BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #15

15. MAKE OVER PART 2

Udara dingin dari lubang ventilasi di atas langit-langit mal kelas menengah berembus pelan, selembar selebaran promo yang tergeletak di atas bangku beton bergerak perlahan. Kirana melirik jam digital di pergelangan tangan kirinya. Tepat pukul 10.02. Suara derit roda troli pembersih lantai dan ketukan sepatu beberapa begawai toko terdengar samar.

Kirana meluruskan lipatan rok jinsnya, lalu memeriksa selembar catatan kecil di layar ponselnya. Ia menatap daftar kemeja, celana, sepatu, jam tangan murah bawah dua ratus ribu, simulasi jamuan makan, dan pengondisian latar belakang untuk reuni keluarga hari Minggu besok tersusun rapi.

"Mbak."

Aroma lavender pekat memenuhi sekitar Kirana, menyamarkan aroma jeruk pembersih lantai. Jemari Kirana menggantung di atas layar ponsel.

Kirana mengangkat kepalanya, napasnya tertahan, ia menelan ludah. Cakra berdiri tiga langkah di depannya, kedua tangan masuk ke saku jaket jins kusamnya. Kemeja hitam pinjaman Juki melekat begitu ketat di tubuhnya di balik jaketnya yang terbuka.

Mata kirana menatap guratan otot dadanya tercetak jelas tanpa berkedip. Dua kancing teratas dibiarkan terbuka, pangkal lehernya memerah. Potongan rambut bagian belakangnya miring ke kanan.

"Mbak." Cakra melambaikan tangannya, lalu membetulkan letak kerah kemejanya.

"Ah, sini." Kelopak mata Kirana berkedip cepat.

"Gimana, Mbak? Kata Bang Baron sama Bang Juki, kalau mau ketemu cewek kota itu penampilannya harus kelihatan misterius tapi punya modal dada bidang."

Kirana memejamkan matanya beberapa detik, menarik napas panjang. "Masih Juki yang dandanin kamu?"

Cakra berkedip. "Lho. Mbak kok tahu?"

Kirana memijat pangkal hidungnya.

"Bang Juki yang bilangnya begitu, Mbak. Katanya cewek-cewek kota yang suka main ke diskotik bawah tanah paling doyan modelan begini. Katanya biar kelihatan kayak cowok nakal tapi sayang keluarga," tamban Cakra mengibas bagian depan kemejanya, uap lavender kembali menyembur ke arah Kirana.

Kirana membalikkan badannya membelakangi Cakra, melangkah cepat menuju pintu masuk toko pakaian pria di depan mereka. "Gue bakal bikin perhitungan sama si Juki suatu hari nanti."

"Kenapa mba?" tanya Cakra mendengar samar ucapan Kirana.

"Nggak. Udah sini cepetan."

Lantai kayu gelap toko pakaian mengkilap di bawah sorotan lampu halogen kekuningan. Kirana bergerak di antara rak gantung, jemarinya memilah gantungan baju katun dengan cepat.

Sepatu pantofel longgar milik Baron yang dikenakan Cakra mengeluarkan bunyi yang mengganggu keheningan toko.

Cakra berhenti di depan manekin yang mengenakan kemeja kasual biru muda. Tangannya terulur, membalik kecil label harga kertas yang tergantung di sela lengan kain. "Buset, delapan ratus lima puluh ribu." Matanya melebar.

Tangannya melepas kembali label kemeja. Ia melirik ke sekeliling toko, lalu berjalan setengah berjinjit mendekati Kirana yang sedang memegang celana chino.

"Mbak," bisik Cakra.

Kirana tidak menoleh, jemarinya memeriksa jahitan celana. "Ya?"

"Harga di baju yang sana itu salah cetak kayaknya, Mbak."

"Nggak."

"Ini cuma satu kemeja lho, Mbak. Gak ada emasnya di kerah."

"Iya."

"Delapan ratus lima puluh ribu," Cakra mengulang angka di label kemeja. "Itu kemeja sebiji harganya sama kayak dua puluh sak semen di kampung saya, Mbak. Bisa buat nambal dinding dapur Simbok yang retak sampai ruang tamu."

Kirana menghela napas panjang, meletakkan celana chino abu-abu ke atas lengan Cakra, lalu kembali berjalan.

Selama lima belas menit, koridor toko dipenuhi pemandangan Cakra yang terus-menerus membalik label harga. Kepalanya bergerak naik turun, berkomat-kamit menghitung konversi lembaran kain di tangannya menjadi karung beras, jumlah bulan makan di warteg, hingga biaya servis turun mesin traktor sawah.

Kirana menunjuk bilik kayu di sudut ruangan dengan dagunya. "Masuk ke bilik itu. Ganti semuanya." Ia menambahkan satu potong pakaian ke lengannya.

Cakra menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun. Ia melangkah masuk, menutup pintu kayu.

Kirana berdiri bersandar di meja display kaca, melipat kedua tangannya di dada. Suara gesekan kain dan keluhan pelan Cakra terdengar dari balik pintu bilik, disusul bunyi gesekan sabuk kulit yang kaku. Beberapa menit berlalu dalam keheningan toko, diselingi langkah kaki pramuniaga yang merapikan dasi di rak seberang.

Klek.

Pintu kayu terbuka. Cakra melangkah keluar.

Kirana membetulkan posisi kacamata hitamnya di atas meja mendadak menghentikan seluruh gerakannya. Pandangannya terkunci penuh ke tubuh Cakra.

Matanya menatap kemeja katun biru muda berpotongan regular fit itu jatuh dengan pas di atas bahu Cakra yang lebar, menyembunyikan ketegangan otot mentahnya di balik lipatan kain yang rapi dan bersih. Celana chino abu-abu gelap membingkai kakinya dengan proporsi yang tepat, menggantikan celana gantung Juki.

Lihat selengkapnya