BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #16

16. PERJALANAN

Uap tipis mengepul dari permukaan cangkir di atas meja kayu. Sisa embun pagi masih menempel di terpal biru atap warkop, sesekali jatuh di atas tumpukan ban bekas di samping undakan semen.

Juki memutar sendok plastiknya, mengaduk endapan gula di dasar gelas kopi susunya. "Anak-anak operator bilang, orang Kamboja yang kemarin itu sempat ninggalin enkripsi satelit kuno."

"Mau satelit kuno atau pemancar radio rongsok, urusan kita cuma mastiin server bersih sebelum bos Nicholas balik dari Kamboja," Baron menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari pisang goreng yang baru diangkat dari wajan.

Minyak pisang goreng masih mendesis pelan di atas kertas koran lecek. Ia menggigit ujungnya, lalu meniup mulutnya, asap tipis keluar dari sudut bibirnya. "Lagian, utang si Cakra juga belum berkurang serupiah pun minggu ini. Kalau dia gak dapet duit dari cewek kota itu, kita yang bakal repot."

Joni duduk bersandar ke tiang bambu warkop, matanya terpejam, sebatang rokok kretek yang belum disulut terselip di bibirnya.

Deru mesin bertenaga besar yang rendah dan berat memotong keheningan. Baron menghentikan kunyahannya. Pisang goreng di tangannya tertahan di udara.

Juki menurunkan gelas kopinya perlahan, matanya beralih ke arah jalan masuk pangkalan yang berbatu. Joni membuka kelopak matanya pelan, kepalanya terangkat sedikit.

SUV hitam besar perlahan merayap melewati gerbang. Logam bodi Range Rover Autobiography berkilat legam di bawah sinar matahari pagi. Kacanya dilapisi lapisan gelap pekat. Velg besarnya berputar lambat, melindas kerikil, lalu berhenti tepat lima meter di depan undakan warkop.

Mesin mobil mati. Suasana di sekitar warkop mendadak sunyi. Beberapa kuli panggul di gudang seberang berhenti menurunkan gulungan kabel, memandangi SUV itu.

Baron menelan sisa pisang di mulutnya, bahunya menegang. "Lo... lo kenal mobil gituan, Juk?"

Juki menggeleng perlahan, tangannya bergerak turun menyentuh pinggiran saku celananya, jemarinya menggenggam pisau lipat. "Keluaran terbaru itu. Gak mungkin orang daerah sini punya mainan kaya gitu."

Mata Joni menyipit, menatap logo huruf timbul di atas kap mesin mobil. "Terlalu mahal buat daerah sini. Orang polda atau rival lama Nicholas nggak bakal pakai barang se-mencolok ini kalau mau nyari ribut."

Ketiganya terdiam, mengamati permukaan kaca depan mobil memantulkan bayangan atap warkop yang bolong.

Dari arah pintu belakang Cakra berjalan melewati warkop, kepala agak menunduk, tangannya membetulkan letak tali jam tangan kulit barunya di pergelangan tangan kiri. Rambut bagian belakangnya yang kemarin miring terpangkas rapi dengan potongan taper fade.

Kemeja katun biru muda dipilih Kirana membingkai tegak lurus bahunya, dimasukkan ke dalam celana chino abu-abu gelap. Aroma lavender maut milik Baron digantikan wangi maskulin tipis dan segar.

Pisang goreng di tangan Baron jatuh kembali ke atas kertas koran. Juki menaruh gelasnya, kopi susunya tumpah sedikit ke atas meja. Joni menatap Cakra beberapa detik, rokok kreteknya terlepas dari sudut bibir.

"Bos... Bos Cakra?" Baron memajukan kepalanya, matanya berkedip cepat.

Langkah Cakra terhenti di samping meja warkop. "Apaan sih, Bang Baron? Gak usah panggil begitu, merinding saya."

Juki berdiri dari kursinya, berjalan memutari Cakra, memandangi lipatan kain celana barunya. "Gaya lo udah kayak anak bos pemilik dermaga, Cakra. Serius. Kalau lo jalan ke ruang serverNicholas sekarang, anak-anak siber pasti langsung lepas topi semua."

Cakra melihat ke bawah, memandangi ujung sepatunya yang bersih, lalu meraba bagian perutnya. "Emangnya iya ya, Bang? Hasilnya aneh banget ya?"

Joni menegakkan punggungnya, matanya menyisir dari kerah kemeja Cakra hingga ke lipatan lengan baju yang digulung rapi dua lipatan di bawah siku. "Cewek itu yang beliin semuanya?"

"Iya, Bang Jon. Katanya biar saya gak malu-maluin kalau berdiri di samping ibunya nanti," Cakra menggaruk bagian belakang lehernya. "Aneh ya penampilannya?"

Joni mengalihkan pandangannya dari Cakra, melihat ke genangan air hujan yang kecokelatan, tumpukan drum oli bekas yang berkarat, dan dinding batako yang menghitam. "Di badan lo sih enggak. Kelihatan pas." Joni mengambil rokoknya di lantai warkop, lalu menyulut rokoknya. "Tapi kalau lo berdiri di sini, lo kelihatan kayak salah alamat."

Baron menepuk paha besarnya keras. Juki tertawa menunjuk sepatu baru Cakra yang mendadak ketumpahan abu rokok dari udara. Cakra mendengus pelan, wajahnya memerah.

Bzzzzt.

Ponsel di saku celana Cakra bergetar. Ia menariknya keluar, membaca satu baris pesan pendek yang muncul di layar.

Mbak Kirana

Saya sudah sampai. Di depan warkop.

Cakra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. "Yaudah, Bang Joni, Bang Baron, Bang Juki. Saya berangkat dulu ya. Takut jalannya macet di tol luar kota."

Baron menghentikan tawanya, ia mengacungkan jempol bernoda minyak goreng. "Hati-hati lo di sana. Jangan sampai norak pas makan daging mahal."

"Jangan sampai dipakai terus dibuang ya! Jual mahal dikit!" Juki berteriak setengah berbisik dari balik pilar warkop.

"Apaan sih, Bang. Urusan kerjaan ini," Cakra mendengus, melangkah menuruni undakan semen warkop.

Joni mengangkat tangan kanannya setinggi bahu, menahan langkah Cakra. Matanya menatap lurus ke arah kaca gelap Range Rover. "Kalau ada masalah di sana... atau kalau keluarga cewek itu ternyata punya urusan yang gak beres, telepon gue. Gue masih punya dua mobil box kosong kalau lo butuh jemputan darurat."

Cakra mengangguk pelan. "Siap, Bang Jon. Makasih."

Cakra berjalan mendekati pintu penumpang depan SUV hitam besar. Tangannya meraih gagang pintu krom, pintu tebal terbuka tanpa suara. Cakra masuk, menarik pintu hingga tertutup.

Lihat selengkapnya