Lembaran kaca setinggi empat meter membentang tanpa sambungan, memisahkan keheningan ruangan dengan gemerlap Jakarta yang berkerumun di bawah bagai koloni kunang-kunang. Dari lantai teratas residence mewah milik Mahardika Properti, puncak-puncak gedung pencakar langit di kawasan Sudirman terlihat sejajar. Lampu-lampu merah penanda penerbangan di atas menara berkedip lambat.
Satu lampu meja depan kap kuningan menerangi sudut ruangan. Di atas meja, cangkir porselen putih tipis mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma biji kopi yang dipanggang gelap beradu dengan keharuman minyak pelapis kayu.
Pintu ganda berlapis kulit di ujung ruangan terbuka hampir tanpa suara. Seorang staf pria dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah masuk, memegang tablet digital dengan kedua tangannya. Langkah kakinya teredam karpet wol tebal. Ia berhenti tepat tiga langkah di depan meja walnut, membungkuk kecil, lalu menyodorkan layar yang menyala tipis.
Mata Citra masih menatap ke arah luar kaca, memperhatikan sedan hitam bergerak lambat di jalur lambat jalan raya jauh di bawah. Ia menoleh, jemarinya yang ramping bergerak, mengambil tablet di atas mena.
Ia membaca manifest logistik digital yang diperbarui tiga puluh menit lalu. Kolom-kolom angka bergerak pelam, diakhiri dengan grafik lingkaran merah-hijau. Empat puluh ton lolos masuk ke gudang Tangerang dan Bekasi. Sepuluh ton tertahan di Dermaga Tiga sebagai sitaan Direktorat Narkoba.
Ujumg kuku jenpolnya menggeser layar. Ekspresi wajahnya datar. "Siapa yang memberikan bagan pemisahan jalur ini?" suara Citra rendah.
"Cakra, Bu," jawab staf itu, kepalanya menunduk.
Citra mengangkat pandangannya dari permukaan meja, matanya menatap lurus ke arah wajah stafnya.
Staf tersebut mundur selangkah setelah menerima isyarat tangan pendek dari Citra, lalu keluar meninggalkan ruangan dengan keheningan yang sama.
Citra menarik laci meja sebelah kanan, bunyi klik terdengar halus saat kunci biometrik membaca sidik jarinya. Ia mengeluarkan tiga bundel map kuning pudar.
Jemari Citra membuka map pertama. Laporan insiden penjemputan programer yang memiliki code cadangan berusaha kabur. Matanya bergerak ke sudut bawah lembar kronologi, nama Cakea tercatat sebagai orang yang membawa programer itu kembali.
Map kedua terbuka. Masalah penjemputan operator dari Kamboja. Citra menatap nama Cakra di sudut bawah.
"Terlalu sering," suaranya tenggelam di antara dengung AC ruangan yang tipis.
Ia membuka map ketiga, lembar evaluasi personal yang ditandatangani oleh Nicholas Mahardika sendiri.
"Anak ini aneh. Pola pikirnya tidak memiliki struktur akademis, tapi selalu menemukan titik buta dalam sistem."
Citra menutup map. Ia menatap kembali bayangan dirinya di kaca besar. "Saya nggak percaya keberuntungan yang berulang."
Citra menekan tombol kuningan di bawah tepi meja. Pintu ganda kembali terbuka, seorang pria berusia lima puluhan, mengenakan kemeja safari hitam melangkah masuk. Rambutnya yang memutih di bagian pelipis dipotong pendek khas militer lama.
Pria itu berhenti di sisi meja, menunggu tanpa mengeluarkan suara.
"Saya mau data lengkap seseorang," kata Citra, tangannya bergerak merapikan letak cangkir kopi yang sudah dingin.
"Nama?" suara pria itu parau.
"Cakra."
Kepala keamanan itu mengangguk sekali.
"Semua yang ada," tambah Citra, matanya menyipit menatap lampu merah penanda penerbangan di luar gedung kembali berkedip. "Jangan gunakan jalur digital luar. Cari dari orang-orang lama yang bawa masuk."
Pria tua itu mundur dua langkah, lalu membalikkan badannya, hilang di balik pintu kulit yang menutup rapat.
Aroma solar yang pekat mengapung di antara rintik hujan yang membasahi pelataran gudang pelabuhan. Forklift kuning bergerak mundur, bunyi alarm bip-bip terdengar nyaring, membawa tumpukan palet kayu kosong menuju sudut hanggar. Suara rantai besi kapal kargo yang bergesekan dengan dinding dermaga terdengar berat dari luar, beradu dengan deburan ombak laut utara yang kotor.
Baskoro duduk di atas kursi sofa, botol wiski berdiri di atas meja. Tiga orang anak buah seniornya duduk di atas sofa panjang, tawa mereka pecah berulang kali.
"Polisi-polisi itu pasti lagi sibuk fotoin sepuluh ton tepung di kantor polda," salah satu anak buahnya tertawa.