Ujung sendok kecil mengetuk pinggiran cangkir keramik, bunyi klinting pendek tenggelam di antara desis mesin pembuat espresso. Kirana menatap permukaan kopi di cangkirnya. Lapisan busa di atasnya sudah pecah, lingkaran minyak tipis perlahan mendingin. Langit sore Jakarta masuk lewat jendela kedai. Angin bertiup kencang, memutar dedaunan kering di atas paving blok taman kota yang mulai sepi.
Kirana menarik napas melalui hidung, menahan beberapa detik di dalam dada melepaskannya. Ia menoleh tajuk berita penangkapan sepuluh ton narkoba dari layar tablet kerja di atas meja. Foto-foto penyitaan paket, wajah para kurir tertelungkup di semen dermaga.
"Terlalu bersih."
Ia menoleh ke arah pantulan kaca jendela, menatap lurus wajahnya.
Matanya berbalik ke layar tabletnya, membuka jendela database penduduk. Jempolnya mengetuk nama Cakra Prawira di barisan daftar nama Cakra.
"Kamu siapa Cakra?" Pass foto identitas Cakra terpantul di pupil matanya.
Pintu kaca kafe berbunyi saat didorong dari luar. Kirana mendongak, memasukkan tabletnya ke dalam tas.
Langkah kaki terdengar samar, hampir tersamarkan lagu beraliran bossanova yang mengalun dari pengeras suara langit-langit.
Cakra melangkah masuk, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru, lengannya digulung asal-asalan hingga sebatas siku. Celana jinsnya agak pudar di bagian lutut, sepasang sepatu kasualnya sedikit berdebu di bagian ujung. Ia berhenti dua langkah dari meja, matanya menyapu seisi ruangan lalu menatap mata Kirana.
Ia menarik kursi kayu di seberang meja, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Mata Kirana mengunci pergerakan tangan Cakra, masuk ke dalam saku celananyax lalu menaruh selembar uang dua puluh ribuan lecek di atas meja. Ia merapikan letak kerah kemejanya yang melipat ke dalam.
Cakra hanya tersenyum tipis, matanya berkedip pelan. "Kopinya sudah dingin, Mbak. Mau saya pesankan yang baru? Kebetulan tadi di depan ada tukang pisang aroma yang wangi banget, tapi saya gak enak bawa masuk ke dalam sini."
Bahunya Kirana perlahan turun. Ia mengembuskan napas pendek, menggeser cangkirnya sedikit ke samping. "Nggak usah. Ini saja cukup. Kamu dari pangkalan?"
"Iya, Mbak," Cakra melipat kedua tangan di depan dada. "Tadi habis bantu Bang Baron mindahin beberapa pipa besi tua di gudang belakang. Lumayan, dapet bonus nasi bungkus sama es teh manis plastik."
Jelitan pelipis Kirana mengendur.
"Bang Baron itu kalau ngomong suka gak pakai rem, Mbak," lanjut Cakra, nadanya datar. "Semalam dia ribut sama Juki gara-gara urusan sepele. Juki itu kan orangnya iseng, dia masukin minyak angin ke dalam botol minumnya Bang Baron yang biasa ditaruh di dekat trafo listrik."
Kirana menopang dagunya dengan tangan kiri, matanya menatal bibir Cakra bergerak saat bercerita. "Terus?"
"Ya Bang Baron langsung minum pas habis ngangkat plat besi lima puluh kilo," Cakra terkekeh, pundaknya naik turun. "Mukanya kan sangar ya, langsung berubah jadi ungu, Mbak. Dia teriak-teriak nyari Juki sambil bawa kunci inggris ukuran besar keliling hanggar. Juki-nya sudah lompat ke atas atap kontainer, ngumpet di balik terpal sampai subuh."
Tawa pendek lolos dari bibir Kirana sebelum ia sempat menahannya. Suaranya terdengar di antara denting sendok kafe.
Kirana memperbaiki posisi duduknya, jemarinya memutar-mutar tangkai cangkir yang mulai berembun. "Kamu... sudah berapa lama ikut sama kelompok pangkalan itu, Cakra?"
"Saya lupa, Mbak," Cakra menatap pelayan yang mengantar pesanan ke meja seberang. "Saya kan diculik, trus dipaksa kerja buat bayar utangnya si Bayu."