BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #18

18. KOI SEMOK

Sepasang sepatu berhak tinggi milik Kirana terayun pelan, teredam permukaan karpet tebal koridor hotel lantai lima. Ia menarik napas panjang, udara dingin dari ventilasi langit-langit menyapu lehernya. Jemarinya bergerak ke belakang leher, melepas kancing paling atas dengan satu sentikan kasar, lalu mengembuskan napas panjang lewat bibir yang masih menyisakan sisa lipstik tipis.

Lampu-lampu dinding koridor kuning redup, menyinari bayangan tubuh Kirana yang panjang di atas permukaan pelat pintu kamar-kamar yang tertutup rapat. Reuni keluarga besar baru usai setengah jam lalu.

Di ujung koridor Cakra berdiri mematung di balik pagar besi pembatas balkon terbuka. Kedua telapak tangannya bertumpu di pinggiran besi cor, tubuhnya condong ke depan. Ia menatap lurus ke permukaan air kolam renang hotel.

Kirana menghentikan langkahnya tiga meter di belakang punggung Cakra. Bunyi gesekan kain celananya membuat Cakra sedikit menggerakkan bahu.

"Kamu ngapain di sini?" Kirana bertanya, suaranya serak.

Cakra menoleh cepat, bahunya naik satu senti. "Eh. Enggak ngapa-ngapain, Mbak. Cuma... lihat lampu kota aja dari sini. Bagus ternyata kalau dilihat dari atas."

Kirana melangkah maju, berdiri di samping Cakra. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap samping wajah Cakra dari balik helaian rambutnya.

"Kamu kelihatan senang hari ini," suara Kirana datar.

Cakra mengangguk pelan tanpa menoleh. "Iya, Mbak. Seru."

"Saya kira kamu bakal stres atau langsung minta pulang pas Tante Mirna mulai nanya macam-macam," Kirana mendengus pelan, jemarinya mengetuk besi pembatas. "Keluarga saya itu berisik. Kepo. Suka ikut campur urusan orang yang sebenarnya bukan urusan mereka. Biasanya orang luar yang baru pertama kali masuk ke lingkaran itu langsung pasang wajah kapok."

Cakra terdiam. Matanya berkedip lambat, menatap bayangan lampu hias yang bergoyang di atas air. "Menurut saya..." Ia menggeser sedikit posisi berdirinya. "Menurut saya mereka baik, Mbak."

Kirana menoleh, alisnya bertaut. Matanya menyipit. "Baik?"

"Iya," Cakra menoleh, membalas tatapan Kirana. "Mereka peduli banget sama Mbak Kirana."

Kirana menarik sudut bibirnya. "Itu bukan peduli, Cakra. Itu mengganggu namanya. Mereka cuma mau mastiin kalau pilihan hidup saya gak merusak standar gengsi keluarga besar."

Cakra tersenyum tipis. "Saya sih... pengen punya keluarga yang suka ikut campur kayak gitu, Mbak."

Gerakan tangan Kirana berhenti.

"Bapak sama ibu saya meninggal waktu saya umur lima tahun," mata Cakra menatap garis cakrawala kota yang dipenuhi gedung-gedung beton tanpa berkedip.

"Jadi saya gak terlalu ingat wajah mereka kalau gak lihat foto usang di dompet," Cakra melanjutkan, tangan kanannya bergerak masuk ke dalam saku celana. "Sisa di kepala saya cuma... ibu itu suka nyanyi kalau lagi numbuk beras atau masak di dapur belakang. Sama bapak yang suka gendong saya naik ke atas tangki motor tua tiap kali pulang dari pasar. Cuma itu."

Kirana memutar tubuhnya setengah, menghadap ke arah Cakra. Matanya menatap garis rahang Cakra yang mengeras tipis.

"Habis itu saya dibesarkan sama teman bapak," Cakra menarik napas pendek melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan. "Beliau baik banget. Tapi ya... tetap beda, Mbak."

Kirana menatap jemari Cakra yang saling bertautan di atas besi balkon. "Beda gimana?"

Lihat selengkapnya