Udara di dalam hanggar pangkalan besi tua terasa berbaur dengan uap solar dari mesin tiga forklift yang bergerak simultan memindahkan peti-peti kayu tanpa logo. Suara gesekan roda besi kontainer di atas lantai semen yang retak menciptakan dengung konstan, menenggelamkan riuh rendah suara puluhan buruh kasar berbaju rompi oranye. Di sudut dekat gerbang utama, empat orang pria dengan setelan kemeja taktis hitam berdiri tegak, sepasang mata mereka bergerak menyisir setiap truk yang mengantre di luar pembatas jalan.
Baron berjalan bolak-balik di samping tiang baja penyangga, lembaran nota di tangannya digulung ketat membentuk silinder keras. Juki berdiri tegak, matanya melebar, kepalanya terus menoleh ke arah jalan masuk aspal luar.
"Dua puluh menit lagi," seorang supervisor berkaos kerah abu-abu berjalan melewati mereka, memberikan instruksi pendek kepada sekelompok operator komputer yang membawa tas jinjing tahan air. "Pastikan semua jalur kabel di lantai bawah steril. Jangan sampai ada yang melintang pas rombongan masuk."
SUV hitam dengan kaca super gelap meluncur pelan melewati gerbang besi hanggar, diikuti dua mobil serupa di belakangnya. Roda-roda besar mobil berhenti tepat di depan koridor penghubung menuju ruang bawah tanah.
Pintu tengah terbuka. Nicholas melangkah turun. Setelan jas abu-abu tanpa dasi melekat di tubuhnya. Cakaya lampu neon gantung terpantul di rambutnya yang tersisir rapi ke belakang. Langkah kakinya melintasi koridor jalan yang otomatis terbuka, orang-orang di depannya mundur teratur memberikan ruang.
Hawa dingin menyergap kulit begitu pintu kedap suara menuju ruang pemantauan siber bawah tanah terbuka. Di balik dinding kaca tebal, belasan rak server setinggi dua meter berdiri berjajar, lampu indikator biru dan hijau berkedip cepat. Di depannya, barisan operator menatap ribuan baris grafik transaksi real-time yang bergerak naik-turun.
Nicholas berdiri di tengah ruang rapat utama yang dibatasi dinding kaca tebal, matanya menatao dasbor pengelolaan situs judi daring dan aplikasi pinjaman cepat di layar proyektor besar.
"Arus transaksi dari klaster Kamboja stabil di angka delapan belas persen untuk minggu ini, Bos," seorang supervisor pria maju selangkah, menunjuk grafik kuning yang bergetar tipis. "Sistem gateway pembayaran baru yang kita tanam di tiga bank cangkang domestik berhasil mereduksi deteksi siber polda hingga di bawah batas aman."
Nicholas mengangguk sekali, jemarinya mengetuk permukaan meja marmer hitam. "Jalur cadangan untuk aplikasi pinjol ilegal yang sempat diblokir kominfo?"
"Sudah dialihkan ke domain mikro yang baru, sub-sub servernya tersebar di tiga titik acak. Pengguna lama otomatis menerima pembaruan lewat pesan berantai subuh tadi," sahut supervisor lainnya dari sudut meja.
Di luar dinding kaca, Cakra duduk bersama Baron dan Juki. Jarak mereka dipisahkan selembar kaca riben. Matanya menatap siluet Nicholas dari balik kaca.
Nicholas memutar tubuhnya, melangkah keluar dari ruang rapat menuju selasar. Langkah kakinya melambat tepat di samping meja kayu tempat Cakra menaruh gelas kopinya. Mata Nicholas bergerak turun, menatap sepasang mata Cakra, lalu menganggyk kecil.
Cakra ikut mengangguk, menurunkan sedikit dagunya sebelum Nicholas kembali berjalan menjauh dikawal dua pria berbadan tegap.
Juki memajukan tubuhnya, menyenggol lengan Cakra, sisa kopi di gelas bergoyang. "Lo liat nggak tadi?"
"Liat apa, Bang?"
"Bos Nicholas ngangguk ke lo, Cakra! Langsung ke lo, nggak pakai lewat perantara," Baron menepuk lututnya sendiri, wajahnya memerah. "Dua tahun gue di sini, dia cuma pernah ngangguk ke gue sekali, itu pun pas gue berhasil nemuin kabel fiber optik yang putus digigit tikus di gorong-gorong. Ini kemajuan karier buat lo."
Baron mengangguk cepat, sisa pisang goreng di tangannya ditunjuk ke arah koridor kosong tempat Nicholas menghilang. "Asli. Biasanya orang baru cuma dianggap pajangan dinding sama dia."
Dengung konstan mesin forklift mendadak tenggelam oleh suara raungan mesin yang lebih kasar dari arah luar hanggar. Bunyi benturan ban besar dengan pembatas besi pembatas jalan bergetar hingga ke pondasi lantai semen.
Dua unit truk pikap kabin ganda dengan bumper baja tebal menerobos masuk tanpa mengurangi kecepatan, berhenti dengan sentakan keras, bau sangit karet ban terbakar di udara. Para buruh bongkar muat melompat mundur ke arah tumpukan plat besi.
Pintu pengemudi pikap depan terbuka kasar. Baskoro Mahardika turun ke lantai hanggar. "Heh! Lambat bener lo semua bergerak!" Baskoro berteriak keras, suaranya menggelegar memantul di langit-langit seng hanggar. Ia memukul bahu seorang supervisor yang berdiri di dekatnya hingga pria itu terhuyung dua langkah ke belakang. "Pindahin itu peti-peti! Kalau sampai air pasang di pelabuhan naik sebelum barang masuk, gue sendiri yang bakal nyeburin kepala lo ke laut!"
Ia tertawa lepas, beberapa anak buah Nicholas di dekatnya memaksakan senyum kaku sambil buru-buru menarik rantai pengikat kontainer.
Baskoro menendang pintu kayu kantor internal Nicholas hingga terbuka, melangkah masuk tanpa menghilangkan sisa tawa kasarnya.