BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #28

28.UNDANGAN

Gerbang besi setinggi empat meter itu berderit berat saat dua pria berjaket longgar mendorongnya ke samping. Ban karet mobil pikap yang ditumpangi Cakra melindas rel baja yang tertanam di aspal, diredam rintik hujan yang mulai menderas. Aroma garam laut yang pekat berbaur dengan bau karat, solar industri, dan kayu palet basah yang membusuk di sudut-sudut pekarangan.

Pikap berhenti di depan Gudang C-3. Tiga unit generator diesel berukuran raksasa menderu di sisi kiri, asap hitam tipis mengepul ke udara malam melalui pipa knalpot vertikal yang bergetar.

Joni mematikan mesin. "Buat kali ini, gue yang ngomong." Ia mendorong pintu, melangkah keluar.

Cakra menyusul dari kursi penumpag. Kemeja putihnya. Ia berjalan di belakang langkah Joni, melewati barisan truk kontainer roda sepuluh yang terparkir rapi tanpa plat nomor. Di bawah kanopi depan gudang, empat pria berdiri mengitari drum besi yang berisi bakaran kayu palet, mata mereka bergerak lambat mengikuti Cakra dari ujung kaki hingga kerah kemeja.

Pintu besi kecil di samping gerbang utama bergulir terbuka dari dalam. Lampu-lampu sorot halogen puti digantung tinggi di rangka baja langit-langit. Belasan meja kayu panjang diatur berjejer di tengah ruangan, dipenuhi oleh mesin penghitung uang otomatis yang terus berderik. Dua puluh orang seragam kerja abu-abu bergerak tanpa suara, mengikat bendel-bendel uang dengan karet gelang sebelum menyusunnya ke dalam koper-koper serat karbon kedap air.

Anak buah baskoro melirik. "Pertama kali ke sini?"

Cakra menoleh. "Iya, Bang."

"Gimana?"

"Gede," jawab Cakra pendek, matanya berkedip dua kali.

Di ujung ruangan, di balik sekat kaca tebal yang buram oleh uap pendingin udara, meja biliar kayu mahoni berdiri di bawah lampu gantung tunggal bergaya klasis.

Baskoro berdiri membelakangi pintu masuk. Ia mengenakan kemeja batik sutra lengan pendek bermotif parang rusak yang longgar. "Datang juga."

Cakra melangkah mendekat, menghentikan jarak tepat tiga langkah di belakang Baskoro. "Diajak Bang Jon, Bos."

Tangan kanan Baskoro memegang stik biliar, tangan kirinya bertumpu di atas laken hijau.

"Sembilan bola di sudut kanan," suara Baskoro serak, diredam suara benturan bola biliar yang nyaring saat ujung stiknya mendorong bola putih. Bola nomor sembilan meluncur mulus, menghantam pembatas karet, lalu jatuh ke dalam kantong rajut.

Baskoro berbalik . Matanya menatap asbak porselen kecil di tepi meja biliar. Ia mengambil ceritunya, memasukkannya ke sela bibir, lalu menghisap dalam.

"Lo wangi, Cakra," Baskoro melangkah mendekati tepi batas lantai semen yang tidak dilapisi karpet. "Bau parfum mahal. Bukan bau minyak pangkalan atau solar sisa genset."

Cakra berdiri diam, tangan tergantung di sisi paha, "Saya baru selesai makan malam sama keluarga teman, Bos."

"Teman?" Baskoro berjalan memutari Cakra. Ujung stik biliar Baskoro sesekali mengetuk lantai semen.

"Dia disewa buat jadi pacar bohongan." Joni menoleh ke arah Baskoro.

Baskoro berhenti tepat di belakang punggung Cakra. "Utang lo ke Nicholas bikin lo jual diri?"

"Bukan gitu." Cakra memotong. "Bos tau kan kalo perempuan udah mau kepala tiga suka ditanyain kapan nikah." Ia menatap mata Baskoro. "Saya cuma kasih waktu tambahan aja buat dia bos."

Baskoro mengangguk. "Gue suka kalo dia udah pake kepalanya." Ia menepuk pundak Cakra, lalu berjalan menuju ruangannya.

"Gue manggil lo kesini bukan buat berdiri diem disitu." Baskoro menoleh sebentar, lalu kembali berjalan.

Cakra menarik napas pendek melalui hidung, ia mengikuti langkah Baskoro.

Baskoro duduk di balik meja ruangannya, membuka kotak cerutu, memotong ujungnya. "Lo tau kenapa gue panggil kesini?"

Cakra menggeleng. "Belum, bos."

Api menyentuh ujung cerutu, bara merah menyala. "Lo takut sama gue?"

Cakra asap tebal berhembus dari mulut Baskoro, menutupi wajahnya. "Harusnya?"

Sudut bibir Baskoro perlahan melebar, "Orang biasanya takut," kata Baskoro, suaranya parau, ia menghisap dalam cerutunya.

Lihat selengkapnya