Udara dingin dari lubang pendingin udara berhembus ke tumpukan casing CPU. Cahaya biru pucat dari belasan monitor setinggi mata menyinark meja kerja. Punggung Bimo duduk melengkung, matanya kemerahan menatap baris-baris kode biner bergulir lambat di layar monitor tiga. Dedi tertidur di sebelahnya, kepala bersandar ke sandaran kursi putar yang dimiringkan maksimal, napasnya teratur, sesekali terganggu dengung kipas server di balik dinding partisi. Rani berdiri dekat dispenser, menunggu aliran air panas mengisi cangkir keramiknya.
Pintu kaca tebal bergeser. Kirana melangkah masuk, membetulkan letak ujung lengan kemeja abu-abu gelapnya. Langkah kakinya teredam di atas lantai karpet kedap suara.
Ia berhenti di depan meja kendali utama, menatap hamparan monitor tanpa benar-benar membaca. Jemarinya bergerak pelan, mengetuk pinggiran meja kayu. Pandangannya lurus ke sudut kosong di selasar antara rak server.
"Komandan?" Rani menaruh teko air.
Kirana tidak bergerak. Matanya masih terpaku pada titik kosong yang sama.
"Komandan?" ulang Rani mengulangi, ia melangkah mendekat, matanya menyipit menatal kelopak mata Kirana tidak berkedip.
Kirana menghentikan ketukan jarinya. "Ya. Ada apa?" Ia menoleh lambat, kedutan kedil di sudut rahang
Rani menurunkan cangkirnya ke meja, matanya menagap guratan lelah di sekitar mata Kirana. "Data log komunikasi malam kemarin sudah ditarik semua sama Bimo. Tapi... Anda belum menyentuh tablet laporan sejak masuk ruangan."
Kirana menarik kursi putar di depan konsol tengah. Jarinya bergerak cepat di atas bantalan sentuh, memutus aliran data lalu lintas pangkalan, menggantinya dengan peta digital kawasan perpustakaan kota. "Bimo, bangunin Dedi. Tarik seluruh rekaman kamera pemantau dalam radius seratus meter dari pintu perpustakaan kota kemarin siang. Mulai dari pukul dua belas hingga pukul empat belas."
Bimo menegakkan punggung, jemarinya bergerak di atas papan ketik, matanya setengah terbuka. Dedi terbangun, mengusap wajahnya lalu memutar kursinya menghadap layar proyektor utama di dinding depan.
Empat kotak video hitam-putih muncul simultan. Halte busway depan perpustakaan di kamera satu. Sudut toko fotokopi seberang jalan di kamera dua. Pintu lobi utama di kamera ketiga. Area penyeberangan zebra cross di kamera keempat.
"Ini menit ketiga belas setelah dia keluar," Kirana menunjuk layar dengan ujung pena digital.
Cakra melangkah santai melewati halte di layar kamera ketiga, lalu berpindah ke kamera satu saat melewati kerumunan orang yang mengantre bus. Detik berikutnya, tubuhnya tertutup badan truk boks yang melintas lambat.
"Tunggu truknya lewat," perintah Kirana.
Truk boks bergerak maju, membuka kembali pandangan kamera satu ke arah trotoar. Area itu hanya dipenuhi oleh tiga wanita paruh baya yang membawa tas belanja dan seorang ojek online.
"Mundur lima detik. Ganti ke kamera dua," suara Kirana merendah.
Layar berganti ke sudut pandang toko fotokopi. Cakra berjalan di belakang papan reklame besar. Sudut pengambilan gambar kamera menyisakan celah selebar dua meter di antara tiang listrik dan tembok pembatas proyek.
"Harusnya dia muncul di celah itu dalam waktu tiga detik berikutnya." Kirana menunjuk layar.
Empat detik. Lima detik. Layar hanya menampilkan debu jalanan yang berputar ditiup angin.
"Blind spot?" Dedi memajukan kepalanya.
"Nggak mungkin. Sudut jangkauan lensa ini tumpang tindih dengan kamera halte sebanyak dua puluh persen. Secara teknis, dia tidak bisa hilang di tengah trotoar terbuka seperti itu tanpa terlihat dari salah satu kamera," Bimo menimpali