Sisa air hujan semalam menggenang di sela-sela batako pangkalan, memantulkan langit pagi Jakarta yang kelabu dan tertutup polusi tipis. Di bawah atap terpal biru warkop, uap putih mengepul dari tiga cangkir kopi hitam yang baru saja dituang dari teko seng. Bau pekat bubuk kopi murah beradu dengan aroma minyak tanah dan besi berkarat dari tumpukan plat baja di gudang belakang.
Baron duduk di atas bangku panjang, satu kaki terlipat, jemarinya menyalin beberapa angka dari nota lecek ke dalam buku saku. Juki sibuk mengunyah pisang goreng yang masih panas. Joni bersandar diam ke tiang bambu, matanya yang setengah terpejam menayap kepulan asap rokoknya sendiri.
Langkah kaki Cakra masuk ke dalam warkop, ia menarik kursi plastik biru tanpa mengeluarkan suara. Kerah kaos oblong hitamnya agak miring, pandangan matanya tertuju lurus ke permukaan meja kayu.
Baron menurunkan pulpennya, melirik sekilas. "Lo sakit.?"
Cakra menggeleng, tangannya bergerak meraih sendok teh lalu memutar-mutar sisa gula di dasar gelas kosong. "Enggak, Bang."
"Muka lo kayak habis ditolak lamaran, asli," Juki menyahut di sela kunyahannya, remah-remah tepung gorengan jatuh ke atas meja. "Kusut bener."
"Saya gak ngelamar siapa-siapa, Bang Juki," suaranya pelan, hampir tertelan deru mesin truk kontainer yang melintas di depan gerbang pangkalan.
Baron terkekeh, melipat buku sakunya. "Berarti ditolak sebelum sempat ngelamar. Klasik itu."
Joni meluruskan posisi duduknya. Rokok kreteknya diturunkan dari belahan bibir. "Ada masalah?"
"Teman kampung, Bang. Kena rampok."
Joni mengangguk lambat, matanya menyipit menembus asap rokok.
Cakra memperbaiki posisi duduknya, menatap Baron lalu beralih ke Joni. "Bang. Saya izin satu hari lagi boleh?"
"Pacarnya minta ketemu lagi ya?" Baron memotong, sudut bibirnya terangkat. "Baru juga semalam pulang dari hotel mewah."
"Pasti itu. Mana tahan si Neng geulis ditinggal lama-lama," Juki menimpali sambil tertawa kecil.
"Bukan, Bang," Cakra memotong pendek, nadanya datar.
Joni mengangkat tangan kirinya. Matanya tertuju ke sepasang mata Cakra. "Pergi aja."
"Kerjaan gimana, Bang?"
"Belum ada," Joni mengetuk abu rokoknya ke tanah. "Kalau Nicholas pulang dari Kamboja nanyain lo, biar gue yang urus."
Cakra berdiri, mengangguk kecil ke arah ketiga pria itu. "Makasih, Bang."
Ia berbalik, melangkah keluar dari area warkop. Joni diam di tempatnya, matanya menatap lurus punggung Cakra yang bergerak menjauh melewati celah-celah tumpukan besi tua. Jemari Joni bergerak pelan, memutar-mutar korek api gasnya yang kosong.
Matahari siang mulai membakar aspal koridor jalur busway yang membentang di sepanjang jalan protokol Jakarta. Bunyi klakson bersahut-sahut berbaur dengan deru mesin bus komuter yang melekat di jalur beton.
Cakra berjalan di atas trotoar yang padat pejalan kaki. Setiap sepuluh meter, pandangan matanya bergerak, melirik pantulan dirinya di kaca besar gedung perkantoran memeriksa area dua puluh meter di belakang punggungnya. Menghitung jumlah pria paruh baya yang berdiri diam di dekat halte bus. Mengamati posisi tangan orang-orang yang berpapasan dengannya.
Langkahnya melambat dua detik, membiarkan seorang pria berjaket kulit melelewatinya, sebelum kembali melangkah dengan kecepatan yang sama.
Udara dingin dari mesin pendingon ruangan menyergap saat pintu kaca ganda gedung perpustakaan kota tertutup rapat di belakang punggung Cakra. Bau khas kertas tua bercampur dengan aroma karpet lembap ruangan. Langkah kaki Cakra teredam di atas lantai ubin kelabu.
Ia melangkah melewati meja resepsionis yang kosong, lalu menaiki anak tangga beton menuju lantai dua. Area arsip makrofilm dan dokumen tua, ia menoleh ke beberapa mahasiswa yang tertidur di sudut ruangan.