Pendingin udara di ruang pemantauan siber berdesis, mengembuskan hawa sedingin es berbaur dengan aroma pekat bubuk kopi instan dan sisa mi instan mangkuk dari tempat sampah sudut ruangan. Cahaya biru dari belasan monitor memantulkan garis-garis data pada permukaan meja kerja yang dipenuhi kabel kusut.
Pintu kaca tebal bergeser terbuka dengan bunyi desis hidrolik. Kirana melangkah masuk, membetulkan letak kerah blus hitamnya yang sudah diganti sejak subuh tadi.
Rani menaruh cangkirnya perlahan, kedua matanya menatap ke log enskripsi di sudut bawah layar monitor tiga. Bimo tidak mengubah posisi duduknya, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik mendadak berhenti, menyisakan satu ketukan menggantung. Dedi bersandar pada kursi putarnya, menatap grafik jaringan dengan dahi berkerut, seolah-olah fluktuasi data di sana adalah hal paling krusial di dunia pagi ini.
Suasana ruangan mendadak sunyi. menyisakan dengung kipas prosesor server di pojok belakang.
Kirana melipat kedua tangannya di depan dada, matanya beralih dari kepala Bimo ke bahu Dedi yang tampak kaku. "Kenapa?"
Rani berdeham kecil, meraih kembali gagang cangkirnya tanpa menoleh. "Apa, Bu?"
"Kenapa kalian melihat saya dengan cara seperti itu?" Kirana melangkah mendekati meja kendali utama.
Bimo memutar kursinya setengah lingkaran. "Nggak kok, Komandan. Kita lagi periksa lalu lintas data pangkalan semalam."
"Secara teknis, kita semua di sini profesional," Dedi menyahut dari balik monitor besarnya.
Mata Kirana menyipit, ijung jemarinya mengetuk siku lengannya. "Kalian jelas sedang menahan sesuatu. Rani, geser layarmu."
Rani menelan ludahnya perlahan, lalu melirik Bimo melalui sudut mata.
Jeda satu ketukan berat memenuhi ruangan.
Bimo menegakkan punggung, lalu menirukan nada suara yang rendah. "Eh... ikan koi hotel itu montok ya, Mbak?"
Tawa Dedi meledak, kepalanya terantuk pinggiran pelindung monitor. Rani menyemburkan sisa kopi di mulutnya ke atas tisu meja. Bimo menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, bahunya naik-turun menahan tawa.
Kirana membeku di tempatnya berdiri. Seluruh otot di wajahnya mengeras, rona merah muda merayap cepat dari leher hingga ke ujung telinganya.
"RANI," Kirana menekan setiap huruf nama bawahannya, suaranya bergetar.
Rani buru-buru sudut matanya yang berair, tangannya melambaikan selembar tisu ke udara. "Saya nggak sengaja, Komandan. Sumpah. Jaringannya... jaringannya otomatis tersambung."
"Kamu pasang alat sadap di tas saya?" Kirana melangkah, ujung sepatunya menyentuh kaki meja Rani. Tangannya mencengkeram pinggiran meja komputer hingga kuku jarinya memutih.
"Perintah operasionalnya kan memang mengawasi target selama dua puluh empat jam penuh di luar area pangkalan," suara Rani masih tersendat sisa tawa. "Lagian... earpiece frekuensi pendek saya kemarin nggak sengaja ketinggalan di kantong dalam tas jinjing Komandan pas kita serah terima berkas di mobil."
Bimo memutar kursi putarnya menghadap Kirana, matanya masih berair. "Secara teknis administratif, penjelasan Rani benar, Komandan. Protokol keamanan nomor empat."
"Kalian bertiga... menyadap pembicaraan pribadi saya," jari telunjuk Kirana bergetar tipis mengarah ke mereka satu per satu