Sol sepatu Kirana menekuk saat ia melangkah di atas jalan trotoar. Bau bensin, debu konstruksi, dan aroma sirup melon dari gerobak es di tepi jalan bercampur di udara siang hari.
Rani berjalan disampingnya, tangannya mengibas lembar salinan arsip ke lehernya yang berkeringat, bulatan noda basah di blus birunya melingkar di punggur. "Data dari tahun sembilan puluhan itu harusnya sudah didigitalisasi semua, Komandan. Petugasnya tadi butuh waktu dua puluh menit cuma buat nyari kunci lemari besi di basement. Lembap, bau kecoa, lagi."
Kirana berdehem, matanya lurus menatap arus kendaraan di jalur cepat. Bus Transjakarta melintas, menyemburkan angin panas bercampur deru mesin, dedaunan pohon angsana di tepi trotoar bergoyang.
Langkah Kirana berhenti di undakan tangga terakhir.
Rani, hampir menabrak bahunya, ikut berhenti. "Kenapa, Bu?"
Kirana menatap Cakra di bawah kanopi beton di depan perpustakaan. Kaos oblong hitam melar bergerak pelan mengikuti langkahnya.
Jemari Kirana meremas tali tas jinjingnya erat, buku jarinya memutih.
"Rani," suara Kirana rendah, hampir tenggelam raungan knalpot motor yang berbelok tajam di sudut jalan.
"Hm?" Ia menatap Kirana.
"Lihat jam sebelas. Di depan perpustakaan."
Rani menoleh ke arah pandangan Kirana, kibasan kertas di tangannya berhenti. Lembaran dokumen perlahan turun ke sisi pahanya. Mereka mematung di tengah arus pejalan kaki.
Pria berkemeja katun biru muda yang semalam duduk tenang di tengah interogasi makan malam keluarga besar Veronica berjalan di atas paving blok, menyusuri trotoar depan barisan gedung di sebelah perpustakaan.
Kirana mengikuti langkah Cakra, menjaga jarak tiga puluh lima meter. Ia mengatur langkahnya tetap selaras dengan pejalan kaki lainnya, Rani berjalan setengah langkah di belakang.
Matahari siang memantulkan bayangan lurus di atas permukaan trotoar. Cakra terus berjalan ke arah utara. Langkahnya santai, ayunan lengannya mengikuti langkahnya, kepalanya sesekali tegak menatap papan reklame elektronik besar di jembatan penyebrangan orang.
Mata Kirana menyipit saat Cakra melewati dinding kaca reflektif gedung bank swasta, kepalanya tidak menoleh ke arah ruang pamer mobil di dalam. Sudut matanya bergerak menatap bayangan buram trotoar di belakangnya yang terpantul kaca gelap tersebut. Gerakannya berlangsung beberapa detik.
Dua puluh meter kemudian, halte busway yang padat memaksa kerumunan melambat. Cakra tidak memandangi nomor bus yang mendekat atau papan rute digital. Kepalanya tetap lurus, pupil matanya bergerak menyisir deretan manusia yang berdiri mengantre, menghitung jarak, membaca ruang, dan mencatat pergerakan setiap tangan yang berada di dalam saku jaket.
Saat tiba di titik penyeberangan tanpa lampu lalu lintas, Cakra tidak menatap moncong truk boks yang mengerem. Pandangannya menyapu kaca spion samping kendaraan yang berhenti, menangkap sudut refleksi terjauh dari koridor jalan di belakangnya.
"Komandan," bisik Rani, suaranya hampir tidak terdengar di antara bunyi klakson bersahut-sahutan. "Dia tahu kita ngikutin?"
"Kita masih terlalu jauh. Dan kita bergerak di dalam kerumunan," jawab Kirana tanpa merubah arah pandangannya. Matanya terus merekam bahu Cakra tetap santai meski diapit dua pria berbadan besar yang berjalan berlawanan arah.
"Itu bukan jawaban, Bu," Jemarinya Rani meraba pelan pinggiran saku blusnya.