Sol sepatu pantofel milik Baron yang kebesaran dua nomor menghantam jalan semen. Cakra turun dari boncengan motor ojek online, menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan yang sudah lecek kepada pengemudi, lalu membetulkan letak kerah kemeja hitamnya.
Langkahnya tersendat saat melewati undakan semen Warkop pangkalan. Aroma pekat kopi saset bergantian dengan gurihnya kuah mi instan menyambut indra penciumannya, bercampur dengan sisa-sisa bau minyak wangi lavender yang masih menempel di kain jins jaketnya.
Tiga pasang mata beralih serentak dari sudut meja panjang. Joni menurunkan cangkir kopi hitamnya. Baron menurunkan garpu berisi lilitan mi instan ke atas piring, Juki menurunkan ponselnya, layar permainan digitalnya berkedip.
"Gimana kencan hari ini? Lancar jaya atau kena tilang?" Mata Juki menyisir dari potongan rambut asimetris Cakra hingga ujung pantofel yang berdebu
Cakra menarik kursi plastik kosong. "Kencan apaan, Bang. Orang cuma ngobrol biasa di kedai kopi dekat stasiun."
"Ya itu namanya kencan, Bego," Baron mendengus, memasukkan lilitan mi ke dalam mulutnya. "Masa lo harus nunggu ijab kabul dulu baru dibilang kencan."
Joni menggeser cangkir kopinya ke tengah meja, melipat kedua tangannya di atas permukaan kayu, lalu menatap Cakra lurus. "Jadi?"
Cakra membalas tatapan Joni, tangannya bergerak lambat meraba saku jaket tempat ponselnya. "Jadi apa, Bang?"
"Dia polisi?"
Cakra diam beberapa detik, pupil matanya bergerak ke atas. "Kayaknya bukan, Bang."
Joni mengangguk sekali. "Oke."
Baron tersedak kuah mi, terbatuk kecil, lalu menatap Joni. "Oke? Begitu doang, Jon? Lo gak nanya yang lain? Surat tugasnya ke, atau minimal marganya?"
Juki mencondongkan badannya ke depan. "Iya, Jon. Tumben amat otak lo lagi longgar. Biasanya ada lalat lewat aja lo interogasi tiga jam."
Joni meraih sebungkus rokok kretek dari saku kemejanya, menarik sebatang dengan ujung bibir, lalu menyalutnya dengan pemantik gas. Asap putih mengepul lambat, membelah cahaya lampu neon warkop.
"Dari lo bertiga, siapa yang bawa balik si gembrot?" Joni menatap Baron dan Juki bergantian
Baron melirik Cakra, lalu mengacungkan jempolnya yang besar ke arah Cakra. "Dia."
"Siapa yang nemuin jalur kabur orang Kamboja?" Joni bertanya lagi tanpa mengubah nada suaranya.
Juki mendengus pelan, menepuk bahu Cakra. "Dia juga."
"Siapa yang paling sering bener waktu lo berdua lagi sotoy dan salah perhitungan?"
Sunyi sebentar. Baron menatap mangkok mi instannya yang tinggal setengah, Juki membersihkan layar ponselnya dengan ujung kaus.
Joni mengembuskan asap rokoknya ke langit-langit warkop. "Kalau dia bilang bukan polisi, ya berarti bukan. Otak dia lebih jalan daripada otot lo berdua."
Cakra berdehem, mengangkat tangan kanannya setinggi telinga. "Bang Jon."
Joni memiringkan kepalanya sedikit, abu rokoknya jatuh ke lantai tanah. "Apa lagi?"
"Gue... gue boleh ambil cuti nggak?"
"Goblok," serpihan mi berterbangan dari mulut Baron. "Lo pikir lo pegawai negeri yang punya jatah cuti tahunan sama uang lembur?." Ia tertawa keras.
"Bukan gitu, Bang," Cakra melambaikan tangannya. "Gue di sini juga nggak ngapa-ngapain kalau lagi nggak ada tugas. Kalau nggak ada tugas kan gue nggak dibayar sama bang Joni. Kalau nggak dibayar, utang lima ratus juta gue ke bos Nicholas nggak bakalan berkurang sampai rambut gue putih semua."
Jemari Juki berhenti di atas layar ponsel. "Terus kalau lo cuti, lo bisa dapat duit dari mana? Mau ngutil di pasar lo?"
"Dapat duit dari cewek yang tadi, Bang."
Joni tersedak, asap rokok keluar dari mulut dan hidungnya. "Dapat dari mana, lo bilang?"
Mata Baron dan Juki melirik cepat ke arah Cakra.
Wajah Cakra memerah di bawah sorotan lampu warkop. "Dia... dia minta gue buat pura-pura jadi pacarnya di acara keluarga besarnya, Bang. Katanya nanti ada kompensasi buat ongkos sama uang lelah. Lumayan kan, bisa buat nambahin cicilan utang gue ke si bos."
Joni menatap Cakra dari ujung kepala sampai ujung kaki sekali lagi, lalu mengangguk lambat. "Dia ngajak lo ketemu sore-sore cuma karena mau pakai lo buat jadi pacar boongan? Apes banget hidup lo, Cakra."
Dahi Cakra mengernyitkan. "Apes gimana, Bang? Kan gue dibayar."
"Dideketin cewek kota cuma buat dipakai jasanya doang habis itu dibuang," Joni menggeleng-gelengkan kepala. "Gak ada harga dirinya lo sebagai laki-laki."
"Dia jablay dong berarti?" sela Baron. "Eh, bukan. Apa namanya yang suka nyewa cowok daun muda itu?"
"Berondong, Bego," Juki menepuk jidat Baron dengan telapak tangannya.
"Songong banget si anjing." Baron menepis tangan Juki. "Tapi, iya itu maksud gue." Baron menunjuk Cakra dengan garpunya.
"Gue nggak dipakai beneran, Bang Baron!" Suara Cakra meninggi. "Cuma berdiri di sampingnya, senyum-senyum, terus pura-pura akrab di depan tante-tantenya."
"Goblok," Baron mendengus. "Enak di lo itu mah kalau beneran dipake. Udah dibayar, dapet makan gratis di hotel, terus dipakai buat pamer lagi. Kenapa bukan gue aja yang diajak?"