Lampu gantung kristal di langit-langit ballroom memantulkan ribuan titik cahaya ke atas permukaan lantai marmer yang mengilap. Suara denting garpu perak yang beradu dengan piring porselen berbaur dengan riuh rendah obrolan dari puluhan meja bundar yang memenuhi ruangan. Wangi parfum campuran melati, kayu gaharu, dan aroma anggur putih yang menguap dari gelas-gelas tinggi bercampur di udara.
Langkah Kirana terhenti di batas karpet merah tebal, memisahkan area lobi dengan aula utama. Jemarinya meremas tali tas jinjingnya erat-erat. Matanya menyapu ruangan, ia mangap lambaian tangan dari meja nomor tiga di dekat panggung utama.
Cakra berdiri tegak di sampingnya. Potongan rambut barunya memantulkan cahaya lampu, kemeja katun biru muda pilihan Kirana membingkai bahunya. Celana chino abu-abu gelapnya jatuh lurus, menutup sebagian permukaan sepatu kasualnya yang bersih dari debu jalanan.
Cakra sedikit menundukkan kepalanya, bibirnya hampir tidak bergerak saat ia berbisik. "Mbak."
"Jangan panggil saya mbak disini," jawab Kirana tanpa menoleh.
"Trus apa dong?"
"Sayang, atau Kirana atau Putri. Terserah," suara Kirana rendah.
"Ehem," Cakra merapikan kerah kemejanya. "Oke sayang."
Kirana menoleh, wajahnya memerah.
"Tapi mbak."
"Mbak lagi?"
"Maksud saya, sayang."
"Saya?" mata Kirana memyipit.
"Sebentar sayang," Cakra merapikan kemeja bawahnya. "Kalau aku salah ngomong nanti, terus semuanya berantakan... gimana sayang?"
"Kita pulang," Kirana menoleh kembali ke meja nomor tiga.
Cakra menoleh cepat, matanya melebar sedikit. "Serius?"
"Enggak," Kirana melirik sekilas melalui sudut matanya. "Jangan bikin saya menyesal sudah bayar kamu."
Mulut Cakra terbuka, lalu tertutup saat gaun brokat sewarna salem dengan wangi parfum mawar yang menyengat memotong jalur jalan mereka. Tante Mirna melangkah cepat, sepasang gelang emas di pergelangan tangannya berdentang nyaring saat ia merentangkan kedua tangannya.
"Kiranaaa!"
Pelukan hangat mendarat di bahu Kirana.
Tante Mirna melepas pelukan, ia menoleh ke Cakra, menyisir dari ujung sepatu hingga kerah kemeja.
"Oh," sudut bibir Tante Mirna terangkat. "Ini ya?"
Kirana tersenyun tipis, otot-otot di balik blusnya menegang.
"Kirana ini belum pernah bawa siapa-siapa ke acara keluarga sebelumnya," Tante Mirna melipat tangannya di dada, badannya condong sedikit ke depan. "Biasanya selalu sibuk sama komputer dan urusan kantor yang gak pernah selesai itu."
Cakra maju setengah langkah, ia membungkuk empat puluh lima derajat. "Selamat siang, Tante. Saya Cakra."
Senyuman Tante Mirna melebar, kerutan di sudut matanya melunak. "Wah... bahasanya santun ya. Gak kayak anak-anak kota sekarang."
Mata Kirana melebar, menatap Cakra dari sudut matanya.
Mereka berjalan beriringan menuju meja utama, mengikuti langkah Tante Mirna sambil menceritakan liburan sepupu Kirana ke Eropa.
Seorang pelayan hotel berpakaian rompi hitam melangkah cepat dari arah dapur, membawa nampan perak berisi enam gelas tinggi jus jeruk bertumpuk es. Dari arah berlawanan, seorang anak kecil berusia lima tahun berlari kencang mengejar mainan robot yang meluncur di lantai.
Brak!
Anak itu menabrak pinggul pelayan. Keseimbangan pelayan goyah, nampan peraknya miring, tiga gelas di ujung luar meluncur bebas ke udara, mengarah langsung ke lantai marmer yang keras.
Tubuh Cakra bergerak. Tangannya menjulur ke depan dengan lintasan lurus.