Asap knalpot forklift menderu pelan di dekat pintu keluar hanggar membelah berkas cahaya sore yang menerobos dari sela-sela seng. Cakra berdiri kaku di samping tumpukan ban bekas, meluruskan ujung kemeja hitam pinjaman yang melekat terlalu ketat di bahunya.
Baron melangkah maju, ia menyampirkan jaket jins ke bahu Cakra. "Inget, jalannya jangan bungkuk. Dada maju sedikit, biar kelihatan kayak orang punya simpanan di bank." Tangannya mendorong punggung Cakra.
Juki sedang memegang sandal jepit karet milik Cakra di dekat meja kayu. "Ini beneran nggak boleh gue pasang pelacak di bawah solnya? Cuma sekecil kancing baju kok. Buat jaga-jaga kalau dia mendadak diangkut mobil boks." Ia menoleh ke Joni.
"Nggak usah gila," sahut Joni dari balik kemudi forklift. Ia menurunkan kakinya ke lantai beton, lalu melangkah mendekati ketiganya.
Kepala Joni bergerak dari atas sampai bawah, menatap rambut Cakra yang tidak rata, lalu turun ke ujung sepatu pantofel Baron yang kebesaran di kakinCakra. "Kalau perempuan itu polisi beneran, kita ngikut satu mobil isi preman muka kriminal semua, sama aja kita ngasih kartu nama ke polda."
Baron merengut, memasukkan kembali kunci motor ke dalam saku celananya. "Jadi kita biarkin ini bocah jalan sendiri? Kalau dia bocor gimana?"
"Dia nggak akan bocor kalau masih sayang sama jarinya," Joni menatap Cakra, matanya menyipit. "Nggak ada yang ikut. Kalau dia polisi, kita ketahuan. Kalau dia bukan polisi, kita tetap ketahuan dengan tampang kalian yang mirip daftar pencarian orang. Biarin Cakra jalan sendiri."
Juki mendengus, melempar sandal jepit ke sudut ruangan. "Yaudah. Tapi kalau pulang-pulang lo nggak bawa nomor WhatsApp cadangan atau minimal foto barunya, utang lo gue tambahin lima juta buat biaya sewa kemeja gue."
Cakra mengangguk. Ia berbalik, melangkah keluar melewati gerbang hanggar.
Mata Kirana melirik jam di pergelangan tangannya, angka 16:45 terpantul di pupil matanya. Angin sore berembus lambat, daun-daun kering di atas permukaan paving blok taman kota bergerak pelan.
Kirana duduk di ujung bangku kayu panjang bawah pohon mahoni, menyilangkan kaki kanannya di atas lutut kiri. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan cangkir kertas kopi dingin yang dibelinya di stasiun setengah jam lalu.
Matanya bergerak ke arah kiri dari balik kacamata hitamnya, menyisir area di sekitar air mancur kering.
Bimo berdiri di bawah pohon dua puluh meter di belakang Kirana, tangannya memegang koran terbalik di depan wajahnya. Ujung jarinya sesekali bergerak membetulkan posisi earphone kabel yang masuk ke balik kerah batiknya.
Dedi bersandar di tiang lampu hias dekat gerobak pedagang cilok yang mengepulkan uap bumbu kacang. Tangan kanannya memegang ponsel posisi horizontal, terangkat setinggi dada. Lensa kamera belakangnya lurus membidik ke arah bangku kayu tempat Kirana duduk.
Suara desis statis yang sangat tipis terdengar dari pengeras suara mikro yang menempel di balik manset kemeja Kirana.
"Target utama sudah tiba di sektor tiga," suara Rani terdengar dari dalam mobil di seberang jalan raya, teredam gemuruh mesin pendingin udara ruangan van. Ia menatap peta GPS berkedip di tiga layar monitor portabel di depannya.
"Target utama atau komandan kita?" suara Dedi terdengar samar diiringi bunyi denting sendok pedagang cilok.
"Komandan," jawab Rani pendek.
"Oh."
Kirana memiringkan kepalanya sedikit, matanya menatap lurus ke arah jalur pejalan kaki yang menghubungkan taman dengan pintu keluar stasiun kereta.
Suara langkah kaki terdengar keras bergesekan dengan paving blok. Cakra muncul dari balik pagar tanaman hidroponik di ujung jalan setapak.
Kirana menatap lurus ke arah Cakra yang berjalan mendekat. Kepala Cakra bergerak ke kiri dan kanan. Rambut bagian belakang kepalanya habis dipangkas kasar
Satu alis Kirana naik di balik kacamata hitamnya, kemeja katun hitam ketat di tubuh Cakra. Matanya membesar menatap guratan otot belikat Cakra setiap kali ia mengayunkan tangan. Aroma parfum lavender menyamarkan bau tanah kering saat Cakra mendekat ke arahnya.
Kirana menahan napas, menurunkan kacamata hitamnya, bertumpu di pangkal hidung. "Kenapa kamu berpakaian seperti anggota boyband gagal tahun 2008?"
Cakra berhenti tepat di depan bangku kayu, tangannya bergerak meraba kerah kemejanya yang mencekik leher. Ia melirik sepatunya. "Bagus ya, Mbak?"
"Nggak," Kirana menegakkan duduknya. Ia meletakkan cangkir kopi ke dalam tempat sampah di samping kursi. "Siapa yang nyuruh kamu pakai kemeja ketat begitu?"
"Bang Juki," Cakra mendesah pelan, bahunya merosot. "Katanya biar modal fisik saya kelihatan di depan cewek kota."
"Saya tidak kenal Bang Juki," Kirana melangkah melewati Cakra. Ia memejamkan, menarik napas panjang. "Tapi saya langsung tidak suka orang itu."
Cakra berjalan di samping Kirana, langkahnya pelan terseok. Bimo menurunkan koran di depan wajahnya, matanya menatap Cakra dan Kirana menyusuri jalur lingkar taman.
Krrrrk...