. "Oh iya ya. Baru dipasang mungkin sama Joni kemarin."
"Ngerjain tembok nggak sehari dua hari, Bang."
"Gue juga cuma mau lewat," Juki ikut merapatkan tubuh tegapnya di sisi kanan Baron, matanya melirik ke arah layar ponsel yang memancarkan durasi panggilan panggilan.
"Ini ruang kosong, Bang Juk! Gak ada barang yang perlu dipindahin di pojokan sini!" suara Cakra serak.
Joni berdiri paling belakang di antara Baron dan Juki, kedua tangannya bersedekap di dada.