BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #29

29. BUKAN KENCAN KEDUA

Karet wiper bergerak membelah sisa air di kaca depan mobil pikap. Suara gesekan pengisi kabin setelah mereka melewati pos pemeriksaan terluar faksi pelabuhan. Deretan lampu natrium vertikal memancarkan cahaya kuning kusam menembus kabut tipis dari arah laut.

Joni memegang kemudi dengan kedua tangan. Matanya lurus menatap garis marka jalan yang memudar, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di sela jemari kirinya. Cakra duduk bersandar, menatap lurus ke depan tanpa gerakan selama sepuluh menit sejak mereka meninggalkan gerbang besi Gudang C-3.

"Tadi Bos Baskoro cerita soal Abang," suara Cakra memecah kesunyian.

Jemari Joni mengetuk setir sekali, roda pikap melindas lubang kecil, guncangan pendek di dalam kabin. "Yang mana?"

"Katanya Abang pernah nolak perintah Pak Agus." Cakra menggeser posisi duduknya sedikit. "Katanya orang yang nolak perintah Pak Agus biasanya mati."

Lampu kuning dari papan reklame tua di tepi jalan menyapu wajah Joni.

"Tapi Abang masih hidup," lanjut Cakra.

"Iya," jawab Joni pendek.

Wiper kembali menyapu air, menyisakan garis melengkung yang bersih di depan pandangan. Kabut di luar semakin tebal saat mobil mulai mendekati kawasan industri yang lebih sepi.

"Kalau boleh tahu..." Cakra menjeda kalimatnya, matanya bergerak melirik samping wajah Joni di sebelahnya. "Abang nolak apa?"

Gerakan tangan Joni di kemudi berhenti sekilas. Matanya bergerak lambat, melirik ke arah samping kiri, menatap tanda lahir dekat tulang selangka Cakra sekolah, lalu melempar pandangannya lurus ke arah jalan raya yang basah.

"Gue disuruh bunuh anak umur lima tahun," suara Joni keluar, berat dan kering.

Tidak ada suara radio, tidak ada deru kendaraan lain dari arah berlawanan.

Cakra tidak mengedipkan mata. Pandangannya tetap terkunci pada jalanan di depan yang perlahan tertutup kabut.

"Dan gue nolak," tambah Joni.

"Terus?"

"Ya udah." Joni meraba saku jaket jipnya, mengambil korek api gas lalu memantik ujung rokoknya, bara merah menyala kecil di tengah kegelapan kabin.

Cakra memutar kepalanya ke arah Joni. "Segitu doang?"

"Segitu doang." Joni mengembuskan asap ke sela kaca jendela yang terbuka. Aroma tembakau cengkeh pekat memenuhi ruangan, mendominasi bau solar dan sisa parfum mahal dari Senopati. Lengannya bertumpu di sandaran pintu, matanya berkedip lambat. "Kadang hidup berubah gara-gara satu keputusan bodoh."

Joni menarik napas dalam dari rokoknya, bara merah membesar sesaat sebelum meredup kembali. "Kadang juga gara-gara satu keputusan yang benar."

Mobil terus bergerak maju membelah malam.

Cakra mengalihkan pandangannya ke arah spion samping kiri yang dipenuhi bintik-bintik air. Jauh di belakang, sepasang lampu depan muncul dari balik kelokan tajam.

Mobil itu tetap menjaga jarak sejak mereka melewati pertigaan dermaga lama tiga kilometer lalu.

"Bang," Cakra membuka suara tanpa memindahkan fokus dari cermin spion.

"Hm?"

"Nurunin saya di pasar malem depan ya."

Joni melirik indikator bensin di dasbor, lalu menatap hamparan ruko-ruko tua yang sebagian besar pintunya sudah terkunci rapat di sisi jalan. "Lah?"

"Saya pengen beli ikan."

Joni mengernyitkan dahi, melepaskan rokok dari sela bibirnya.

"Mendadak pengen ikan bakar," tambah Cakra.

"Jam sebelas malam? Bunting lo? " Joni menginjak pedal rem perlahan, laju pikap melambat di dekat deretan warung tenda pinggir jalan yang mulai sepi.

"Ikan malam lebih emosional," Cakra membuka selot pintu mobil sebelum ban benar-benar berhenti berputar di atas pembatas jalan.

Joni menatap wajah Cakra.

"Jangan kangen ya, bentaran doang," Cakra menurunkan satu kakinya ke atas aspal basah.

"Goblok," gumam Joni pendek. Ia kembali menginjak pedal gas begitu pintu pikap tertutup rapat.

Cakra berdiri di tepi trotoar, angin laut malam meniup ujung kemeja putihnya yang lembap. Sedan hitam yang sejak tadi membuntuti mereka melaju terus tanpa mengurangi kecepatan, melewati posisi berdiri Cakra.

Di dalam kabin sedan hitam. Kedua tangan Rani memegang setir, matanya melirik ke arah kaca spion tengah. Di kursi penumpang samping, Kirana duduk tegak.

"Target turun," suara Rani memecah kesunyian.

"Saya lihat," Kirana tidak mengalihkan pandangannya dari kaca samping, menatap siluet Cakra berdiri di dekat tiang lampu jalan yang kusam sebelum bayangannya tenggelam di balik pilar ruko.

"Kita lanjut?" tangan Rani bersiap di atas tuas transmisi.

"Iya." Kirana meluruskan posisi duduknya.

Mereka mengijuri langkah kaki Cakra masuk ke dalam koridor pasar malam darurat yang berdiri di atas lahan kosong bekas stasiun kereta. Riuh musik dangdut koplo yang keluar dari pengeras suara corong milik wahana kincir ria mini. Aroma minyak goreng bekas, asap bakaran jagung, dan bau tanah basah yang terinjak-injak ratusan pasang kaki pengunjung menyelimuti udara.

Rani memarkir sedan di seberang pintu masuk, lalu turun bersama Kirana. Mereka menjaga jarak lima belas meter di belakang Cakra yang bergerak di antara kerumunan ibu-ibu dan anak-anak kecil yang mengitari penjual mainan plastik.

Lihat selengkapnya