BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #24

24. PANCINGAN

Uap solar dingin merayap di antara tumpukan kontainer pengiriman, beradu dengan aroma karat besi tua dan sisa pelumas hidrolik yang pekat. Cahaya sore masuk lewat celah-celah atap gelombang yang, garis-garis siluet debu yang melayang di udara.

Cakra berjalan lambat di belakang Joni, Baron, dan Juki. Langkah kaki mereka teredam permukaan lantai semen berlumpur tipis. Lima pria berdiri mengelilingi meja kayu panjang di ujung ruangan. Selembar peta topografi pesisir utara Jakarta terbuka di atas meja, dihimpit beberapa botol kaca kosong dan bundel manifest pengiriman.

Baskoro berdiri di ujung meja, sebelah tangannya mencengkeram pinggiran kayu, urat lengannya menegang kaku. Tangan lainnya memegang ponsel yang baru saja diturunkan dari telinga. Napasnya berat, mengembuskan aroma tembakau pekat ke udara dingin gudang.

"Citra baru telepon," suara Baskoro rendah. "Polisi sudah ngunci koordinat dermaga tiga sejak dua jam lalu. Unit siber polda baca semua pergerakan logistik darat kita."

Dua anak buah senior yang semula sibuk menandai peta langsung menaruh pulpen mereka.

"Lima puluh ton, Bang," seorang pria berkacamata hitam dengan bekas luka di pelipis maju setengah langkah, jemarinya mengetuk permukaan manifest. "Itu modal triliunan dari konsorsium seberang laut. Kapal pengangkut sudah lepas jangkar di batas luar, sekoci distribusi darat juga sudah mulai manasin mesin. Kalau kita gerak sekarang, kita langsung masuk ke moncong senapan mereka."

"Batalin aja dulu," usul pria di sudut meja, tangannya bergerak di atas kopel senjata. "Kita suruh kapal itu putar balik ke perairan internasional. Rugi biaya sandar lebih baik daripada barangnya disita semua."

"Gila kali! Putar balik bikin kita kehilangan kepercayaan!" Baron menyela, suaranya meninggi satu oktav, lalu merendah saat melihat lirikan mata Baskoro. "Lagian ya, kalau disimpan di gudang transit pelabuhan, risiko terendus anjing pelacak malah naik dua kali lipat dalam semalam."

"Ganti rute darat juga udah telat," Juki menimpali, jari-jarinya bergerak memutar-mutar korek api gas kosong. "Jalur barat sampai timur semuanya sudah dijaga. Polisi siber itu pasti udah masang sensor pelat nomor di setiap lampu merah."

Baskoro mendengus kasar, telapak tangannya memukul permukaan meja, botol-botol kaca di atasnya berdenting nyaring. "Gue gak butuh daftar ketakutan lo semua! Gue butuh jalur aman! Lima puluh ton itu harus nyentuh aspal Jakarta sebelum pagi, atau kepala lo semua yang bakal gue ganti jadi jaminan!"

Cakra berdiri di bawah bayangan, beberapa meter di belakang punggung Baron. Tubuhnya bersandar ke dinding kontainer, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana pendek kargonya. Matanya yang setengah terpejam bergerak lambat, menyisir setiap koordinat merah di peta besar.

"Lo. Bocah."

Suara Baskoro memotong riuh para anak buah senior. Jari telunjuknya mengarah lurus ke arah Cakra. "Kenapa lo diam saja dari tadi? Otak lo ketinggalan di kantor Nicholas?"

Dua orang pengawal di dekat meja terkekeh pelan, menatap kaos oblong hitam Cakra yang melar. "Mungkin dia bingung ngeliat angka triliyunan, Bos. Biasa megang duit seratus ribuan hasil judol."

"Heh, lo ngeremehin dia?" Baron memotong, tubuhnya bergeser sedikit membuka ruang pandang antara Baskoro dan Cakra. "Bocah ini kalau sudah diam biasanya isi kepalanya lagi mikirin sesuatu yang bikin orang lain apes. Sifatnya memang begitu."

"Iya, Bos," Juki ikut menyahut, kepalanya mengangguk cepat.

Mata Baskoro menyipit, mengunci mata Cakra. "Ngomong, Bocah. Jangan cuma jadi pajangan kontainer di tempat gue."

Cakra melangkah pelam keluar dari bayangan dinding kontainer. Ia menggarul belakang lehernya, berhenti tepat di sisi meja, menatap lembaran peta pesisir.

"Kalau polisi sudah tahu jalurnya," suaranya datar. "Kenapa kita harus repot-repot ngalihin jalur?"

Lihat selengkapnya