Gelas berkaki tinggi berisi air mineral dengan irisan lemon berembun pelan. Ruangan di sudut lantai dua, terpisah dari aula utama restoran oleh partisi kayu berukir geometri. Lampu gantung dengan kap kaca kuning temaram menggantung tepat di tengah, memancarkan lingkaran cahaya yang memantul lembut pada permukaan sendok perak yang tertata rapi. Di balik jendela kaca besar, arus kendaraan Jalan Senopati merayap seperti aliran lava merah dan putih di bawah rintik gerimis yang membasahi aspal.
Alunan piano instrumental bertempo lambat mengalir dari sudut ruangan, hampir tenggelam oleh desau pendingin udara.
Kirana menarik napas pendek, meluruskan lipatan rok tenun gelapnya. Jemarinya bergerak ke tepi meja, menyentuh sudut buku menu tebal berlapis kulit buaya yang masih tertutup. Di seberangnya, ibu Veronica membalik halaman, kacamata bingkai emas tipis bertengger di pangkal hidungnya.
"Kamu tegang," Jari telunjuknya yang dihiasi cincin batu giok hijau berhenti di atas daftar hidangan utama.
Kirana mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menatap air perlahan meluncur menuruni permukaan kaca. "Nggak, Bu."
"Dari tadi kamu mbaca halaman menu yang sama, Putri. Sudah hampir sepuluh menit." Wanita itu menurunkan kacamata emasnya sedikit, menatap ke arah mata Kirana dari balik lensa. "Menu pembuka di lembar itu nggak akan berubah jadi rendang karena kamu melototinya sejauh itu."
Kirana menutup buku menu di depannya. Ia melepaskan pegangannya, kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan di bawah meja. Ibu jari tangan kanannya menekan kuku telunjuknya sendiri.
Pintu partisi kayu bergeser pelan. Langkah kaki berhenti tepat di batas karpet tebal. Cakra mengenakan kemeja putih polos, lengannya dikancingkan rapi hingga pergelangan tangan. Potongan rambutnya sedikit lebih rapi, beberapa helai jatuh di dahi.
Ia berdiri tegak, memegang dompet kulit kecil di tangan kirinya, matanya menyapu posisi meja.
Cakra melangkah mendekat, membungkuk hormat, sudut kemiringan tubuh yang dalam ke arah ibu Kirana sebelum menarik kursi kayu kosong di sisi meja. "Selamat malam, Bu. Maaf saya agak terlambat, tadi jalur di depan ada pengalihan rute karena perbaikan saluran air."
Ibu Veronica menutup buku menunya perlahan, menaruhnya di samping vas bunga mawar putih kecil, lalu menatap gerakan Cakra yang merapikan lipatan celana bahan gelapnya saat duduk. Sudut mata wanita tua itu menyipit, menyisir tekstur kain kemeja Cakra, baret kecil di kepala sabuk kulitnya, sampai kebersihan kuku-kuku jari tangannya yang bersih.
"Nggak apa-apa, Nak Cakra. Jakarta memang selalu punya alasan untuk bikin orang menunggu," suara ibu Veronica terdengar ringan, matanya mengunci pergerakan wajah Cakra. "Silakan duduk. Putri sudah memesankan air hangat untukmu."
Cakra tersenyum tipis, mengangguk sekali ke arah Kirana yang masih duduk tegak tanpa mengeluarkan suara. "Terima kasih, Sayang."
Wajah Kirana memerah, ia menunduk.
"Ibu panggil Kirana, Putri?" Cakra membuka suara.
"Kirana nama pemberian ayahnya, Putri dari saya."
Cakra mengangguk pelan.
Seorang pelayan berbaju hitam datang membawa baki, menaruh tiga piring hidangan pembuka sup jamur kental dengan potongan roti kering di atasnya. Aroma mentega dan kaldu gurih menguar cepat, memotong keheningan yang sempat menggantung.
"Putri bilang kamu sering turun ke lapangan, Nak Cakra," ibu Kirana membuka percakapan setelah suapan sup pertamanya.
Cakra menaruh sendoknya di tepi mangkuk, tubuhnya condong sedikit ke depan. "Kadang-kadang, Bu."
Bagian paling tidak enak dari kerja lapangan seperti itu apa?" Veronica menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang bertautan. Sepasang matanya menatap Cakra,
Kirana menahan sendoknya di atas mangkuk, matanya melirik ke arah Cakra dari balik bulu matanya.
"Nunggu, Bu," jawab Cakra pendek.
Veronica menghentikan gerakan jemarinya. "Nunggu?"
"Iya," Cakra mengambil gelas air mineralnya. "Orang sering kira bagian paling berat dari tugas di luar itu pas bagian kejar-kejarannya. Tapi biasanya yang paling capek itu nunggu."
Cakra menatap lurus ke dalam manik mata Veronica. "Nunggu informasi. Nunggu target keluar. Nunggu keputusan atasan. Nunggu orang yang nggak datang-datang."
Veronica terdiam. Kepalanya mengangguk lambat.
Kirana melirik Cakra dari sudut matanya. Sedikit.
"Pernah takut?" Veronica melempar pertanyaan kedua.
Otot perut Kirana menegang. Pandangan mata ibunya lurus tertuju ke Cakra. Kirana menahan napas.
"Pernah," Cakra menjawab tanpa jeda ragu.
"Kapan?"
"Waktu pertama kali lihat orang nangis," Cakra menurunkan pandangannya ke arah permukaan meja, jemarinya bergerak menyentuh kaki gelas tanpa memutarnya.